Perbedaan dan Persamaan Gangguan Disosiatif dan Sematoform

Pernahkah Anda menonton film yang karakter utamanya punya lebih dari 1 kepribadian? Seperti di film Slide Primal Fear atau Fight club. Dalam psikologi, fenomena ini termasuk sebagai gangguan disosiatif. Ternyata di kehidupan nyata ada orang yang mengalami gangguan disosiatif atau dikenal sebagai multiple disorder.  Nah seperti apa sih gangguan disosiatif itu dan apa perbedaan dan persamaannya dengan gangguan somatoform. Simak penjelasan mengenai gangguan disosiatif dan gangguan somatoform berikut ini.

 

Gangguan Disosiatif

Gangguan disosiatif dapat diartikan sebagai sekelompok gangguan yang ditandai dengan adanya suatu kekacauan atau disosiasi dari fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran. Nah kondisi ini memiliki banyak sebutan diantaranya adalah split disorder, multiple personality disorder atau kepribadian ganda. Individu yang menderita gangguan ini tidak mampu mengingat berbagai peristiwa pribadi yang penting atau selama beberapa saat lupa dengan identitasnya bahkan membentuk identitas baru. 

Gangguan disosiatif merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh trauma parah pada masa kanak-kanak yaitu di umur 3-11 tahun dan remaja di umur 12-18 tahun. Individu ini  biasanya di masa lalu pernah mengalami pengalaman yang menyebabkan trauma ekstrim sehingga terbentuk dua atau lebih kepribadian yang berbeda. 

Coba bayangkan tubuh kita adalah sebuah kapal dan kita adalah kaptennya. Tentu kapal ini sepenuhnya di bawah kendali kita sendiri. Jadi setiap tindakan dan keputusan diambil oleh kita sendiri. Bagi banyak orang, beginilah idealnya menjalankan hidup, namun bayangkan bagaimana jika dalam satu kapal terdapat lebih dari satu Kapten. Masing-masing memiliki tujuannya sendiri dan masing-masing menunggu gilirannya untuk berlayar. Tentunya hidup seperti ini akan terdengar kacau, namun inilah realitanya bagi para penyandang kepribadian ganda atau gangguan disosiatif.

Jenis Gangguan Disosiatif

  1. Dissociative Amnesia 

Amnesia disosiatif adalah hilangnya ingatan kejadian yang baru terjadi. Gejala utamanya adalah kesulitan mengingat informasi penting tentang diri sendiri. Pengidapnya  sulit untuk mengingat informasi tentang diri sendiri atau peristiwa, hingga orang-orang disekitarnya terutama di masa trauma.

  1. Fugue Dissociative

Pada gangguan disosiatif jenis ini, memori yang hilang lebih luas daripada amnesia disosiatif. Individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatannya, mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaan serta memiliki identitas yang baru. Jadi biasanya gangguan itu muncul setelah individu mengalami stres atau konflik yang berat. Contohnya, pertengkaran rumah tangga, kesulitan dalam keuangan, perang atau bencana alam. 

  1. Depersonalization Disorder 

Gangguan ini muncul terjadi saat individu merasa bermimpi atau berada diluar dirinya sambil mengamati tindakan perasaan dan pikiran dari jauh seperti layaknya menonton film. 

  1. Dissociative Identity Disorder 

Gangguan ini disebut sebagai gangguan kepribadian ganda. Seseorang yang mengalami hal ini memiliki dua kepribadian dan dapat berpindah dari satu kepribadian ke kepribadiannya yang lain. Pengidapnya mungkin dapat merasakan adanya orang lain dari dalam dirinya. Di kepalanya seperti dirasuki oleh identitas lainnya.

Gejala Gangguan Disosiatif 

  1. Kehilangan memori yang signifikan pada waktu, orang, dan peristiwa tertentu. 
  2. Pengalaman di luar tubuh seperti merasa seolah-olah kita sedang menonton film tentang diri kita sendiri.
  3. Masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan pikiran untuk bunuh diri.
  4. Mati rasa emosional.
  5. Kehilangan sebagian atau seluruh kontrol terhadap Gerakan tubuh.

Penyebab Gangguan Disosiatif 

Gangguan Disosiatif diperkirakan timbul akibat trauma berat yang dialami berulang kali saat masih kecil seperti pelecehan seksual. Trauma tersebut bisa terbentuk akibat beragam penyiksaan atau pelecehan yang pernah dialami. Contohnya, penyiksaan dan pelecehan seksual, kekerasan fisik, kekerasan secara psychologis, dan ritual-ritual aneh yang menyakiti sang korban. 

Trauma pada masa kanak-kanak adalah kejadian paling berpeluang mengakibatkan gangguan kepribadian seseorang, karena pada masa kanak-kanak itulah kepribadian mulai berkembang dan terbentuk. 

Penanganan Gangguan Disosiatif

  1. Psikoterapi

Dengan menjalani psikoterapi, pengidap gangguan disosiatif dapat mengidentifikasi gejala disosiatif yang mereka alami. Serta dapat menjalani pengobatan pada trauma yang mereka alami.  

  1. Terapi Eye Movement Desensitization and Reprocessing

Terapi ini dilakukan dengan mengulang kembali kejadian di masa lalu yang menyebabkan trauma dengan metode yang aman bagi pasien. Teknik pengobatan ini dilakukan untuk mengatasi mimpi buruk terus menerus dan kilas balik peristiwa traumatis.

  1. Terapi Perilaku Dialektik

Jenis psikoterapi ini dilakukan untuk orang dengan gejala disosiatif disorder yang parah terutama pada mereka yang mengalami pelecehan seksual.

 

Gangguan Somatoform 

Gangguan somatoform merupakan penyakit kelainan psikologis pada seseorang yang ditandai dengan timbulnya sekumpulan keluhan fisik namun tidak tampak saat pemeriksaan fisik. Munculnya gangguan ini biasanya disebabkan karena stres berkepanjangan dan banyak pikiran. Orang yang mengalami gangguan somatoform dapat merasakan berbagai gejala seperti lelah, pusing atau tidak enak badan di bagian tubuh tertentu, namun setelah diperiksa ke dokter mungkin tidak akan ditemukan kelainan fisik. 

Penyebab Gangguan Somatoform 

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab gangguan somatoform. Ada pendapat yang mengatakan bahwa gangguan ini terjadi karena adanya masalah impuls saraf yang mengirim sinyal-sinyal rasa sakit stres dan sensasi yang tidak menyenangkan lainnya ke otak.

Faktor Penyebab Seseorang Beresiko Terkena Gangguan Somatoform 

  1. Genetik 
  2. Riwayat keluarga yang sering mengalami penyakit
  3. Kecenderungan berpikir negatif. 
  4. Lebih mudah merasakan nyeri secara fisik ataupun merasa terganggu secara emosi karena nyeri 
  5. Penyalahgunaan NAPZA 
  6. Pernah mengalami kekerasan fisik atau pelecehan seksual. 

Jenis Gangguan Somatoform

  1. Gangguan Somatisasi 

Gangguan somatisasi adalah keluhan fisik di berbagai bagian tubuh yang disebabkan oleh stress atau beban mental yang berat. Keluhan yang biasa dirasakan mulai dari sakit perut, mual, sakit kepala, kelelahan, masalah seksual hingga masalah seputar menstruasi. Orang yang mengalami gejala gangguan ini biasanya akan lebih emosional terhadap keluhan yang dideritanya.

  1. Gangguan Hipokondriasis 

Gangguan hipokondriasis adalah kondisi ketika seseorang takut bahwa gejala ringan yang dialaminya disebabkan oleh penyakit serius. Misalnya sakit kepala ringan yang disebabkan oleh kurang tidur dianggap sebagai gejala tumor otak.

  1. Gangguan Konversi 

Gangguan konversi adalah kondisi ketika penderita memiliki gejala yang menunjukkan adanya penyakit serius pada sistem saraf namun tidak dapat ditelusuri sebagai penyebabnya dirinya berbagai gejala gangguan konversi diantaranya kejang, mati rasa, pendengaran terganggu, luka atau lumpuh.

  1. Gangguan Dismorfik tubuh 

Gangguan dismorfik tubuh mempunyai kondisi ketika penderitanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk khawatir terkait penampilan tubuhnya. Contohnya, penderita merasa memiliki bentuk daun telinga yang aneh, padahal bentuknya normal.

  1. Gangguan Rasa Sakit 

Gangguan rasa sakit merupakan kondisi ketika seseorang merasa sakit terus-menerus, setelah diperiksa tidak bisa ditemukan. Keluhan pada gangguan rasa sakit hanya sebatas nyeri biasa.

Gejala Gangguan Somatoform 

  1. Kekhawatiran terus-menerus tentang potensi penyakit.
  2. Menyimpulkan sensasi fisik normal sebagai tanda penyakit fisik yang parah.
  3. Merasa bahwa pengobatan medis belum memadai. 
  4. Berulang kali memeriksa tubuh untuk mengecek kelainan. 
  5. Sering mengunjungi perawatan kesehatan.

Penanganan Gangguan Somatoform 

  1. Menjalin hubungan baik antara dokter dan pasien merupakan salah satu kunci dalam penanganan gangguan somatoform tujuan pengobatan pada gangguan somatoform adalah untuk membantu penderita agar mereka dapat menjalani hidup dengan normal dan membantu mengurangi gejala. 
  1. Dianjurkan untuk mengatasi terlebih dahulu masalah kesehatan mental yang mendasarinya. Dokter bisa memberikan resep obat seperti antidepresan terutama bagi penderita yang mengalami kondisi psikologis tertentu seperti depresi atau gangguan cemas. 
  1. Jika masalah dasar tersebut sudah teratasi, pasien bisa perlahan-lahan disadarkan bahwa sebenarnya ia tidak sakit. Dokter bisa menganjurkan fisioterapi, seperti terapi perilaku kognitif agar pasien mengerti alasan utama timbulnya gejala penyakit yang dia rasakan.

Cara Mencegah Gangguan Somatoform 

  1. Jika memiliki masalah dengan kecemasan atau depresi cari bantuan profesional sesegera mungkin.
  2. Berlatih memanajemen stres.
  3. Jika merasa memiliki gangguan somatik, segera dapatkan perawatan dini untuk membantu menghentikan gejala yang lebih lanjut.

Berdasarkan penjelasan di atas, perbedaan gangguan disosiatif dan somatoform ada pada penyebabnya. Gangguan disosiatif disebabkan oleh trauma, sedangkan gangguan somatoform disebabkan oleh impuls saraf akibat stres. Persamaan antara gangguan disosiatif dan somatoform yakni keduanya sama-sama merupakan kelainan psikologis.

Sekian penjelasan mengenai perbedaan dan persamaan gangguan disosiatif dan somatoform. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top