Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9 Kuningan, Jakarta 12950

6 Rekomendasi Unit Donor Darah (UDD) PMI Modern di Indonesia dengan Fasilitas Apheresis Terlengkap

donor

6 Rekomendasi Unit Donor Darah (UDD) PMI Modern di Indonesia dengan Fasilitas Apheresis Terlengkap

Kebutuhan darah untuk pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah kantong darah yang tersedia, tetapi juga jenis komponen darah yang dibutuhkan pasien. Pada kondisi tertentu, pasien tidak membutuhkan seluruh komponen darah, melainkan hanya trombosit, plasma, atau komponen tertentu lainnya. Karena itu, teknologi apheresis menjadi bagian penting dalam perkembangan pelayanan transfusi darah modern.

Berbeda dari donor darah biasa yang mengambil darah lengkap atau whole blood, prosedur apheresis memungkinkan petugas mengambil komponen darah tertentu menggunakan mesin khusus. Komponen yang tidak diperlukan akan dikembalikan kembali ke tubuh pendonor selama proses berlangsung. Metode ini memungkinkan pengumpulan trombosit atau plasma dalam jumlah yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan klinis.

Di Indonesia, layanan semacam ini dapat ditemukan pada sejumlah Unit Donor Darah (UDD) PMI yang menangani pengambilan, pengolahan, pemeriksaan, penyimpanan, hingga distribusi komponen darah. Pemerintah sendiri mendefinisikan pelayanan apheresis sebagai teknologi medis untuk mengambil salah satu komponen darah melalui alat tertentu dan mengembalikan komponen darah lainnya ke sirkulasi pendonor.

Bagi masyarakat, mahasiswa Teknologi Bank Darah, analis laboratorium, tenaga kesehatan, maupun calon pendonor yang ingin memahami teknologi pelayanan darah, keberadaan fasilitas apheresis menjadi salah satu indikator penting untuk diperhatikan. Berikut enam UDD PMI di Indonesia yang dapat menjadi rujukan untuk melihat perkembangan pelayanan darah berbasis komponen dan teknologi apheresis.

Mengenal Apheresis dalam Pelayanan Donor Darah

Apa yang dimaksud dengan donor apheresis?

Apheresis adalah prosedur pengambilan darah menggunakan mesin yang memisahkan komponen darah berdasarkan jenis yang diperlukan. Setelah komponen target dikumpulkan, komponen darah lain dikembalikan kepada pendonor.

Dalam konteks donor, prosedur ini dapat digunakan untuk memperoleh trombosit melalui trombosit apheresis atau plasma melalui plasma apheresis. Teknisi pelayanan darah harus memahami prinsip, standar, alur, persiapan alat, serta aspek keselamatan donor dalam proses tersebut. Kompetensi pengambilan darah apheresis juga secara khusus tercantum dalam standar profesi Teknisi Pelayanan Darah Kementerian Kesehatan.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Darah pendonor → mesin apheresis → pemisahan komponen → komponen target dikumpulkan → komponen lain dikembalikan ke pendonor.

Teknologi tersebut berbeda dengan donor darah biasa yang mengambil darah lengkap untuk kemudian diproses menjadi berbagai komponen di fasilitas pengolahan darah.

Apheresis dibandingkan donor darah biasa

Pada donor darah konvensional, pendonor memberikan darah lengkap yang biasanya ditampung dalam kantong darah. Darah tersebut kemudian dapat diproses menjadi beberapa komponen seperti Packed Red Cells (PRC), Thrombocyte Concentrate (TC), plasma, atau komponen lainnya sesuai sistem pengolahan yang digunakan.

Sementara itu, pada apheresis, mesin melakukan pemisahan komponen selama proses donor berlangsung. Apabila targetnya adalah trombosit, maka trombosit dikumpulkan sedangkan komponen lain dikembalikan kepada pendonor.

Karena itu, apheresis memiliki karakteristik yang berbeda:

  • 🎯 Komponen lebih spesifik karena donor diarahkan untuk menghasilkan komponen tertentu.
  • 🩸 Tidak mengambil seluruh darah pendonor seperti metode whole blood.
  • ⚙️ Memerlukan mesin apheresis khusus.
  • 👩‍⚕️ Membutuhkan petugas dengan kompetensi pelayanan apheresis.
  • 🧪 Tetap memerlukan proses seleksi donor dan pemeriksaan keamanan darah.
  • ⏱️ Proses pengambilan biasanya lebih lama dibandingkan donor darah biasa.
  • 🔬 Produk yang diperoleh dapat diarahkan untuk kebutuhan transfusi komponen tertentu.

PMI DKI Jakarta menjelaskan bahwa donor trombosit apheresis mengambil trombosit sementara komponen darah lainnya dikembalikan kepada pendonor. PMI DKI juga menjelaskan bahwa satu unit trombosit apheresis dapat mewakili kebutuhan trombosit dari beberapa kantong trombosit konvensional, meskipun penggunaan klinis tetap mengikuti kebutuhan dan keputusan tenaga medis.

Mengapa trombosit apheresis penting?

Trombosit mempunyai peran penting dalam proses pembekuan darah. Pasien dengan trombositopenia atau kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan pembekuan dapat membutuhkan transfusi trombosit.

Dalam pelayanan transfusi modern, ketersediaan trombosit apheresis dapat membantu fasilitas kesehatan memenuhi kebutuhan komponen trombosit secara lebih terarah. Namun, bukan berarti semua pasien otomatis membutuhkan trombosit apheresis. Pemilihan jenis komponen tetap ditentukan berdasarkan indikasi medis, hasil pemeriksaan laboratorium, kondisi pasien, dan keputusan dokter.

Penelitian yang dilakukan di UTD PMI Kota Surabaya pada 2025 dan diterbitkan pada 2026 juga membandingkan kualitas trombosit hasil metode PRP-PC dengan trombosit apheresis. Penelitian tersebut melaporkan perbedaan pada sejumlah parameter kualitas produk, tetapi hasil penelitian lokal tersebut tetap perlu dipahami sebagai data penelitian, bukan sebagai aturan bahwa seluruh pasien harus mendapatkan trombosit apheresis.

1. UDD PMI Pusat dan Jejaring PMI DKI Jakarta – Jakarta

Jakarta merupakan salah satu pusat penting pelayanan darah di Indonesia. Dalam konteks pelayanan PMI, perlu dibedakan antara UDD Pusat PMI yang secara historis menjalankan fungsi pembinaan teknis pelayanan darah dengan UDD PMI DKI Jakarta yang melayani kebutuhan transfusi darah di wilayah DKI.

Secara historis, UTD Pusat PMI mempunyai peran pembinaan, pengawasan, pendidikan, pelatihan, rujukan, dan kegiatan teknis pelayanan darah bagi UTD PMI di berbagai wilayah Indonesia. Sumber PMI Kota Medan mencatat bahwa UTD Pusat PMI sejak 1994 berkantor di Jalan Joe No. 7, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dan menjalankan fungsi pembinaan teknis tersebut.

Sementara itu, layanan donor darah PMI DKI Jakarta berada di Jl. Kramat Raya No. 47, Jakarta Pusat. Situs resmi UDD PMI DKI Jakarta menyediakan informasi khusus mengenai donor trombosit apheresis.

Fasilitas dan teknologi yang menjadi perhatian

Layanan apheresis di Jakarta memiliki pengalaman operasional yang cukup panjang. Pada praktiknya, donor apheresis digunakan untuk memperoleh komponen tertentu, terutama trombosit.

PMI DKI Jakarta juga menyebutkan bahwa pendonor trombosit apheresis menjalani pemeriksaan yang meliputi parameter kesehatan serta pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan terkait Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD).

Untuk aspek keamanan darah, pemeriksaan IMLTD merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan transfusi. Darah dengan hasil uji saring IMLTD reaktif tidak boleh digunakan untuk transfusi menurut standar profesi pelayanan darah Kementerian Kesehatan.

Karena posisi Jakarta sebagai pusat layanan kesehatan dengan kebutuhan transfusi yang tinggi, keberadaan fasilitas apheresis juga penting untuk mendukung kebutuhan rumah sakit terhadap komponen darah tertentu.

📍 Lokasi layanan PMI DKI: Jl. Kramat Raya No. 47, Jakarta Pusat.

Keunggulan utama: pengalaman pelayanan apheresis, fasilitas donor trombosit, serta posisi Jakarta sebagai salah satu pusat jejaring pelayanan darah nasional.

2. UDD PMI Kota Surabaya – Embong Ploso

Unit Transfusi Darah PMI Kota Surabaya

Surabaya menjadi salah satu kota penting dalam sistem pelayanan darah di Jawa Timur. Unit Transfusi Darah PMI Kota Surabaya berlokasi di Jalan Embong Ploso No. 7-15, Surabaya. Situs resmi PMI Kota Surabaya mencantumkan fasilitas tersebut sebagai Unit Transfusi Darah PMI Kota Surabaya dan menyediakan layanan donor darah setiap hari.

Salah satu alasan UDD PMI Surabaya menarik perhatian dalam konteks teknologi apheresis adalah keberadaan pelayanan trombosit apheresis serta aktivitas pengolahan komponen darah.

Penelitian yang melibatkan UTD PMI Kota Surabaya pada 2025 secara khusus mengkaji kualitas trombosit hasil metode PRP-PC dan apheresis. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa apheresis menghasilkan produk dengan karakteristik berbeda dari trombosit yang diperoleh melalui metode PRP-PC pada parameter yang diteliti.

Mengapa Surabaya penting untuk pelayanan komponen darah?

Rumah sakit rujukan di wilayah Surabaya dan Jawa Timur menangani berbagai kasus yang dapat membutuhkan komponen darah secara spesifik. Oleh sebab itu, kemampuan UDD dalam menyediakan komponen seperti TC, PRC, plasma, maupun trombosit apheresis menjadi bagian penting dari sistem pelayanan transfusi.

PMI Surabaya sendiri menjelaskan bahwa UTD PMI Kota Surabaya berlokasi di Embong Ploso dan melayani donor darah secara rutin.

Dari sisi teknologi, fasilitas apheresis memberi pilihan tambahan ketika rumah sakit membutuhkan trombosit dengan karakteristik tertentu dan jumlah yang sesuai dengan indikasi klinis.

📍 Alamat: Jl. Embong Ploso No. 7-15, Surabaya, Jawa Timur.

Keunggulan utama: pelayanan komponen darah, keberadaan trombosit apheresis, serta pengalaman operasional UTD di kota besar Jawa Timur.

3. UDD PMI Kota Bandung – Jl. Aceh

PMI Kota Bandung

Di Jawa Barat, UDD PMI Kota Bandung menjadi salah satu fasilitas pelayanan darah yang penting. Lokasinya berada di Jl. Aceh No. 79, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung. Informasi tersebut tercantum pada situs PMI Bandung.

Bandung memiliki ekosistem pelayanan kesehatan yang besar sehingga kebutuhan terhadap komponen darah juga beragam. Dalam konteks pelayanan apheresis, fasilitas seperti UDD Bandung dapat menjadi bagian penting dalam menyediakan komponen darah spesifik untuk kebutuhan medis.

Pelayanan donor dan komponen darah

Pada layanan donor darah, calon pendonor tetap melalui proses seleksi kesehatan sebelum darah diambil. PMI Bandung mencantumkan persyaratan seperti usia, berat badan, tekanan darah, kadar hemoglobin, dan interval donor.

Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi apheresis tidak berarti prosedur donor menjadi bebas persyaratan. Justru, seleksi donor dan keselamatan donor menjadi bagian penting karena prosedurnya menggunakan peralatan khusus dan membutuhkan pemantauan selama proses.

Apheresis juga membutuhkan sistem pengolahan dan pemeriksaan produk yang terintegrasi. Standar profesi Teknisi Pelayanan Darah Kementerian Kesehatan memasukkan kemampuan pengambilan darah apheresis, skrining hematologi donor apheresis, pemeriksaan IMLTD, pengolahan komponen, hingga pengendalian mutu sebagai bagian kompetensi pelayanan darah.

📍 Alamat: Jl. Aceh No. 79, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114.

Keunggulan utama: lokasi strategis di kota besar, pelayanan donor dan komponen darah, serta menjadi salah satu UDD PMI yang relevan untuk akses layanan apheresis di Jawa Barat.

4. UDD PMI Kota Semarang – Jl. MGR Soegijapranata

PMI Kota Semarang

Untuk wilayah Jawa Tengah, UDD PMI Kota Semarang merupakan salah satu fasilitas yang memiliki layanan komponen darah dan aferesis yang terdokumentasi secara jelas pada kanal resmi PMI.

PMI Kota Semarang mencantumkan alamat UDD di Jl. MGR. Soegijapranata No. 31 dan 35, Kota Semarang. Direktori resmi PMI juga mencantumkan UDD PMI Kota Semarang di alamat tersebut.

Apheresis dan pengolahan komponen

Informasi resmi PMI Kota Semarang secara eksplisit mencantumkan interval donor 14 hari untuk donor aferesis, berbeda dari donor biasa yang dicantumkan 60 hari pada halaman layanan mereka.

Yang lebih menarik, daftar biaya layanan resmi PMI Kota Semarang juga mencantumkan:

  • Pelayanan Darah Tromboferesis
  • Pelayanan TPE atau Therapeutic Plasma Exchange
  • Pemeriksaan laboratorium untuk aferesis
  • Pemeriksaan darah dengan metode NAT
  • Komponen darah leukodepleted dan NAT

Data tersebut menunjukkan bahwa pelayanan berbasis komponen dan aferesis memang menjadi bagian dari sistem pelayanan darah UDD PMI Kota Semarang.

PMI Kota Semarang juga menjelaskan bahwa darah yang diterima pasien telah melewati pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta pemeriksaan HIV, sifilis, hepatitis B, dan hepatitis C.

Mengapa Semarang menarik untuk diperhatikan?

Kombinasi tromboferesis, pemeriksaan NAT, leukodepleted, serta layanan TPE menunjukkan bahwa pelayanan darah di Semarang tidak hanya berorientasi pada donor darah konvensional.

Namun, penting membedakan antara donor apheresis dan TPE. Donor apheresis merupakan pengambilan komponen dari pendonor sehat, sedangkan TPE atau Therapeutic Plasma Exchange merupakan tindakan terapeutik yang dilakukan terhadap pasien berdasarkan indikasi medis. Keduanya sama-sama menggunakan prinsip pemisahan komponen darah, tetapi tujuan klinisnya berbeda.

📍 Alamat: Jl. MGR. Soegijapranata No. 31 dan 35, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Keunggulan utama: layanan tromboferesis yang terdokumentasi, pemeriksaan NAT, pengolahan darah dengan leukodepleted, serta tersedianya TPE.

5. UDD PMI Kota Yogyakarta – Kotagede

PMI Kota Yogyakarta

UDD PMI Kota Yogyakarta merupakan salah satu fasilitas pelayanan darah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs resmi PMI Kota Yogyakarta mencantumkan lokasi layanan di Jl. Tegal Gendu No. 25, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta.

Ketersediaan pelayanan apheresis di UDD ini juga didukung oleh dokumentasi akademik. Penelitian tahun 2024 secara khusus membahas tingkat kepuasan pendonor darah apheresis di UDD PMI Kota Yogyakarta, yang menunjukkan bahwa layanan apheresis memang menjadi bagian dari pelayanan UDD tersebut.

Aktivitas pengolahan komponen darah

Penelitian lain mengenai UDD PMI Kota Yogyakarta membahas pemeriksaan swirling pada komponen Thrombocyte Concentrate (TC) di laboratorium produk rilis. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan evaluasi kualitas komponen trombosit.

Hal tersebut penting karena proses pelayanan darah modern bukan hanya berhenti pada pengambilan darah. Setelah donor dilakukan, produk harus melewati proses pengolahan, pemeriksaan kualitas, penyimpanan, dan distribusi sesuai prosedur.

Untuk layanan apheresis, faktor seperti kondisi pendonor, kualitas komponen, pengawasan selama pengambilan, dan pemeriksaan laboratorium harus diperhatikan secara konsisten.

Studi terhadap 14 pendonor apheresis di UDD PMI Kota Yogyakarta pada Juni 2024 juga menilai beberapa dimensi kepuasan, termasuk bukti fisik, daya tanggap, keandalan, empati, dan jaminan.

📍 Alamat: Jl. Tegal Gendu No. 25, Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY 55172.

Keunggulan utama: memiliki layanan donor apheresis yang terdokumentasi dan aktivitas pengolahan serta pengujian komponen trombosit.

6. UDD PMI Kota Medan – Perintis Kemerdekaan

UDD PMI Kota Medan

Bagi wilayah Sumatera Utara, UDD PMI Kota Medan merupakan salah satu fasilitas penting dalam jaringan pelayanan darah. Direktori resmi PMI mencantumkan UDD PMI Kota Medan di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37, Medan.

Situs PMI Kota Medan juga menyediakan informasi mengenai layanan donor darah dan sejarah perkembangan Unit Transfusi Darah PMI di kota tersebut.

Peran apheresis di Medan

Layanan apheresis memiliki arti penting bagi kota besar seperti Medan karena kebutuhan komponen darah tidak selalu dapat dipenuhi hanya dengan donor whole blood.

Data yang berasal dari penelitian dan dokumentasi terkait UDD PMI Kota Medan menunjukkan adanya pengelolaan komponen seperti Whole Blood, PRC, TC, FFP, dan AHF. Salah satu dokumentasi data stok tahun 2025 bahkan mencatat bahwa TC apheresis tidak selalu disimpan sebagai stok reguler, melainkan dapat diproses berdasarkan permintaan.

Hal ini menjadi poin penting ketika membahas fasilitas apheresis. Memiliki kemampuan apheresis tidak selalu berarti setiap saat tersedia stok trombosit apheresis. Produk darah memiliki masa simpan dan kebutuhan klinis yang berubah-ubah sehingga pengadaan dapat dilakukan sesuai permintaan.

Karena itu, pasien atau keluarga pasien sebaiknya tidak menganggap informasi mengenai keberadaan fasilitas apheresis sebagai jaminan bahwa komponen tertentu selalu tersedia. Konfirmasi langsung kepada UDD atau rumah sakit tetap diperlukan.

📍 Alamat: Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37, Medan, Sumatera Utara.

Keunggulan utama: posisi strategis sebagai fasilitas pelayanan darah di Sumatera Utara dan kemampuan pengelolaan berbagai komponen darah, termasuk dukungan terhadap kebutuhan apheresis.

Bagaimana proses donor apheresis dilakukan?

Secara umum, proses donor apheresis tidak langsung dimulai dengan pemasangan mesin. Pendonor tetap harus melewati tahapan seleksi.

1. Registrasi dan identifikasi

Pendonor melakukan registrasi dan memberikan identitas yang diperlukan. Petugas kemudian memastikan data pendonor dapat ditelusuri.

2. Pemeriksaan awal

Petugas melakukan pemeriksaan seperti:

  • tekanan darah;
  • berat badan;
  • kadar hemoglobin;
  • riwayat kesehatan;
  • kondisi fisik;
  • serta pemeriksaan lain sesuai jenis apheresis dan prosedur UDD.

Untuk jenis apheresis tertentu, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan, misalnya pemeriksaan jumlah trombosit.

3. Seleksi donor

Tahap seleksi sangat penting untuk donor safety sekaligus patient safety. Standar profesi Teknisi Pelayanan Darah menempatkan prinsip keselamatan donor dan pasien sebagai bagian dari kompetensi pelayanan darah.

4. Pengambilan dengan mesin apheresis

Pendonor kemudian dihubungkan dengan mesin. Darah dialirkan ke sistem apheresis untuk dipisahkan.

Jika targetnya trombosit, mesin memisahkan trombosit dari komponen lainnya. Komponen yang tidak menjadi target kemudian dikembalikan kepada pendonor.

5. Pemantauan selama proses

Petugas harus mengawasi kondisi pendonor selama prosedur. Proses apheresis membutuhkan waktu lebih lama dibanding donor darah biasa karena terdapat proses pemisahan komponen.

6. Pemeriksaan dan pengolahan produk

Setelah produk diperoleh, komponen darah tidak langsung diberikan kepada pasien. Produk harus mengikuti sistem pengamanan dan pengolahan darah, termasuk pemeriksaan yang dipersyaratkan.

Kementerian Kesehatan menempatkan uji saring IMLTD, pengolahan darah, penyimpanan, dan distribusi sebagai bagian dari sistem pengamanan pelayanan transfusi.

Apa saja pemeriksaan keamanan darah di UDD PMI?

Keamanan transfusi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari teknologi apheresis.

Darah donor harus melalui pemeriksaan yang ditetapkan dalam sistem pelayanan darah. Pemeriksaan dapat mencakup golongan darah ABO dan Rhesus serta uji saring penyakit infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi.

IMLTD atau Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah menjadi salah satu aspek utama. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mencegah darah yang berisiko ditransfusikan kepada pasien.

Pada sejumlah UDD modern, teknologi NAT atau Nucleic Acid Testing juga digunakan sebagai bagian dari pemeriksaan keamanan darah. PMI Kota Semarang, misalnya, secara resmi mencantumkan layanan darah dengan pemeriksaan NAT dalam daftar pelayanan mereka.

Perlu dipahami bahwa metode seperti NAT dan metode serologi memiliki fungsi dan karakteristik pemeriksaan yang berbeda. Karena itu, istilah “teknologi modern” sebaiknya tidak hanya dinilai dari keberadaan satu mesin, melainkan dari keseluruhan sistem mutu pelayanan darah.

Mengapa fasilitas apheresis tidak bisa dinilai hanya dari jumlah mesinnya?

Ketika masyarakat mendengar istilah “fasilitas apheresis terlengkap”, sering kali yang dibayangkan adalah jumlah mesin yang tersedia. Padahal kualitas pelayanan transfusi darah jauh lebih kompleks.

Beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Ketersediaan mesin apheresis

Mesin merupakan komponen utama, tetapi bukan satu-satunya faktor.

2. Kompetensi petugas

Petugas harus memahami seleksi donor, pengoperasian alat, pemantauan donor, penanganan reaksi donor, serta pengelolaan produk.

3. Pemeriksaan laboratorium

Hasil donor harus diperiksa menggunakan sistem yang memenuhi prosedur dan persyaratan pelayanan darah.

4. Sistem mutu

Pelayanan darah membutuhkan dokumentasi, pengendalian mutu, penelusuran produk, pemeliharaan alat, dan prosedur operasional yang konsisten.

5. Pengolahan komponen

Kemampuan menghasilkan dan mempertahankan kualitas TC, PRC, FFP, dan komponen lain merupakan bagian penting dari sistem pelayanan darah.

6. Penyimpanan

Setiap komponen darah memiliki karakteristik penyimpanan yang berbeda.

7. Distribusi

Produk darah harus dapat dikirimkan ke fasilitas kesehatan dengan tetap mempertahankan kondisi yang dipersyaratkan.

Karena itu, fasilitas apheresis yang baik adalah bagian dari sistem pelayanan darah yang terintegrasi, bukan sekadar ruangan dengan mesin apheresis.

Apheresis bukan pengganti donor darah biasa

Keberadaan apheresis sebaiknya tidak dipahami sebagai pengganti donor darah biasa. Keduanya justru saling melengkapi.

Donor whole blood tetap sangat penting untuk menjaga ketersediaan komponen darah secara umum. Dari darah lengkap tersebut dapat diproses berbagai komponen yang diperlukan pasien.

Sementara itu, donor apheresis memberikan kemampuan untuk mendapatkan komponen tertentu secara lebih spesifik.

Kebutuhan tersebut dapat muncul pada berbagai kondisi klinis, misalnya pasien yang membutuhkan trombosit dalam jumlah tertentu. Namun keputusan penggunaan komponen darah selalu berada pada ranah medis dan harus berdasarkan kebutuhan pasien.

Hal yang perlu diperhatikan calon pendonor apheresis

Sebelum melakukan donor apheresis, calon pendonor sebaiknya:

  • 🩸 memastikan kondisi tubuh sehat;
  • 🥗 makan dan minum dengan cukup sesuai petunjuk petugas;
  • 😴 beristirahat dengan baik;
  • 🧪 mengikuti seluruh pemeriksaan yang diminta;
  • 📋 memberikan informasi kesehatan dengan jujur;
  • 💉 memberi tahu petugas mengenai obat atau kondisi kesehatan tertentu;
  • ⏱️ memahami bahwa proses dapat berlangsung lebih lama daripada donor biasa;
  • 📞 melakukan konfirmasi terlebih dahulu mengenai ketersediaan layanan apheresis.

Syarat donor dapat berbeda menurut jenis donor dan kebijakan UDD. Sebagai contoh, PMI Kota Semarang mencantumkan interval donor 14 hari untuk donor aferesis pada informasi layanan mereka, sementara PMI DKI Jakarta menjelaskan interval minimal 15 hari untuk donor trombosit apheresis.

Artinya, calon pendonor sebaiknya mengikuti ketentuan UDD tempat akan melakukan donor, bukan menggunakan satu angka interval untuk semua fasilitas.

Memilih UDD PMI untuk kebutuhan apheresis

Jika tujuan Anda adalah mencari fasilitas apheresis, beberapa faktor berikut bisa dijadikan pertimbangan:

Faktor Hal yang perlu diperhatikan
Jenis apheresis Trombosit, plasma, atau tindakan lain
Ketersediaan layanan Apakah layanan tersedia setiap hari atau berdasarkan jadwal
Sistem laboratorium Pemeriksaan IMLTD, hematologi, NAT, dan pemeriksaan lain
Pengolahan komponen Kemampuan menghasilkan TC, PRC, FFP, dan komponen lainnya
Kompetensi petugas Pengalaman dan kompetensi tenaga pelayanan darah
Sistem mutu SOP, QC, dokumentasi, pemeliharaan alat, dan penelusuran
Ketersediaan produk Stok dapat berubah sehingga perlu dikonfirmasi
Akses rumah sakit Kedekatan dengan jejaring rumah sakit pengguna darah

Yang tidak kalah penting adalah memastikan informasi terbaru langsung dari UDD. Jadwal donor apheresis, persyaratan, jenis komponen, dan ketersediaan produk dapat berubah sesuai kebutuhan pelayanan.

Perbandingan 6 UDD PMI dengan Fasilitas Apheresis

Berikut gambaran perbandingan berdasarkan informasi layanan dan dokumentasi yang tersedia. Istilah “unggulan” pada tabel digunakan untuk menunjukkan karakteristik layanan yang menonjol, bukan peringkat resmi PMI.

UDD PMI Lokasi Fasilitas/layanan terkait Karakteristik teknologi apheresis
UDD PMI DKI Jakarta Jl. Kramat Raya No. 47, Jakarta Pusat Donor darah dan donor trombosit apheresis Layanan trombosit apheresis dengan sistem seleksi dan pemeriksaan donor
UDD PMI Kota Surabaya Jl. Embong Ploso No. 7-15, Surabaya Donor dan pengolahan komponen darah Trombosit apheresis serta aktivitas pengolahan komponen darah
UDD PMI Kota Bandung Jl. Aceh No. 79, Bandung Donor darah dan pelayanan komponen darah Mendukung pelayanan komponen spesifik dan akses apheresis di Jawa Barat
UDD PMI Kota Semarang Jl. MGR. Soegijapranata No. 31 dan 35 Tromboferesis, NAT, leukodepleted, TPE Salah satu layanan yang secara terbuka mencantumkan tromboferesis dan pemeriksaan NAT
UDD PMI Kota Yogyakarta Jl. Tegal Gendu No. 25, Kotagede Donor, TC, dan donor apheresis Layanan apheresis terdokumentasi serta pengujian kualitas komponen trombosit
UDD PMI Kota Medan Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37, Medan Donor dan berbagai komponen darah Mendukung pengelolaan komponen darah dan kebutuhan apheresis di Sumatera Utara

Dari keenam fasilitas tersebut, PMI DKI Jakarta memiliki dokumentasi resmi yang cukup jelas mengenai layanan donor trombosit apheresis. PMI Kota Semarang juga memiliki dokumentasi publik yang cukup rinci mengenai tromboferesis, pemeriksaan NAT, leukodepleted, dan TPE. Sementara itu, keberadaan layanan apheresis di Yogyakarta didukung oleh dokumentasi penelitian akademik yang secara khusus membahas pendonor apheresis di UDD PMI Kota Yogyakarta.

Untuk Surabaya, penelitian terbaru mengenai kualitas trombosit apheresis memberikan bukti bahwa teknologi tersebut telah digunakan dalam aktivitas pelayanan dan penelitian di UTD PMI Kota Surabaya.

Sementara Bandung dan Medan merupakan fasilitas penting dalam jejaring pelayanan darah regional dengan lokasi dan layanan donor yang terdokumentasi melalui kanal PMI masing-masing.

Pada akhirnya, tidak tepat jika satu UDD langsung disebut sebagai “paling lengkap” hanya berdasarkan jumlah mesin atau satu jenis pemeriksaan. Kelengkapan pelayanan darah merupakan gabungan antara teknologi apheresis, laboratorium, pengolahan komponen, sistem mutu, kompetensi tenaga, penyimpanan, dan kemampuan distribusi.

Bagi calon pendonor, pilihan terbaik secara praktis adalah UDD yang memang menyediakan jenis apheresis yang dibutuhkan, memenuhi persyaratan donor, memiliki jadwal layanan yang sesuai, dan dapat mengonfirmasi kebutuhan komponen pada saat donor.

Dengan semakin berkembangnya teknologi pelayanan darah di Indonesia, apheresis menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung sistem transfusi berbasis komponen. Kehadirannya bukan hanya memberikan pilihan baru bagi pendonor, tetapi juga membantu fasilitas kesehatan mendapatkan komponen darah tertentu secara lebih terarah. Pada saat yang sama, seluruh proses tetap harus berjalan berdasarkan prinsip keselamatan pendonor, keamanan produk darah, pengendalian mutu, dan kebutuhan klinis pasien.