GRAND DESIGN PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH PERTANIAN LINGKUP BADAN LITBANG PERTANIAN Sutoro (Balai Besar Litbang Biogen, Bogor)

LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan wilayah dengan berbagai “bioekologi spesifik”, yang masing-masing sangat kondusif bagi timbulnya keragaman genetik tanaman, hewan dan mikroba. Keberadaan penduduk di wilayah Indonesia juga sudah sangat lama sehingga memperkaya keragaman genetik spesies yang mereka usahakan.
Kekayaan keragaman genetik spesies yang merupakan kekayaan sumberdaya hayati Nasional perlu dikelola sebaik-baiknya, guna memberikan dukungan keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia. Dengan telah diratifikasinya Convention on Biological Diversity (CBD) dimana diakui hak National Sovereignity Right of Plant Genetic Resources, maka Indonesia wajib melindungi, melestarikan, mengatur, dan mendukung pemanfaatan plasma nutfah secara optimal.
Dengan semakin intensifnya usaha pertanian, varietas-varietas lokal digantikan oleh varietas unggul yang seragam, sehingga mengancam kepunahan ketersediaan plasma nutfah. Upaya pengumpulan varietas lokal tanaman sudah sejak lama dilakukan, namun belum dikelola secara optimal, karena minimnya prasarana pendukung seperti alat pengering, kemasan, cold storage dan lain-lain. Alih fungsi lahan pertanian, ladang, kebun dan pekarangan menjadi fasilitas pemukiman dan industri, juga mengakibatkan kehilangan plasma nutfah berbagai tanaman, hewan dan mikroba pertanian.
Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang belum mempunyai Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional (FAO-UN, 1998). Penanganan plasma nutfah di Indonesia masih tersebar di berbagai unit kerja penelitian (Departemen Pertanian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Perguruan Tinggi) dan belum ada koordinasi. Perundangan dan Peraturan Pemerintah yang dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan plasma nutfah secara terkoordinasi sebenarnya telah tersedia.
Tindakan pengumpulan, penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan plasma nutfah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, apabila Indonesia ingin menyelamatkan kekayaan sumberdaya genetik untuk kemajuan pertanian bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu mengingat bahwa Indonesia belum memiliki kelembagaan Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Nasional, maka pembangunan Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) sebagai wahana koordinasi dan model pengelolaan plasma nutfah nasional di Badan Litbang Pertanian merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak.

STATUS PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH DI LINGKUP BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
Pengelolaan plasma nutfah tanaman, hewan dan mikroba dalam lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang), Balai Penelitian (Balit)/Loka Penelitian (Lolit) Komoditas, Balai Besar, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Pengelolaan yang dilakukan saat ini meliputi: eksplorasi dan koleksi, rejuvenasi, karakterisasi dan evaluasi, dokumentasi, dan pemantauan koleksi. Status mengenai pengelolaan plasma nutfah tahun 2006 diuraikan di bawah ini.

Status Pengelolaan Plasma Nutfah
Eksplorasi dan Introduksi

Indonesia merupakan pusat dan asal keragaman plasma nutfah berbagai jenis tanaman. Tanaman non aslipun telah membentuk keragaman genetik yang besar. Kegiatan eksplorasi maupun introduksi plasma nutfah pertanian di Badan Litbang Pertanian sudah dilakukan sejak tahun 1990-an, namun saat ini tidak merupakan kegiatan prioritas, padahal keanekaragaman genetik dalam plasma nutfah merupakan bahan dasar yang diperlukan dalam program untuk menghasilkan varietas dan hibrida unggul serta berbagai penemuan dan inovasi. Eksplorasi dan pengumpulan plasma nutfah sudah dilakukan hampir di seluruh propinsi di Indonesia, namun hasil yang diperoleh masih jauh dari mencukupi karena terbatasnya dana dan tenaga.

Konservasi
Tanaman Pertanian
Konservasi plasma nutfah pertanian yang dilakukan di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar pada umumnya adalah teknik konservasi ex-situ, karena mudah dalam pelaksanaan dan monitoringnya. Konservasi ex-situ di ruang dingin (cold storage) yang telah dilakukan adalah untuk benih-benih ortodoks, sedangkan yang di lapangan untuk tanaman yang diperbanyak secara vegetatif.
Konservasi ex-situ memerlukan biaya besar di awal untuk infrastruktur maupun prosesnya. Oleh karena itu, untuk mendukung konservasi plasma nutfah tanaman ex-situ perlu ketersediaan infrastruktur yang baik dan lahan yang agroekologi sesuai dengan komoditas yang dikonservasi, termasuk adanya bank gen (gene bank) dan kebun koleksi yang lestari.
Mikroba Pertanian
Konservasi plasma nutfah mikroba dilakukan untuk jangka pendek dan panjang. Pengelolaan plasma nutfah mikroba pertanian di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar belum terkoordinasi secara baik, masih tersebar di masing-masing peneliti. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan faktor sumber daya manusia (SDM), dana, dan fasilitas. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) merupakan salah satu balai yang melakukan pengelolaan plasma nutfah mikroba dan telah menjadi anggota World Federation of Culture Collection yang terdaftar di dalam WDC (World Data Centre).

Karakterisasi dan Evaluasi
Karakterisasi dan evaluasi dilakukan guna mengetahui sifat dan manfaat plasma nutfah untuk mempermudah pemanfaatannya. Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah merupakan salah satu kegiatan rutin plasma nutfah yang dilakukan dalam rangka mengetahui potensi sifat-sifat yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Karakterisasi plasma nutfah tanaman dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi dan agronomi. Evaluasi dilakukan terhadap sifat ketahanan/toleransi terhadap cekaman biotik, abiotik, mutu dan nutrisi. Sedangkan pada mikroba, karakterisasi plasma nutfah dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi, fisiologi, biokimia, molekular, dan potensi/manfaat yang dapat digali.

Pemanfaatan
Keberhasilan program pemuliaan sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatan plasma nutfah. Pemanfaatan plasma nutfah dalam program pemuliaan yang sangat intensif telah dilakukan pada tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini terlihat dari jumlah varietas unggul yang telah dihasilkan. Sementara pada tanaman perkebunan masih terbatas pada tanaman tertentu.

Dokumentasi Plasma Nutfah (Database)
Data hasil eksplorasi dan pengumpulan, rejuvenasi, karakterisasi dan evaluasi dimasukkan ke dalam database untuk mempermudah pengelolaan plasma nutfah, baik tanaman, hewan dan mikroba serta pertukaran informasi maupun material genetiknya. Dalam kaitannya dengan kegiatan dokumentasi data plasma nutfah pertanian, BB-Biogen yang memiliki mandat dalam mengelola plasma nutfah pertanian sejak tahun 2000 telah berperan sebagai koordinator terhadap pengelola plasma nutfah pertanian. Saat ini, kegiatan koordinasi dilakukan melalui program kegiatan Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN).
Masalah dalam Sistem Informasi Manajemen pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar antara lain: ketidakseragaman format sistem dokumentasi dan tidak semua Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar melakukan komputerisasi data plasma nutfah. Baru tahun 2004 dilakukan penyeragaman format sistem dokumentasi data plasma nutfah melalui pembuatan program aplikasi pengelolaan data plasma nutfah berbasis Microsoft Access yang dikenal dengan Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian (SIPNP).

Fasilitas Konservasi Plasma Nutfah

Fasilitas Rejuvenasi dan Evaluasi
Pada sebagian besar Puslit/Balai Komoditas, kegiatan pengelolaan plasma nutfah tidak berdiri sendiri sebagai kelompok kegiatan penelitian, tetapi merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman, kecuali di BB-Biogen. Rejuvenasi dan evaluasi yang dilakukan di kebun percobaan atau rumah kaca secara rutin sebagai bagian dari pengelolaan plasma nutfah.

Fasilitas Prosesing dan Pengeringan Benih
Pada umumnya belum tersedia tempat khusus untuk prosesing benih, karena kegiatan tersebut dilakukan di tempat yang sama dengan kegiatan penelitian yang lain, yaitu di dekat ruang penyimpanan hasil panen. Prosesing benih segera dilakukan setelah biji dipanen dengan menjemur atau mengoven untuk mendapatkan biji dengan kadar air tertentu.

Fasilitas Penyimpanan Benih
Ruang penyimpanan benih ortodoks berupa cold storage atau ruang dingin. Pengoperasian cold storage yang dimiliki Puslit/Balai komoditas dan Balai Besar sangat tergantung pasokan listrik dari PLN. Hanya di BB-Biogen yang memiliki fasilitas genset otomatis dan gen set manual yang dapat menunjang penyimpanan benih apabila pasokan listrik dari PLN mengalami gangguan.

Fasilitas Konservasi Plasma Nutfah Mikroba
Fasilitas konservasi mikroba yang dimiliki oleh Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar yang ada pada umumnya masih kurang memadai, kecuali di Balitvet dan BB-Biogen. Kegiatan konservasi plasma nutfah mikroba umumnya tergabung dalam kegiatan penelitian lain, kecuali di BB-Biogen.

Dana Operasional
Kegiatan pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balai Komoditas dan Balai Besar umumnya belum berdiri sendiri, masih bergabung dengan kegiatan dan pendanaan penelitian lainnya. Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan plasma nutfah pada saat itu umumnya relatif kecil, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan.

Jenis Pelayanan
Jenis pelayanan yang diberikan oleh pengelola plasma nutfah lingkup Badan Litbang antara lain: penyediaan fasilitas penelitian dan jasa informasi, penyediaan dan pertukaran material biologi dengan melalui material transfer agreement (MTA) yang jelas, identifikasi dan penitipan material biologis, dan pelatihan.

Organisasi Pengelolaan Plasma Nutfah

Sumberdaya Manusia
Pada umumnya pengelola plasma nutfah tanaman, hewan dan mikroba merangkap sebagai peneliti di bidang pemuliaan, hama dan penyakit, dan mikrobiologi. Pada umumnya tidak ada pengelola yang berpendidikan khusus (formal) di bidang pengelolaan plasma nutfah. Namun, sebagian besar staf/peneliti tersebut telah mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri, seperti pelatihan konservasi, database, dan pelatihan lain yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah.

Struktur Organisasi
Bentuk organisasi khusus bank gen dalam pengelolaan plasma nutfah di setiap Puslit/Balit komoditas dan BB tidak ada, kecuali di BB Biogen. Umumnya kegiatan pengelolaan plasma nutfah tanaman termasuk di dalam kegiatan di Kelompok Peneliti (Kelti) Pemuliaan, seperti, subkelti Plasma nutfah di Balitpa merupakan bagian dari Kelti Pemuliaan. Kegiatan yang terkait dengan plasma nutfah mikroba pada umumnya dikelola Kelti Proteksi atau Penyakit. Sementara di BB Biogen plasma nutfah mikroba dikelola Kelti Sumberdaya Genetik, sedangkan di Balitvet plasma nutfah mikroba bukan dikelola oleh Kelti tetapi dikelola oleh Balitvet Culture Collection.

SISTEM PENGELOLAAN DAN KELEMBAGAAN PLASMA NUTFAH PERTANIAN

Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Pertanian lingkup Badan Litbang ialah seluruh perangkat kelembagaan plasma nutfah di lingkup Badan Litbang Pertanian dan semua kegiatan pengelolaan teknis, koordinasi yang bersifat sinergis dan partisipatif dalam melestarikan dan memanfaatkan kekayaan plasma nutfah tanaman, ternak dan mikroba pertanian, untuk keperluan penelitian. Sistem yang dimaksud mencakup koordinasi dalam hal perencanaan dan evaluasi, pendanaan, pelaksanaan kegiatan teknis, pembinaan, pertukaran, dan pertanggung-jawaban plasma nutfah. Oleh karena banyaknya unit kerja yang terlibat dan banyaknya jenis tanaman dan mikroba yang dikelola plasma nutfahnya, maka kegiatan pengelolaan plasma nutfah yang sudah berjalan di unit-unit kerja tetap dipertahankan dan diintensifkan, serta harus dilakukan koordinasi untuk hal-hal tersebut. Koordinasi dilakukan oleh Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) dengan arahan Komisi Plasma Nutfah Pertanian (KPNP) lingkup Badan Litbang yang dibentuk berdasarkan Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian.
Agar dapat memperoleh kinerja yang optimal dalam koordinasi pengelolaan plasma nutfah, KPNP lingkup Badan Litbang terdiri atas pejabat dari unit pengelola plasma nutfah yang memiliki otoritas dan berperan aktif dalam melaksanakan tugas memberi arahan koordinasi yang dimaksud. Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) dibangun sebagai sekretariat koordinasi dan salah satu model pengelolaan plasma nutfah nasional.
Hubungan UBGP lingkup Badan Litbang yang berkedudukan di BB-Biogen terhadap unit-unit pengelolaan plasma nutfah di Puslit/Balit tidak bersifat birokrasi struktural, tetapi lebih merupakan hubungan koordinasi fungsional aktif yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut unit-unit pengelola plasma nutfah harus bekerja sama.
Dalam program jangka pendek, pengelolaan plasma nutfah tanaman pertanian di UBGP meliputi plasma nutfah tanaman pangan dan spesies asli tanaman pertanian serta mikroba terpilih yang memiliki keragaman plasma nutfah besar.
Sistem Pengelolaan Plasma Nutfah Pertanian lingkup Badan Litbang mencakup sub-sistem sebagai berikut:
1. Sub-sistem Komisi Plasma Nutfah Pertanian Nasional
2. Sub-sistem Koordinasi Kelembagaan
3. Sub-sistem Teknis Operasional Pengelolaan
Ketiga sub-sistem tersebut harus merupakan pengelompokan fungsi-fungsi sinergis dalam pengelolaan plasma nutfah tanaman pertanian secara keseluruhan.

A. Komisi Plasma Nutfah Pertanian (KPNP) Lingkup Badan Litbang
KPNP Lingkup Badan Litbang terdiri para pejabat senior Puslit dan BB atau pejabat yang ditunjuk dalam Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian.

Tugas KPNP Lingkup Badan Litbang adalah sebagai berikut:
1. Membuat evaluasi hasil kegiatan KPNP
2. Menyampaikan saran kepada Kepala Badan Litbang Pertanian tentang kebijakan dan pengelolaan plasma nutfah di lingkup Badan Litbang Pertanian
3. Memberi pengarahan kepada UBGP
4. Membuat kebijakan teknis pengelolaan plasma nutfah tanaman pertanian lingkup Badan Litbang, bagi unit pengelola plasma nutfah di Puslit/BB.
5. Mengkoordinasikan perencanaan pengelolaan plasma nutfah tahunan di unit-unit pengelola plasma nutfah
6. Merencanakan alokasi pendanaan pengelolaan plasma nutfah.
7. Membina dan memantau pelaksanaan teknis operasional pengelolaan plasma nutfah di unit pengelola.
8. Membina sumberdaya manusia pengelola plasma nutfah dan sarana/fasilitas yang diperlukan melalui Kepala Badan Litbang Pertanian.

KPNP lingkup Badan Litbang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, sedangkan pelaksanaan tugas harian KPNP dilakukan oleh UBGP Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut KPNP lingkup Badan Litbang mengadakan pertemuan bersama dengan pejabat pengelola UBGP, minimal dua kali setahun, melakukan pembinaan ke unit-unit pengelola plasma nutfah setiap saat diperlukan.
Struktur Organisasi KPNP terdiri atas ketua, sekretaris, dan anggota komisi. Ketua Komisi dijabat oleh Kepala BB Biogen, Sekretaris Komisi dijabat oleh Penanggung Jawab Program Pengkayaan, Pengelolaan, Pemanfaatan dan Pelestarian Sumberdaya Genetik Pertanian-BB Biogen yang merangkap sebagai Kepala UBGP dan pelaksana harian Komisi. Sedangkan anggota Komisi adalah pejabat yang diusulkan oleh masing-masing Unit Kerja dan memiliki otoritas dalam melakukan koordinasi pengelolaan plasma nutfah.

B. Koordinasi Kelembagaan
Kerja sama kelembagaan meliputi unit-unit kerja yang mengelola plasma nutfah tanaman, hewan, dan mikroba pertanian di lingkup Badan Litbang Pertanian dan lembaga luar Badan Litbang yang memiliki kegiatan pengelolaan plasma nutfah pertanian. Antar anggota sub-sistem dibangun dan ditumbuhkan kerja sama yang sinergis dan saling menguatkan, dengan tetap memberikan kemandirian unit kerja dalam mengelola plasma nutfah masing-masing.
Susunan Organisasi fungsional koordinasi kelembagaan pengelolaan Plasma Nutfah Pertanian Nasional terlihat pada diagram (Gambar 1).

C. Teknis Operasional Pengelolaan
KPNP di arahkan memiliki mandat dan fungsi seperti Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN) yang ada saat ini. Sub-sistem Teknis Operasional Pengelolaan dilaksanakan oleh unit pengelola plasma nutfah tanaman pertanian di unit-unit kerja lingkup Badan Litbang Pertanian di bawah koordinasi UBGP, berdasarkan rencana kerja yang telah disetujui oleh KPNP lingkup Badan Litbang Pertanian.
Kegiatan teknis operasional tahunan meliputi:
1. Eksplorasi dan pengkayaan koleksi plasma nutfah tanaman, ternak dan mikroba pertanian
2. Koleksi, rejuvenasi dan konservasi
3. Karakterisasi dan evaluasi
4. Database dan sistem informasi
5. Pemanfaatan
6. Pertukaran dan pelayanan plasma nutfah

PENGELOLAAN UNIT BANK GEN PERTANIAN
Dalam kerangka pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah secara luas, UBGP memiliki peran yang sangat strategis. Oleh karena itu, manajemen bank gen haruslah terpusat dalam bentuk bank gen nasional yang memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Menyusun kebijaksanaan pengelolaan plasma nutfah dan sekaligus melaksanakan atas dasar prioritas.
  • Mengelola plasma nutfah tanaman pertanian dalam wawasan jangka panjang secara lestari.
  • Menjadi clearing house dalam kebijakan pengeluaran dan pemasukan plasma nutfah melalui satu pintu.
  • Mengkoordinasi, mengalokasikan dana, sarana dan peralatan, memberikan garis kebijaksanaan, pedoman dan ketentuan teknis terhadap unit pengelolaan plasma nutfah tanaman pertanian lingkup Badan Litbang Pertanian.
  • Membina, mengevaluasi, dan memonitor pelaksanaan di Unit kerja pengelola plasma nutfah, dan bertanggung jawab atas pengelolaan secara optimal.
  • Mengkoordinasi perencanaan eksplorasi, inventarisasi dan koleksi plasma nutfah tanaman,hewan, dan mikroba secara serempak dari berbagai spesies tanaman dan mikroba sekaligus, dari habitat aslinya.
  • Mengkoordinasi dan mengelola informasi yang berasal dari karakterisasi, dan evaluasi plasma nutfah, agar mudah tersedia bagi para pengguna.
  • Melakukan pengelolaan plasma nutfa dan mikroba secara keseluruhan, terutama dari subsistem konservasi jangka panjang, dan reproduksi.
  • Melakukan evaluasi, bioprospeksi, dan penelitian dasar pada tingkat molekular tentang karakter dan manfaat plasma nutfah.
  • Melakukan kerja sama internasional dalam berbagai hal berkaitan dengan pengelolaan plasma nutfah.
  • Memberikan masukan kepada KPNP dalam rangka koordinasi pelaksanaan penelitian dan pelestarian plasma nutfah
  • Melakukan evaluasi perkembangan pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah
  • Mempromosikan pentingnya plasma nutfah dan konservasi plasma nutfah termasuk pemanfaatannya
  • Melaporkan pelaksanaan kegiatannya kepada KPNP
  • Menyampaikan saran kepada KPNP mengenai pelaksanaan dan pengaturan pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah
  • Mengkoordinasikan perencanaan tahunan pengelolaan plasma nutfah ke unit unit pengelola plasma nutfah
  • Membina sumberdaya manusia pengelola plasma nutfah dan sarana/fasilitas yang diperlukan melalui KPNP

Ruang Lingkup Komoditas dan pembagian tugas pengelolaan
Secara lebih terinci jenis komoditas tanaman dan mikroba pertanian yang akan dikelola secara langsung/berkoordinasi dengan Balit Komoditas, Balittanah, dan BB Pasca Panen disajikan pada Tabel 1. Pembagian tugas dari setiap kegiatan pengelolaan plasma nutfah mulai dari UBGP sebagai koordinator dan UPT-UPT sebagai pelaksana disajikan pada Tabel 2.

Organisasi Bank Gen
Struktur organisasi pengelolaan plasma nutfah pada setiap Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar harus dibenahi dan diseragamkan agar lebih memperlancar aktivitas, memudahkan komunikasi dan koordinasi pengelolaan plasma nutfah antar balai/pusat penelitian. Unit Bank Gen Pertanian (UBGP) berfungsi sebagai koordinator berbagai aktivitas pengelolaan plasma nutfah pertanian, sehingga tidak terjadi duplikasi kegiatan, dan tercipta pembagian pekerjaan yang proporsional. Bank gen yang berada di Puslit/Balit Komoditas dan Balai Besar hanya mengerjakan sebagian pekerjaan untuk mendukung dokumentasi UBGP, misalnya karakterisasi dan rejuvenasi material kerja (working collections), dan konservasi tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. UBGP harus memiliki struktur organisasi dan hubungan kerja yang baik dan jelas dengan pengelola plasma nutfah yang berada di Puslit/Balit Komoditas, dan Balai Besar supaya memudahkan koordinasi kegiatan dan pendanaan.

Program Pengelolaan Bank Gen
Fasilitas dan peralatan bank gen untuk pengelolaan plasma nutfah harus dapat menunjang prosedur baku untuk menghasilkan konservasi plasma nutfah yang mendekati ideal. Kegiatan pengelolaan plasma nutfah pertanian yang dilakukan di UBGP meliputi kegiatan operasional yang telah dibakukan, yaitu:

Eksplorasi dan Koleksi
Eksplorasi dan koleksi dilakukan diutamakan pada pulau dan wilayah terpencil yang usaha pertaniannya masih tradisional, pada sentra produksi asli, dan pada komunitas masyarakat asli atau habitat asli sesuai dengan wilayah penyebarannya. Pemilihan jenis plasma nutfah yang dieksplorasi diselaraskan dengan program perbaikan tanaman atau ternak dan program litbang di puslit komoditas. Program eksplorasi dan koleksi dievaluasi setiap tahun bersama KPNP untuk penyesuaian.

Konservasi Plasma Nutfah
Konservasi plasma nutfah pada dasarnya dilakukan dengan dua cara, yaitu: konservasi in-situ dan ex-situ dan akhir-akhir ini berkembang pelestarian lekat lahan (on-farm conservation) untuk tanaman ekonomis. Sesuai dengan kewenangannya, Badan Litbang Pertanian lebih memprioritaskan pelestarian ex-situ. yaitu dengan memindahkan individu dari tempat tumbuh alaminya dan dilestarikan di tempat lain, seperti: di bank gen, kebun koleksi, dan kebun plasma nutfah. Konservasi jangka panjang untuk plasma nutfah yang disimpan dalam bentuk in vitro dipusatkan di UBGP sebagai koleksi dasar (base collection). Sedangkan tanaman tahunan yang dikonservasi di lapang dilakukan di Balit, Lolit atau BPTP yang memiliki kesesuaian agroekologi untuk pertumbuhan plasma nutfah tersebut. Balit komoditas lebih memfokuskan kepada konservasi jangka pendek koleksi kerja (working collection). Pengembangan dan standaridisasi metode konservasi in vitro dilaksanakan oleh UBGP.

Rejuvenasi
Benih-benih hasil eksplorasi dan benih dalam koleksi yang daya tumbuhnya telah menurun direjuvenasi secara bertahap. Rejuvenasi dilakukan agar diperoleh benih yang baik dengan daya tumbuh = 80 % dalam jumlah yang cukup untuk penelitian atau untuk didistribusikan kepada pengguna. Rejuvenasi plasma nutfah dikoordinasikan oleh UBGP dengan melibatkan balit komoditas sebagai pelaksana sesuai dengan mandatnya.

Karakterisasi dan Evaluasi
Karakterisasi dilakukan terhadap sifat-sifat morfologi, agronomi, fisiologi, dan biokimia. Evaluasi terhadap sifat ketahanan/toleransi terhadap cekaman biotik, abiotik, dan mutu gizi dilakukan bekerja sama dengan peneliti dengan bidang keahlian spesifik. Karakterisasi dan evaluasi dilakukan secara konvensional dan non-konvensional/ molekuler di bawah koordinasi UBGP. Karakterisasi konvensional dilakukan oleh balit komoditas sedangkan karakterisasi non-konvensional dilakukan oleh UBGP. Prioritas aspek yang akan dikarakterisasi dan dievaluasi disesuaikan dengan kebutuhan program litbang di masing-masing puslit komoditas.

Dokumentasi Data
Sistem dokumentasi harus dapat memenuhi kebutuhan akses informasi, sebagai media penyimpanan data secara aman, pemeliharaan data, pengolahan data serta pertukaran data. Oleh karena itu, sistem dokumentasi yang baik harus membantu kegiatan perencanaan, operasional serta monitoring pengelolaan plasma nutfah. Sistem dokumentasi berbasis Microsoft Access seperti SIPNP telah tersedia berdasarkan hasil masukan dari balai/pusat penelitian yang mengelola plasma nutfah. Sistem ini telah ditetapkan sebagai program aplikasi baku di balai/pusat penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian. Sistem informasi yang berbasis microsoft access ini harus digunakan bukan hanya untuk dokumentasi sifat-sifat hasil evaluasi, karakterisasi, dan rejuvenasi plasma nutfah yang dikelola, tetapi harus digunakan juga untuk membangun database SDM dan fasilitas UBGP. Data harus diperbarui setiap secara reguler.
Penyebar luasan informasi mengenai UBGP dan kegiatannya dilakukan dengan memanfaatkan website milik BB-Biogen yang sudah ada, yaitu http://www.indobiogen.co.id/ dan http://www.indoplasma.or.id.

Layanan
Jenis-jenis pelayanan yang disediakan UBGP meliputi antara lain:
1. Pelayanan jasa penyimpanan material genetik dengan kualitas dan keamanan yang terjamin
2. Pelayanan untuk mendapatkan kemudahan dalam memperoleh material genetik dan informasi baik pada tingkat fenotipik, genom, lokus maupun gen atau produknya untuk keperluan pengembangan ilmu pengetahuan, industri, dan pertanian sesuai dengan aturan yang berlaku di Badan Litbang Pertanian dengan mengadopsi kesepakatan-kesepakatan global
3. Pelatihan pengelolaan plasma nutfah tanaman dan mikroba pertanian

Pembinaan
Pembinaan oleh UBGP mencakup pembinaan SDM, pelaksanaan kegiatan, pengelolaan sarana dan prasarana, penyusunan database. Pembinaan dilakukan berdasarkan arahan dari KPNP. Pembinaan dilakukan melalui pelatihan atau lokakarya yang dilaksanakan oleh UBGP.

Koordinasi
Koordinasi yang dilakukan mencakup koordinasi penyusunan perencanaan kegiatan, alokasi anggaran, evaluasi kegiatan, promosi, koordinasi pelaksanaan kegiatan, dan koordinasi penyusunan kebijakan teknis pengelolaan plasma nutfah pertanian lingkup Badan Litbang Pertanian. Kegiatan koordinasi dilakukan paling tidak satu tahun sekali

Promosi
Menyusun rencana kegiatan promosi mengenai pentingnya plasma nutfah dan konservasi plasma nutfah, termasuk pemanfaatannya. Rencana kegiatan promosi disusun bersama sama Puslit/Balit komoditas dan BB dengan arahan KPNP. Promosi ditujukan ke unit kerja lingkup Badan Litbang Pertanian, perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya.

Evaluasi
Evaluasi perkembangan pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah dilakukan setiap tahun. Evaluasi dilakukan dengan cara melakukan pertemuan dengan pengelola plasma nutfah disetiap Pusli/Balit komoditas dan BB. Hasil evaluasi digunakan untuk menyusun rencana tahunan pengelolaan plasma nutfah, perbaikan dan arah program pengelolaan plasma nutfah, dan perbaikan kegiatan yang menjadi tugas UBGP. Evaluasi dilakukan dengan pengarahan oleh KPNP

Sumberdaya Manusia
Agar pengelolaan plasma nutfah pertanian di dalam UBGP berjalan dengan baik, setiap komoditas terutama tanaman pangan, hortikultura dan sebagian tanaman perkebunan harus ditangani oleh seorang kurator. Kurator adalah staf atau peneliti yang memiliki pengetahuan di bidang pemuliaan tanaman, ternak atau mikrobiologi serta telah mendapat pendidikan bidang pengelolaan plasma nutfah. Tenaga tersebut harus mengikuti pelatihan di dalam ataupun di luar negeri dalam bidang pengelolaan plasma nutfah, termasuk kemampuan dalam teknik analisis molekuler, fisiologi dan biokimia sehingga dapat memahami teknik karakterisasi plasma nutfah.
Peningkatan kualitas dan kapabilitas sumberdaya manusia mengenai pengelolaan plasma nutfah pertanian harus dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.

Pendanaan
Dana untuk kegiatan pengelolaan plasma nutfah berasal dari dana APBN dan atau kerja sama nasional/internasional yang tidak mengikat. Kegiatan kerja sama dikoordinasi oleh Unit Bank Gen Pertanian (UBGP). Dana kerja sama terutama untuk kegiatan eksplorasi, karakterisasi, evaluasi, penataan data base dan penataan field gene bank. Dana rutin yang diperoleh dari APBN digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan pengelolaan plasma nutfah, mulai dari ekplorasi, karakterisasi, evaluasi, konservasi, pembuatan data base, dan bioprospeksi.
Rencana tahunan yang mencakup anggaran untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta pelaksanaan kegiatan pengelolaan plasma nutfah yang meliputi ekplorasi, karakterisasi, evaluasi, konservasi (base collection) jangka panjang dan menengah, rejuvenasi, pembuatan data base, dan bioprospeksi melalui dana rutin APBN disusun oleh UBGP bersama Puslit/Balit komoditas dan Balai Besar dengan arahan KPNP.

KERJASAMA NASIONAL DAN INTERNASIONAL

Dengan dibangunnya Unit Bank Gen Pertanian kerja sama akan lebih diintensifkan dalam hal-hal sebagai berikut:
(1) Akses memperoleh plasma nutfah dari Pusat Penelitian Pertanian International.
(2) Akses kerja sama bilateral dengan negara yang kaya plasma nutfah.
(3) Akses pertukaran plasma nutfah dengan negara-negara penanda tangan TPGRAF.
(4) Kerja sama dengan IPGRI dan Lembaga Pertanian Internasional.
(5) Penerapan perjanjian internasional tentang Plant Varieties Protection, Cartagena Protocol dan Convention on Biological Diversity (CBD).

RANCANG BANGUN UNIT BANK GEN PERTANIAN

Rancang bangun bank gen akan dibuat sesuai dengan fungsi dan peran bank gen pertanian, yaitu untuk menyimpan dan melestarikan plasma nutfah pertanian. Kelompok fasilitas yang diperlukan yaitu: Konservasi Benih, Konservasi In-vitro Tanaman, Konservasi Mikroba Pertanian, Konservasi Hama dan Serangga Pertanian, dan Konservasi SDG Ternak.
Kawasan yang terpilih untuk lokasi Unit Bank Gen Pertanian terletak di sebelah barat Komplek Gedung BB-Biogen. Di dalam kawasan tersebut akan diisi berbagai fasilitas yang diperlukan, yaitu Fasilitas Penerimaan, Fasilitas Pengelolaan Benih, Fasilitas Penyimpanan, Fasilitas Konservasi In-Vitro Tanaman, Fasilitas Rumah Kaca dan Fasilitas lainnya termasuk antara lain jaringan utilitas, drainase, dan jalan.
Pembangunan Unit Bank Gen Pertanian direncanakan dilakukan dalam 3 tahap yang dimulai tahun 2006 dan selesai tahun 2008. Sesuai dengan ketersediaan dana, pada tahap pertama (tahun 2006) akan dilaksanakan pekerjaan persiapan, pembangunan Fasilitas Penerimaan dan Konservasi In-Vitro Tanaman, serta sebagian utilitas. Selanjutnya pada tahap II (tahun 2007) akan dilakukan pembangunan Fasilitas Pengelolaan Benih dan Penyimpanan, sedangkan pada tahap III (Tahun 2008) akan dilakukan pembangunan Fasilitas Konservasi Mikroba dan penyelesaian seluruh utilitas. Diharapkan pada tahun 2009 Unit Bank Gen Pertanian sudah dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan, sehingga seluruh kegiatan dapat beroperasi penuh.

(Ringkasan makalah disajikan pada forum Konggres I Komisi Daerah (Komda) Plasma Nutfah tanggal 31 Juli -2 Agustus 2006 di Balikpapan, Kalimantan Timur).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top