Sejarah pembentukan
Visi dan misi
Program kerja dan kepengurusan
Agenda kegiatan
Gallery kegiatan
Berita dan artikel
Glossary istilah
Daftar deskriptor standar
Publikasi
Database plasma nutfah
Forum diskusi
Link
Buku tamu
Polling pendapat
Kontak kami
Webmaster
Klik untuk memulai pencarian
 

Primordia Komisi Pelestarian dan Pemanfaatan Plasma Nutfah

Pada mulanya kegiatan penyelamatan plasma nutfah tumbuhan diawali dengan sarasehan para pemulia tanaman pada tahun 1974 yang sepakat membentuk kelompok kerja (pokja) yang diketuai oleh Dr. Setijati D. Sastrapradja, Direktur Lembaga Biologi Nasional – LIPI Bogor. Anggota Kelompok Kerja ini terdiri dari Pemulia Tanaman dari Pusat Penelitian Hortikultura (Hendro Sunarjono), Pusat Penelitian Tanaman Pangan (Sutjipto KR), Pusat Penelitian Tanaman Industri (Ir. Auzy Hamid), Pusat Penelitian Hutan (Dr. I G. M. Tantera), Pusat Penelitian Herbarium – LIPI (Dr. Mien A. Rivai) dan Dr. S. Adisoemarto, Fakultas Pertanian – IPB (Dr. Fred Rumawas), dan BP Gula (Drs. Sunyoto). Pemikiran semula ialah menyelamatkan koleksi-koleksi tanaman yang telah ada dalam bentuk penyimpanan benih dan penyelamatan kebun koleksi. Hal ini disebabkan ada dua macam tanaman, yakni:1) tanaman yang benihnya dapat disimpan dalam waktu lama (ortodok), dan 2) tanaman yang benihnya cepat mati, atau tidak dapat disimpan lama (rekalcitrans). Pokja berusaha untuk menyelamatkan plasma nutfah tanaman melalui dua cara, yaitu: Secara in-situ pada habitat aslinya dalam suaka alam / cagar alam, dan secara ex-situ dalam bentuk penyimpanan benih dalam suhu rendah dan RH rendah, serta penyelamatan dalam kebun-kebun koleksi buatan.

Gene Bank (dalam bentuk benih) Pokja mendapat sumbangan dari Luar Negeri melalui Kebun Raya Bogor (LIPI). Cold Storage Unit ini ditempatkan di Lembaga Biologi Nasional (LBN) – LIPI, di Gedung Kusnoto. Sedangkan kebun-kebun koleksi diserahkan kepada masing-masing pemulianya di Instansi / Puslit yang bersangkutan. Pokja mengadakan pertemuan secara periodik setiap tiga bulan sekali untuk membahas perkembangan koleksi plasma nutfah masing-masing. Tempat pertemuan dilakukan secara bergilir, di LBN – LIPI atau di tempat lainnya, sesuai kesepakatan anggota Pokja. Pokja belum mempunyai dana, oleh karena itu masing-masing anggota Pokja mencari dana sendiri dari sumber lain

Perkembangan Pokja Plasma Nutfah

Pemikiran penyelamatan plasma nutfah berkembang untuk membentuk wadah dibawah LIPI atau dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pada tahun 1976 dimulai dibentuk Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional atas persetujuan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Ir. Sadikin Sumintawikarta) dalam dalam pertemuan di Pasar Minggu.

Adapun susunan anggota Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional pada saat itu adalah:

Ketua: Dr. B.H. Siwie
Sekretaris: Dr. Setijati D. Sastrapradja, dibantu oleh Dr. Soenartono Adisoemarto
Anggota:

  1. Dr. Mien A. Rivai (LBN).
  2. Dr. Fred Rumawas (IPB).
  3. Drs. Sunyoto (BP Gula).
  4. Ir. Auzy Hamid (LPTI – Bogor)
  5. Drs. Hendro Sunarjono (LPH – Pasarminggu).
  6. Ir. Sukarya (BPP – Bogor).
  7. Dr. I.G.M. Tantera (BP Hutan).
  8. Dr. Made Sri Prana (LBN – Sekretaris Bukan Anggota).

Pada saat itu Pusat Penelitian Kehutanan yang berada di Bogor masih dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Departemen Pertanian. Setelah pertemuan di Pasar Minggu, Komisi Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) memperoleh anggaran melalui Proyek Penelitian Hutan (Sub Proyek Pelestarian Plasma Nutfah yang dipimpin oleh Pak Suwanda). Penanggung jawab proyek adalah Kepala Puslit Hutan, Ir. Sunaryo, dan Pemimpin Proyek Ir. Nunung. Sejak itu, tahun 1976/1977, KPPN mendapat dana, walaupun masih kecil. Prioritas kegiatan KPPN disesuaikan dengan kebutuhan yang mendesak.

Kegiatan utama Komisi pada waktu itu adalah mencari kebun koleksi buah-buahan dan memindahkan koleksi buah-buahan dari Pasar Minggu. Hal ini karena kebun koleksi buah-buahan di Pasar Minggu digusur menjadi kompleks Departemen Pertanian, Kompleks Kebun Bibit Dinas Pertanian DKI Jakarta).

Bapak Herbagiandono, staf peneliti, Kepala Laboratorium Teknologi Cabang Lembaga Penelitian Hortikultura Lembang, mengusulkan kebun koleksi dialihkan ke bekas Kebun Karet PTP XIII di Paseh, Subang (±145 ha), yang disetujui oleh Komisi Pelestarian Plasma Nutfah. Kebun Karet ini dihibahkan oleh PTP XIII dengan catatan pengalihan secara administratif diselesaikan dengan Badan Pertanahan Nasional. Komisi Pelestarian Plasma Nutfah dan Bapak RM Santoso mewakili Kepala Lembaga Penelitian Hortikultura mengadakan peninjauan bersama. Setelah diadakan serah terima tanah, dilakukan pemetaan udara oleh Badan Survei Udara di Lembang, Bandung. Bapak Herbagiandono diminta menetapkan batas-batas kebun bersama PTP XIII. Kini kebun telah berstatus sertifikat atas nama Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional, Departemen Pertanian.

KPPNN juga berhasil memperoleh Kebun Koleksi Kelapa di Bone-Bone, Sulawesi Selatan dan menanam hasil eksplorasi plasma nutfah kelapa di kebun baru seluas 25 hektar.Pertimbangan pembentukan Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional pada waktu itu antara lain:

  1. Memudahkan hubungan secara institusi resmi, dan dapat bergabung dengan Badan Pelestarian Plasma Nutfah Internasional (Badan Dunia) yakni International Board for Plant Genetic Resources (IBPGR) yang berkedudukan di Roma.
  2. Wadah organisasi resmi akan memudahkan mendapatkan dana, baik dari dalam, maupun Luar Negeri.
  3. Memudahkan pemantauan dan pertanggungjawaban kegiatan pengumpulan dan pelestariannya (eksplorasi dan konservasi).
  4. Banyak sekali jenis tanaman khas asli Indonesia, terutama buah-buahan tropik yang mulai tergusur karena perluasan pemukiman dan kota yang mengalihkan fungsi lahan pertanian dan hutan. Dari hasil survai / pemantauan, beberapa ahli mengatakan telah ada tanda “lampu merah” yang mendekati erosi sumberdaya genetik di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
  5. Sering terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, maupun di lain tempat mengakibatkan pengikisan dan pemusnahan berbagai jenis sumberdaya hayati yang belum dimanfaatkan, hingga dikhawatirkan akan terjadi kepunahan. Demikian pula penebangan hutan yang tidak terkendali dan tidak selektif akan mempercepat kepunahan biota yang ada disitu;
  6. Penggunaan secara besar-besaran kayu cendana, rotan dll. tanpa memperhatikan peremajaannya;
  7. Perluasan daerah pemukiman yang menuntut penggunaan areal habitat komoditas plasma nutfah penting, (Pasar Minggu, Parung, Srondol, dan Ujung Berung);
  8. Pemakaian jenis / varietas unggul baru, hingga varietas yang telah ada (varietas unggul lama) terabaikan keberadaannya.

Pada bulan Juni 2001, melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 341/Kpts/KP.150/6/2001 dibentuk Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN). Untuk selanjutnya sejak tanggal 29 Desember 2006 Komisi Nasional Plasma Nutfah (KNPN) secara resmi berubah nama menjadi Komisi Nasional Sumber Daya Genetik (KNSDG) berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 734/Kpts/OT.140/12/2006.

Kembali ke atas

 
Ke halaman utamaProfil KNPNGallery kegiatan KNPNBerita & artikelGlossary istilahPublikasiJejaring kerjaForum diskusiLink ke website terkaitKontak kamiTim webmaster


( Terakhir diperbaharui pada 04.06.2012 10:43 )