Efek Samping & Jenis-Jenis Vaksin Booster

Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum usai membuat pemerintah terus melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Sudah banyak sekali cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid 19 seperti diadakannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ) di beberapa wilayah darurat, sekolah atau berbagai aktivitas yang dilakukan dari rumah, rajin mencuci tangan, dan pemberian vaksin booster kepada semua masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memutus mata rantai penularan covid-19 di berbagai kalangan.

Hingga saat ini ada lima jenis vaksin booster yang bisa digunakan untuk mencegah masuknya virus covid 19 dan menambah daya imun seseorang. Penggunaan darurat vaksin booster ini sudah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dikeluarkannya izin penggunaan vaksin booster ini adalah sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan kasus pandemi covis-19 di Indonesia, ucap kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito. 

Syarat Penerima Vaksin Booster

Dalam pemberian vaksin booster ini ada beberapa syarat dan kriteria dari penerima, diantaranya:

  1. Berusia di atas 18 tahun
  2. Tinggal di kabupaten/ kota yang memenuhi kriteria capaikan vaksinasi dosis pertama yaitu 70% dan dosis kedua 60 %.
  3. Sudah mendapatkan suntikan vaksinasi dosis kedua minimal 6 bulan.

Pemberian vaksin booster juga akan diprioritaskan untuk lansia dan juga orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Rencananya jenis vaksin yang akan diberikan berupa jenis vaksin yang sama dengan vaksin sebelumnya dan bisa juga dengan jenis yang berbeda. 

Jenis vaksin booster dan efek sampingnya

Saat ini ada lima jenis vaksin covid 19 yang mendapatkan izin dari BPOM RI sebagai vaksin booster. Kelima jenis vaksin booster tersebut tentu memiliki efek samping dan efektivitas yang berbeda-beda. Lalu apa saja efek samping dan efektivitas dari vaksin booster tersebut, simak penjelasannya berikut ini.

Berikut kelima jenis vaksin booster.

1. Vaksin booster CoronaVac

CoronaVac merupakan vaksin covid 19 yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero), dan memanfaatkan virus SARS-Cov-2 inactivates atau nonaktif virus. Bahan baku ini dikembangkan Sinovac yaitu biofarmasi dari Tiongkok. Jenis vaksin booster ini diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap untuk usia 18 tahun. 

BPOM RI menyebutkan bahwa efek samping yang dihasilkan dari penggunaan vaksin booster coronavac adalah rasa nyeri di area suntikan, kemerahan, dan tingkat keparahannya berada di grade 1 dan 2. Selain itu, vaksin jenis ini juga menyebabkan diare dengan kasus 1 sampai 1.5 persen. 

Untuk efektivitas dari vaksin booster coronavac BPOM RI mengatakan kemampuan memicu respon sistem imun menunjukan peningkatan titer-antibodi netralisasi 21 hingga 35 kali. Setelah pemberian vaksin booster coronavac pada subjek dewasa selama 28 hari. 

2. Vaksin booster Pfizer

Pfizer adalah vaksin covid 19 yang berbasis mRNA (messenger RNA), dan diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Jerman, BioNtech. Beberapa efek samping yang dihasilkan dari penggunaan vaksin booster pfizer yaitu berupa nyeri di sekitar area suntikan, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri sendi, dan demam dengan grade 1 hingga 2. 

Sedangkan untuk Imunogenisitas dari vaksin booster ini menunjukan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah satu bulan sebesar 3,3 kali. Sementara untuk efektivitasnya, vaksin pfizer memiliki efektivitas hingga 95 persen, efektivitasnya ini berdasarkan dari data analis perusahaan farmasi asal Amerika Serikat Pfizer bersama dengan perusahaan dari Jerman BioNTech pada November 2020.

3. Vaksin booster AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan vaksin untuk covis 19 yang diproduksi oleh perusahaan AstraZeneca yang berkolaborasi dengan Oxford University. BPOM RI mengeluarkan izin vaksin AstraZeneca untuk booster karena hasil uji toleransi penerimaan dosis lanjutan vaksin yang satu ini ternyata tidak menimbulkan dampak atau kejadian tertentu pasca imunisasi yang berat. 

Hasil uji klinis dari pemberian vaksin AstraZeneca sebagai vaksin booster bersifat ringan dan sedang, hal ini diungkapkan oleh BPOM RI. Ringan lebih besar dari 55% dan sedang mencapai angka 37 %. Sebagian besar data keamanan menunjukan hasil yang bisa ditoleransi adalah baik. 

Efek samping vaksin booster AstraZeneca setelah disuntikan kepada masyarakat umumnya adalah rasa nyeri di area bekas suntikan, kelelahan, sakit kepala, myalgia, malaise, demam, tubuh menggigil, mual dan nyeri pada kaki atau sendi. Sedangkan untuk efektivitasnya, jenis vaksin ini diungkap bisa mencapai 79% efektif untuk melawan dan mencegah keparahan akibat dari gejala covid-19.  BPOM RI menjelaskan bahwa jenis vaksin booster AstraZeneca ini menunjukan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi dari 1.792 menjadi 3.000, jadi sekitar 3,5 kali. 

4. Vaksin booster Moderna

Vaksin Moderna adalah jenis vaksin Covid 19 yang dikembangkan dengan platform mRNA dan diproduksi oleh perusahaan Moderna TX, Inc USA. Ketua BPOM RI Penny mengatakan bahwa Heterologous vaksin Moderna ke vaksin primer adalah AZ (AstraZeneca) dan Johnson dan Johnson dengan dosis setengah. Menunjukan respon imun antibodi netralisasi sebesar 13 kalinya, setelah dosis booster.

Efek samping dari vaksin booster Moderna yang diungkapkan oleh BPOM RI berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, rasa nyeri di area bekas suntikan. FDA Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa efek samping dari vaksin booster ini antara lain sakit di area suntikan, bengkak, kemerahan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, demam, dan ruam merah. Sedangkan untuk efektivitasnya, vaksin booster jenis ini menunjukan respon imun antibodi netralisasi sebesar 13 kalinya setelah pemberian dosis booster.

5. Vaksin booster Zivivax

Jenis vaksin satu ini yang terakhir adalah Zivivax. Dimana Zivivax adalah jenis vaksin covid 29 subunit protein yang dikembangkan oleh Anhui Zhifei Longcom yang berkolaborasi dengan Institut Mikrobiologi. 

Efek samping yang dirasakan  berupa sakit kepala, demam, dan kelelahan. Sedangkan, efektivitasnya vaksin booster jenis ini secara heterolog dengan Zivivax memiliki tingkat neutralizing antibodi terhadap original wuhan sebesar 1,6 kali lebih tinggi bahan terhadap varian delta. 

Itulah tadi beberapa penjelasan mengenai jenis-jenis vaksin booster dan efek samping yang biasanya didapatkan. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top