Rancang Tindak Nasional SDG Tanaman Pangan dan Pertanian

Sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian (SDGTPP) merupakan landasan hayati dari ketahanan pangan, yang langsung atau tidak langsung menopang kesejahteraan setiap manusia di muka bumi ini. SDGTPP mencakup keanekaragaman bahan genetik yang terdapat dalam varietas tradisional maupun varietas unggul yang ditanam petani serta kerabat liar tanaman budidaya dan spesies tanaman liar yang dapat digunakan untuk pangan, pakan, serat, pakaian, bangunan, energi dan sebagainya. SDGTPP tersebut merupakan tetua yang dapat digunakan untuk merakit varietas unggul baru melalui kegiatan pemuliaan tanaman atau melalui pemanfaatan bioteknologi. SDGTPP, yang langsung digunakan oleh petani atau pemulia, merupakan simpanan adaptabilitas genetik yang dapat digunakan untuk menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan yang berbahaya serta perubahan ekonomi. Erosi terhadap SDGTPP dapat mendatangkan ancaman yang serius terhadap ketahanan pangan dalam jangka panjang, hal ini sering kurang diperhatikan. Dengan demikian pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP secara berkelanjutan sebagai perlindungan terhadap perubahan yang tidak diharapkan di masa depan perlu dilakukan.

Saat ini tingkat pertambahan penduduk 3,7% per tahun, bisa diperkirakan berapa jumlah penduduk Indonesia 50 tahun mendatang. Untuk itu diperlukan perbaikan varietas yang terpercaya dan dapat meningkatkan hasil secara berkelanjutan guna mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP secara berkelanjutan merupakan kunci perbaikan dalam menghadapi perubahan iklim, untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian, yang pada gilirannya akan mendukung pembangunan nasional, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan.

Menyadari akan pentingnya SDGTPP, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) telah melaporkan hasil revisi status SDGTPP dunia, di mana di dalamnya termasuk status SDGTPP Indonesia. Laporan tersebut menggambarkan situasi terkini SDGTPP pada tingkat dunia maupun tingkat nasional, dan mengidentifikasi apa yang diperlukan untuk menjamin pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan SDGTPP, yang oleh karenanya meletakkan dasar untuk rancang tindak nasional. Dengan demikian status SDGTPP dan Rancang Tindak Nasional merupakan komponen dari sistem pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP yang harus direncanakan dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan, dengan tetap mengacu pada Rancang Tindak Global.

B. Ruang Lingkup

B.1. Pelestarian in situ yang meliputi inventarisasi SDGTPP, dukungan terhadap perbaikan dan pengelolaan lekat lahan SDGTPP, dan mendorong pelestarian in situ kerabat liar tanaman budidaya untuk produksi pangan.

B.2. Pelestarian ex situ dengan mempertahankan koleksi ex situ, meregenerasikan asesi ex situ, mendukung pengumpulan SDGTPP secara terencana dan bertarget, serta memperluas kegiatan pelestarian ex situ.

B.3. Pemanfaatan SDGTPP dengan memperluas karakterisasi, evaluasi dan jumlah koleksi untuk memfasilitasi pemanfaatan, meningkatkan usaha-usaha perbaikan dan perluasan dasar genetik, mendorong pertanian berkelanjutan melalui diversifikasi produksi tanaman dan perluasan keanekaragaman tanaman, mendorong pengembangan dan pemasaran tanaman dan spesies yang kurang termanfaatkan (underutilized crops), mendukung produksi dan distribusi benih, serta mengembangkan pasar-pasar baru untuk varietas lokal dan aneka ragam produk pangan.

B.4. Pembangunan kapasitas dan kelembagaan melalui penyusunan program nasional yang kuat, mendorong jejaring kerja SDGTPP, membangun sistem informasi yang komprihensif untuk SDGTPP, membangun sistem pemantauan dan peringatan dini untuk SDGTPP, perbaikan pendidikan dan pelatihan, serta mendorong peningkatan kesadaran masyarakat tentang nilai dan arti penting pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP.

B.5. Implementasi dan pendanaan yang memerlukan perencanaan yang rinci dan terarah tentang sumber-sumber dana untuk melaksanakan rancang tindak nasional

C. Tujuan

Rancang Tindak Nasional SDGTPP bertujuan untuk memberikan arah dan pedoman dalam melakukan pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP secara berkelanjutan yang relevan dengan pembangunan nasional dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

STATUS TERKINI SDGTPP

A.Pelestarian in situ dan pengembangannya:

A.1. Survei dan inventarisasi SDGTPP
Pelestarian yg seimbang (Rational) untuk ex situ dan in situ idealnya diawali dengan melakukan survai dan inventarisasi SDG yang ada. Program nasional dalam pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP yang dijabarkan melalui kebijakan dan strategi memerlukan pendataan keberadaan SDG di Indonesia.
Beberapa stakeholders telah melakukan pelestarian in situ di berbagai daerah seperti Universitas Andalas Sumatera Barat, LSM FIELD Jakarta, BLH Yogyakarta. Komoditi yang telah disurvai dan diinventarisasi antara lain adalah padi di Sumatera Barat, ubi jalar di Papua, sedangkan di Yogyakarta teridentifikasi mempunyai tempat yang berpotensi sebagai pelestarian in situ berbagai SDG lokal dan SDG yang langka.

A.2. Mendukung pengelolaan dan perbaikan SDGTPP lekat lahan
Pemuliaan tanaman telah berhasil meningkatkan produksi serta memperbaiki ketahanan terhadap hama-penyakit dan kualitas produk pangan. Hasil pemuliaan tersebut telah dimanfaatkan petani karena berbagai alasan, seperti permintaan pasar, dan pemenuhan kebutuhan keluarga. Pilihan tersebut dapat mengakibatkan erosi genetik terhadap tanaman lekat lahan.
Pendekatan pengkajian pemanfaatan dan pengelolaan SDG lekat lahan yang tepat, dapat memberikan prospek peningkatan produktivitas dari usaha tani pertanian meski melalui perbaikan genetik yang terbatas. Oleh sebab itu, produktivitas yang meningkat, penting untuk ketahanan pangan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Usaha-usaha yang difokuskan pada pengelolaan dan perbaikan SDGTPP lekat lahan dengan melibatkan petani, berpotensi dalam meningkatkan pembangunan pertanian. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa semua itu tergantung kepada petani dan keputusannya, serta perlunya dukungan terhadap usaha-usaha yang sedang dilakukan.
Untuk melakukan perbaikan berbagai karakter dari tanaman (seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit) dalam meningkatkan produksi pangan, perlu diberikan akses SDG yang lebih besar dan pelatihan yang tepat kepada petani. Kegiatan pelestarian in situ terhadap SDGTPP yang telah dilakukan, antara lain oleh petani di Indramayu yang mempraktikkan cara budidaya pelestarian in situ padi lokal (Gundil Putih dan Merah, Jalawara Putih dan Merah, Longong, Sri Putih dan Blirik), dan sayur gambas (oyong=sunda) melalui Sekolah Lapang Petani yang didampingi LSM FIELD.

A.3. Membantu petani yang mengalami bencana alam untuk mempertahankan sistem pertanian
Bencana alam merupakan fenomena yang sulit dihindari. Bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami, banjir, gunung meletus, dan kebakaran hutan merupakan ancaman serius terhadap manusia dan keberadaan SDG. Seringkali bencana tersebut mengakibatkan hilangnya varietas tanaman yang sudah beradaptasi dan tidak dapat diperoleh gantinya.
Varietas lokal yang hilang pada saat bencana seringkali dapat diganti atau direstorasi dari koleksi ex situ yang ada. Dalam rangka membantu petani dalam mengatasi keadaan tersebut, perlu melibatkan lembaga pemerintah dan berbagai pihak terkait. Saat ini, belum ada lembaga pemerintah atau swasta yang memiliki kemampuan sepenuhnya untuk melayani penduduk yang mengalami bencana secara menyeluruh.

A.4.Mempromosikan pelestarian in situ SDGTPP dan kerabat liarnya serta tumbuhan liar yang berpotensi untuk produksi pangan.
Ekosistem alami merupakan komponen penting dalam pelestarian SDGTPP, bagi tanaman kerabat liar endemik dan tanaman langka untuk produksi pangan. Sebagian besar SDGTPP tersebut tidak terkelola secara berkelanjutan. Adanya interaksi genetik dan lingkungan dapat menghasilkan SDG yang memiliki potensi spesifik atau unik dan memiliki nilai ekonomi tinggi yang tidak dapat dipertahankan secara ex situ. Apabila dalam keadaan terancam, SDG yang bersifat unik tersebut, hanya dapat dilestarikan secara in situ.

Dalam rangka mendorong pelestarian in situ, Komisi Nasional Sumber Daya Genetik (KNSDG) telah memotivasi pembentukan Komisi Daerah Sumber Daya Genetik (Komda SDG) di setiap provinsi dengan tugas-tugas pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP di daerah. Hingga saat ini baru 20 Komda SDG yang terbentuk di Indonesia sebagai berikut:

  1. Komisi Daerah SDG Provinsi Sumatera Utara
  2. Komisi Daerah SDG Provinsi Sumatera Barat
  3. Komisi Daerah SDG Provinsi Riau
  4. Komisi Daerah SDG Provinsi Jambi
  5. Komisi Daerah SDG Provinsi Sumatera Selatan
  6. Komisi Daerah SDG Provinsi Bengkulu
  7. Komisi Daerah SDG Provinsi Lampung
  8. Komisi Daerah SDG Provinsi Banten
  9. Komisi Daerah SDG Kota Tasikmalaya
  10. Komisi Daerah SDG Kabupaten Tasikmalaya
  11. Komisi Daerah SDG Provinsi Jawa Tengah
  12. Komisi Daerah SDG Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  13. Komisi Daerah SDG Provinsi Jawa Timur
  14. Komisi Daerah SDG Provinsi Bali
  15. Komisi Daerah SDG Provinsi Kalimantan Timur
  16. Komisi Daerah SDG Provinsi Kalimantan Barat
  17. Komisi Daerah SDG Provinsi Kalimantan Tengah
  18. Komisi Daerah SDG Provinsi Kalimantan Selatan
  19. Komisi Daerah SDG Provinsi Sulawesi Selatan
  20. Komisi Daerah SDG Provinsi Sulawesi Tenggara

B. Pelestarian Ex situ

B.1. Melestarikan koleksi ex situ
Kegiatan pelestarian ex situ SDGTPP di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai bentuk meliputi bank gen benih, penyimpanan in vitro, bank gen lapang, kebun raya, maupun arboretrum. Kebun raya yang dimaksud meliputi empat kebun raya lokal, Ecopark LIPI dan tiga arboretrum di Depok, Purwakarta, dan Jepara. Untuk Kebun Raya Bogor sendiri mengkoleksi 217 famili, 1.363 genus, 4052 spesies dan 22.439 herbarium. Kementerian Kesehatan juga mempunyai koleksi sekitar 850 jenis tanaman obat di Tawangmangu.

Di bawah Kementerian Pertanian RI, pelestarian ex situ dilakukan dalam bank gen benih, lapang dan penyimpanan in vitro. Beberapa lembaga lain non-pemerintah juga memiliki fasilitas penyimpanan SDGTPP secara ex situ, seperti Taman Buah Mekarsari dan Taman Bunga Nusantara. Berikut adalah informasi mengenai jumlah aksesi dari tiap sumber daya genetik yang dikoleksi secara ex situ di Indonesia.

Dalam kegiatan pelestarian SDG secara ex situ, umumnya dilakukan monitoring terhadap koleksi yang dimiliki, meliputi monitoring stok SDG, viabilitas dan integritas genetiknya. Secara umum, beberapa lembaga yang menangani pelestarian ex situ telah melaksanakan secara rutin melakukan monitoring stok dan viabilitas SDG koleksinya, kegiatan monitoring integritas genetik yang masih belum dilakukan.

Kemudian berkenaan dengan informasi mengenai koleksi ex situ, beberapa publikasi telah terbit dalam bentuk cetak, yang berisi informasi mengenai data paspor dan data karakterisasi/evaluasi SDG. Informasi tersebut sebagian juga telah didokumentasikan dalam bentuk database. Database SDG yang hampir digunakan secara nasional adalah Sistem Informasi Sumber daya genetik Pertanian (SIPNP), yang menggunakan platform Microsoft access berbasis web. Sistem informasi ini dikembangkan oleh Komisi Nasional SDG (Komnas SDG).

Berikut adalah hambatan utama dalam melestarikan koleksi ex situ yang diperoleh dari hasil identifikasi pengelola SDGTPP pada tahun 2010:

B.2. Meregenerasikan Aksesi ex situ yang Terancam.
Koleksi SDG secara ex situ tidak akan pernah lepas dari ancaman kepunahan, terutama akibat adanya penurunan viabilitas bahan tanaman yang disimpan, terutama yang disimpan dalam bentuk benih. Oleh karenanya, meregenerasikan aksesi ex situ yang terancam perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Beberapa lembaga/stakeholder di Indonesia yang memiliki koleksi ex situ telah secara rutin melakukan kegiatan regenerasi tanaman, dan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 2-6 tahun untuk meregenerasikan seluruh koleksi yang dimiliki, tergantung jumlah dana yang tersedia dan besarnya aksesi yang dimiliki.

Kegiatan meregenerasikan aksesi yang terancam ini, selain perlu dilakukan secara berkelanjutan, juga harus dilaksanakan secara tepat dan terencana sesuai standar baku, terutama untuk mencegah terjadinya perubahan atau hilangnya integritas genetik dari aksesi yang dikoleksi. Berikut adalah upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi perubahan atau hilangnya integritas genetik akibat kegiatan regenerasi SDG di lapangan.

B.3. Mendukung Kegiatan Koleksi SDGTPP yang telah Direncanakan dan Ditargetkan
Kegiatan koleksi SDGTPP umumnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian ex situ. Sumber daya genetik yang dilestarikan secara ex situ, umumnya berasal dari kegiatan survey atau eksplorasi SDG di daerah-daerah. Berikut adalah aksesi yang diperoleh dari kegiatan eksplorasi/survey SDG di Indonesia.

Sumber daya genetik yang telah dikoleksi tersebut, seyogyanya perlu diidentifikasi informasi yang belum ada dalam koleksi seperti cakupan geografis/asal-usul, penelusuran taxonomi yang lebih mendalam, disamping itu diidentifikasiuntuk menghindari duplikasi sampel koleksi. Hal ini dimaksudkan agar koleksi yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, khususnya yang menyangkut biaya pemeliharaan yang diperlukan.

B.4. Meningkatkan Kegiatan Pelestarian ex situ
Kegiatan pelestarian ex situ sumber daya genetik sebagian besar dilaksanakan dalam bentuk bank gen benih. Pengelolaan bank gen sendiri hanya terbatas untuk tanaman-tanaman yang menghasilkan benih yang bersifat ortodoks. Berkaitan dengan hal tersebut, yang dimaksud dengan meningkatkan kegiatan pelestarian ex situ adalah suatu upaya pengembangan dan perbaikan metode penyimpanan secara ex situ untuk tanaman-tanaman yang tidak mudah disimpan dalam bentuk benih, seperti tanaman-tanaman yang menghasilkan biji rekalsitran ataupun yang diperbanyak secara vegetatif. Di Indonesia, belum banyak lembaga maupun perorangan yang secara kontinu melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan metodologi pelestarian ex situ yang efektif dan efisien untuk melestarikan secara ex situ tanaman-tanaman berbiji rekalsitran maupun yang diperbanyak secara vegetatif.

C. Pemanfaatan sumber daya genetik tanaman
Kegiatan pemanfaatan SDG tanaman mencakup:

  1. Memperluas karakterisasi, evaluasi dan jumlah koleksi inti guna memfasilitasi pemanfaatan.
  2. Meningkatkan usaha pengayaan dan perluasan dasar genetik.
  3. Mendorong pertanian berkelanjutan melalui diversifikasi produksi tanaman dan perluasan keanekaragaman tanaman.
  4. Mendorong pengembangan dan komersialisasi tanaman dan spesies underutilized crops (yang kurang dimanfaatkan).
  5. Mendukung produksi dan distribusi benih.
  6. Mengembangkan pasar baru untuk varietas lokal dan aneka produk SDGTPP.

C.1. Memperluas karakterisasi, evaluasi dan jumlah koleksi inti guna memfasilitasi pemanfaatan
Sebagian besar pengelola SDGTPP telah melakukan kegiatan karakterisasi, evaluasi dan menambah jumlah koleksi. Namun sebagian besar koleksi tersebut belum dikarekterisasi dan dievaluasi untuk tujjuan pemanfaatannya. Pembentukan koleksi inti dari pengelola masih belum dilakukan, sehingga pengelolaannya kurang efisien.

C.2. Meningkatkan usaha pengayaan dan perluasan dasar genetik
Usaha pengayaan dan perluasan dasar genetik dilakukan melalui program pemuliaan. Dengan melakukan persilangan antara SDGTPP, untuk mendapatkan sifat unggul tanaman dapat diperoleh melalui seleksi yang diambil dari keturunan yang memiliki keragaman yang luas.
Pemanfaatan sumber daya genetik dalam program pemuliaan yang sangat intensif telah dilakukan pada tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini terlihat dari jumlah varietas unggul yang telah dihasilkan. Sementara pada tanaman perkebunan masih terbatas pada tanaman tertentu. Banyaknya varietas unggul yang telah dihasilkan atau dilepas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Banyaknya varietas unggul yang telah dilepas

Beberapa contoh sumber daya genetik tanaman hortikultura varietas unggul dan asalnya disajikan pada Tabel 2.


Tabel 2. SDG Tanaman Hortikultura asal lokal dan introduksi

Pengayaan keragaman genetik juga telah dilakukan melalui pembentukan populasi interspesifik padi liar dengan kultur embrio secara in-vitro. Usaha introgresi gen padi liar ke dalam padi budidaya perlu dilakukan untuk memperluas ‘gene pool’ tanaman padi sehinga akan mempermudah perolehan sumber gen yang siap pakai dalam program perbaikan varietas padi. Sumber daya genetik padi budidaya dan padi liar yang telah diintrogresikan disajikan pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Sumber daya genetik padi unggul yang digunakan sebagai tetua betina

Tabel 4. Spesies padi liar yang digunakan sebagaai sumber gen ketahanan

C.3. Mendorong pertanian berkelanjutan melalui diversifikasi produksi tanaman dan perluasan keanekaragaman tanaman.
Untuk meningkatkan ketahanan pangan, Kementerian Pertanian bersama Kementerian lainnya telah menerbitkan Keputusan Bersama Beberapa Menteri yang intinya untuk melakukan program percepatan diversifikasi pangan di Indonesia.

C.4. Mendorong pengembangan dan komersialisasi tanaman dan spesies underutilized crops (yang kurang dimanfaatkan)
Hingga saat ini belum teridentifikasi lembaga yang melakukan kegiatan dalam mendorong pengembangan dan komersialisasi spesies underutilized crops.

C.5. Mendukung produksi dan distribusi benih.
Peningkatan produksi pangan perlu didukung penyediaan benih bermutu serta distribusi yang berkelanjutan dan lancar ke semua wilayah. Kementerian Pertanian telah membentuk dan membangun Sang Hyang Sri sebagai implementasi dukungan pemerintah dalam meningkatkan produksi tanaman pangan dan sistem distribusi kepada petani. Selain dari pada itu, masih banyak perusahaan produsen benih lainnya di Indonesia yang mulai berkembang dalam dua dekade terakhir.

C.6. Mengembangkan pasar baru untuk varietas lokal dan aneka produk SDGTPP.
Hingga saat ini belum teridentifikasi lembaga yang melakukan kegiatan dalam rangka mengembangkan pasar baru untuk produk varietas lokal dan produk aneka SDGTPP.

D. Pembangunan kelembagaan dan kemampuan

D.1. Membangun Program Nasional yang Kuat
Program Nasional merupakan landasan dalam upaya pengelolaan sumber daya genetik secara regional dan global, juga merupakan sarana untuk mempromosikan kerjasama internasional terhadap akses sumber daya genetik tanaman dan pembagian yang adil merata dari keuntungan yang timbul dari pemanfaatan tersebut. Saat ini perencanaan dan pengelolaan program-program nasional yang ada masih kurang baik karena terbatasnya sumber daya dan kegiatan yang dilakukan tidak terintegrasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan integrasi kegiatan SDGTPP dalam suatu kerangka program nasional yang terpadu yang melibatkan semua pemangku kepentingan dari sektor pertanian, lingkungan dan pembangunan.

D.2. Mempromosikan Jejaring Kerja untuk SDGTPP
Jejaring antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam hal pelestarian, manajemen, pembangunan dan pemanfaatan SDGTPP, digunakan sebagai media promosi dan pertukaran materi genetik atas dasar persetujuan bersama dalam rangka pemanfaatan sumber daya genetik tersebut. Selain itu, jejaring dapat berfungsi untuk membantu menetapkan prioritas kegiatan dan kebijakan yang dikembangkan oleh organisasi dan lembaga.
Jejaring tersebut melibatkan lembaga/institusi yang menangani SDGTPP, antara lain berbagai Balai Penelitian di lingkup Badan Litbang Pertanian seperti BB Padi; Puslitbangbun (Balitro, Balittas, Balitka, Balittri); Puslitbanghor (Balithor, Balitjestro, Balitbu, Balitsa); Puslitbangnak (Balitnak & Lokalit ternak); dan BB Biogen, dan LIPI (Puslit Biologi; Bioteknologi). Sedangkan lembaga BUMN yang menangani pengelolaan SDGTPP adalah PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), antara lain Pusat Penelitian Teh dan Kina, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dan Pusat Penelitian Karet) dan Pusat Penelitian Gula Indonesia (P2GI). Disamping itu beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat juga berperan dalam melakukan pengelolaan SDGTPP.

D.3. Pembentukan Sistem Informasi yang Komprehensif untuk SDGTPP
Di Indonesia hasil kegiatan pengelolaan SDGTPP belum didokumentasikan secara optimal, seperti dokumentasi kerabat liar tanaman dan SDG on farm yang secara in situ masih sangat sedikit. Dalam koleksi ex situ, identifikasi dasar seperti nomor aksesi, nama taksonomi, deskripsi karakter morfologi dan agronomi, hasil uji viabilitas, regenerasi, pendistribusian materi, dan informasi etno-botani, petani dan pengetahuan lokal masih belum sepenuhnya didokumentasikan. Umumnya program pelestarian di genebank atau in situ masih kurang didukung oleh personel yang terlatih, serta infrastruktur yang memadai sehingga pelestarian SDG yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan dengan baik. Dalam alokasi pendanaan kegiatan manajemen data dan dokumentasi (sistem informasi) masih belum mendapat prioritas.

Indonesia telah mengembangkan sistem informasi dan basis data sumber daya genetik tanaman, antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah mengembangkan NBIN (Jaringan Keanekaragaman Hayati Nasional Indonesia), demikian pula halnya KNSDG mengembangkan Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian, sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan Mekanisme Balai Kliring bagi keanekaragaman hayati. Adapun Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan FAO mengembangkan National Information Sharing Mechanism. Meskipun sistem informasi tersebut telah tersedia, tetapi sifatnya belum terintegrasi.

D.4.Pengembangan Sistem Monitoring dan Peringatan Dini terhadap hilangnya SDGTPP
Erosi SDGTPP dapat terjadi pada koleksi ex situ, lahan petani dan di alam. Tingkat erosi tergantung pada kualitas bahan asal yang disimpan, dan kondisi tempat penyimpanan bahan. Hilangnya kerabat liar dapat terjadi akibat gangguan pada habitatnya atau akibat bencana alam. Introduksi varietas tanaman baru dapat mengakibatkan hilangnya varietas lokal.
Berbagai faktor fenomena alam dan hasil perilaku manusia dapat membuat risiko hilangnya SDGTPP. Hingga saat ini sistem peringatan dini tentang kemungkinan hilangnya SDGTPP belum ada. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan dibangun suatu sistem peringatan dini yang dapat diaplikasikan untuk mengantisipasi hilangnya suatu spesies SDGTPP.

D.5. Memperluas dan Meningkatkan Pendidikan dan Pelatihan
Pelatihan secara berkelanjutan dalam perbaikan pelestarian SDGTPP dan pemanfaatannya perlu dipertimbangkan, untuk itu perlu ditingkatkan melalui dukungan dana yang memadai untuk program pendidikan dan pelatihan tersebut.
Selain itu di Indonesia, masih terdapat kelangkaan tenaga profesional hampir di semua tingkatan, baik peneliti maupun spesialisasi teknis. Hal itu disebabkan karena tidak adanya program pendidikan atau pelatihan khusus jurusan pengelolaan SDG.

D.6. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat akan Arti Penting Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Tanaman Pangan dan Pertanian secara berkelanjutan
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya genetik merupakan kunci untuk menyamakan dan membangkitkan persepsi masyarakat pada tingkat nasional. Keberhasilan dalam menyampaikan materi kepada pemangku kepentingan mempunyai dampak penting bagi suksesnya program pelestarian SDGTPP.
KNSDG setiap tahun melaksanakan kegiatan program peningkatan kesadaran publik ke berbagai provinsi, dimana disampaikan tentang pentingnya melakukan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik secara berkelanjutan. Penyampaian materi pengelolaan sumber daya genetik kepada para pemangku kepentingan, baik para pejabat pemerintah, swasta, kalangan profesi pendidik dan anak didik, serta LSM yang bergerak dalam bidang SDG.

RANCANG TINDAK NASIONAL – SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN PANGAN DAN PERTANIAN

A. Pelestarian in situ
Pelestarian in situ dilaksanakan dengan melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:

  • Identifikasi, inventarisasi, pendataan lokasi, dan pengkajian adanya ancaman terhadap spesies, ekotipe, kultivar dan populasi tanaman pangan dan pertanian, khususnya yang akan dimanfaatkan. Disamping itu juga mengembangkan metodologi survai dan inventarisasi SDGTPP yang efektif dan efisien.
  • Memfasilitasi penyusunan strategi pelestarian in situ untuk melengkapi kebijakan nasional yang terkait dengan pengelolaan SDGTPP yang berkelanjutan.
  • Pelestarian lekat lahan, dimana salah satu kegiatannya mencakup pendayagunaan SDG lokal maupun introduksi untuk menghadapi perubahan iklim untuk mencapai ketahanan pangan.
  • Memberikan apresiasi terhadap masyarakat adat yang masih mempertahankan budidaya dan melestarikan SDG lokal untuk memenuhi kebutuhannya.
  • Mengembangkan penyusunan peraturan perundang-undangan tentang pelestarian in situ dan implementasinya dilapangan, agar pelestarian SDG in situ dapat berjalan sesuai dengan program kebijakan nasional.
  • Mendorong dan mendukung pelestarian varietas tanaman dan kerabat liarnya secara in situ di kawasan lindung maupun di luar kawasan tersebut.
  • Program restorasi pada kawasan pelestarian in situ yang mengalami bencana alam dapat dipulihkan dengan memanfaatkan koleksi SDG secara ex situ.

B. Pelestarian ex situ
Pelestarian ex situ dilakukan untuk lebih menjamin terhadap pelestarian SDG dan untuk mempertahankan keragaman genetik SDG. Disamping itu SDG yang dilestarikan dapat digunakan untuk tujuan perbaikan sifat tanaman yang dikehendaki untuk memenuhi kebutuhan manusia. SDG yang dilestarikan juga dapat dipergunakan untuk menunjang program restorasi di daerah yang dilanda bencana alam, sehingga dapat menjamin kapasitas pengadaan benih varietas lokal yang sudah beradaptasi. Koleksi SDG ex situ yang sedang berlangsung masih belum terkoordinasi dengan baik.
Untuk itu, perlu dilakukan:

  • Membangun lembaga atau memberikan mandat kepada lembaga yang sudah ada untuk melakukan koordinasi pelestarian ex situ.
  • Membangun mekanisme koordinasi antar lembaga dan membangun komitmen bersama dalam rangka perbaikan pelestarian ex situ.
  • Melengkapi lembaga tersebut dengan infrastruktur yang diperlukan untuk pelestarian, diantaranya Penyelesaian segera pembangunan Bank gen untuk menjamin terselenggaranya pelestarian ex situ SDGTPP secara efektif dan efisien.
  • Meregenerasikan aksesi koleksi penyimpanan jangka panjang yang sudah menurun viabilitasnya.
  • Melakukan karakterisasi dan evaluasi SDG tanaman secara menyeluruh terhadap koleksi yang dimiliki.
  • Koleksi SDG dapat dikelompokkan dalam base collection dan working collection. Regenerasi pada base collection hanya dilakukan pada aksesi koleksi yang viabilitasnya mulai menurun. Sedangkan working collection regenerasinya dilakukan untuk mempertahankan jumlah persediaan benih untuk keperluan pemanfaatannya.
  • Metode regenerasi yang tepat perlu dilakukan untuk mempertahankan keragaman genetik dari koleksi.
  • Membuat kegiatan pelestarian ex situ yang terrencana, mulai dari eksplorasi/koleksi, karakterisasi, evaluasi dan dokumentasi terhadap SDG baik SDG yang telah adaptif, underutilized crops, maupun kerabat liarnya.

C. Pemanfaatan SDGTPP

  1. Untuk meningkatkan pemanfaatan SDG, hasil karakterisasi dan evaluasi perlu didokumentasikan dan diinformasikan kepada pengguna, baik pemulia maupun pengusaha agar dapat langsung memanfaatkan SDG tersebut.
  2. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman dan ternak merupakan salah satu model konservasi lekat lahan sekaligus sebagai sumber diversifikasi pangan guna meningkatkan ketahanan pangan. Di lahan pekarangan dapat ditanami berbagai jenis tanaman sumber karbohidrat dan jenis tanaman lain yang mengandung nilai gizi (protein dan vitamin, serta mineral) seperti tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan. Untuk keluarga dengan halaman yang lebih luas (di daerah desa) bisa pula dilakukan konservasi SDG lainnya, seperti ternak (ayam, itik, kambing) dan ikan, sehingga pemenuhan kebutuhan pangan nabati dan hewani dapat tercukupi. Pada skala yang lebih besar lagi, dapat digunakan sebagai kebun produksi untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Keberhasilan kegiatan konservasi lekat lahan, antara lain ditentukan oleh kebutuhan pasar serta pengetahuan petani dalam meningkatkan nilai tambah pada produk SDG tersebut, dengan demikian pemanfaatan sumber daya genetik akan lebih optimal dan tepat guna. Untuk itu, kegiatan konservasi lekat lahan perlu ditunjang bukan hanya oleh teknik budidaya, tetapi juga perlu didukung dengan tambahan pengetahuan pasca panen untuk memberi nilai tambah pada produk tersebut.
  3. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada SDG Indonesia, dan pembagian keuntungan dari hasil pemanfaatannya, maka perlu diatur dan dilindungi oleh Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik. Pengaturan di atas perlu dilakukan mengingat ketergantungan yang besar negara bukan pemilik material genetika untuk mengembangkan industrinya sehingga jika tidak diwaspadai ada kemungkinan terjadinya pencurian sumber daya genetik. Pencurian ini menimbulkan kerugian pada pemilik sumber daya genetik, karena pemilik SDG tidak memperoleh keuntungan dari hasil pemanfaatan SDG. Untuk membentuk undang-undang yang sesuai dan efektif, perlu harmonisasi dengan peraturan perundangan lain yang telah ada, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai rujukan pengaturan sumber daya genetik.
  4. Ketahanan pangan sangat sangat rawan terhadap terjadinya perubahan iklim dan sempitnya keragaman genetik. Perubahan iklim meliputi peningkatan suhu udara, peningkatan permukaan air laut, perubahan pola hujan dan peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim. Untuk menunjang ketahanan pangan, khususnya untuk mempertahankan keragaman sumber daya genetik perlu dibentuk community biodiversity management (CBM) untuk mempertahankan kelestarian dan meningkatkan pemanfaatan SDG.

D. Pembangunan Kapasitas dan Kelembagaan
Guna menunjang kegiatan pengelolaan SDG yang efektif, efisien dan berkelanjutan, maka diperlukan sarana dan pra-sarana serta SDM yang memenuhi kriteria yang baku. Untuk itu, perlu dilakukan:

  • Pelatihan tatacara pengelolaan SDG secara ex situ kepada petugas pengelola SDG, mulai dari eksplorasi/koleksi, karakterisasi, evaluasi dan dokumentasi terhadap SDG baik SDG yang telah adaptif, underutilized crops, maupun kerabat liarnya.
  • Penyediaan fasilitas pelestarian ex situ yang memadai (kebun percobaan yang dilengkapi dengan sarana irigasi, luasan yang cukup; fasilitas prosesing, pengeringan, pengepakan, labelling dan penyimpanan biji yang memenuhi kriteria untuk penyimpanan jangka panjang).
  • Melaksanakan kegiatan program peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya melakukan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik secara berkelanjutan. Penyampaian materi pengelolaan sumber daya genetik kepada para pemangku kepentingan.
  • Membangun jejaring dan sistem informasi SDGTPP yang komprehensif.
  • Mengembangkan pasar baru untuk varietas lokal dan aneka ragam produk SDGTPP.
  • Membangun sistem pemantauan dan peringatan dini terhadap kemungkinan hilangnya SDGTPP

IMPLEMENTASI DAN PENDANAAN

Implementasi
Untuk mengimplementasikan kegiatan pengelolaan SDGTPP memerlukan dukungan berbagai macam fasilitas sarana, prasarana, dan SDM yang memadai, serta kerjasama antar lembaga yang erat dan terkoordinasi. Selain itu juga diperlukan dukungan dana yang cukup dan berkesinambungan. Sumber dana dapat berasal dari Pemerintah (Pusat maupun Daerah) serta dari Non Pemerintah baik dalam maupun luar negeri.
Kegiatan pengelolaan SDGTPP tersebut harus terkait erat dengan:

  • Peningkatan pelestarian in situ kerabat liar, tanaman budi daya dan underutilized crops untuk produksi pangan
  • Peningkatan pelestarian ex situ kerabat liar, tanaman budi daya dan underutilized crops untuk produksi pangan
  • Pemanfaatan SDGTPP untuk diversifikasi dan ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim.
  • Penguatan pembangunan kapasitas dan kelembagaan pengelola SDGTPP.

Indonesia telah mengesahkan Perjanjian mengenai SDGTPP, agar dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya terhadap SDGTPP yang diperjanjikan dan SDGTPP yang tidak termasuk dalam Lampiran 1 Perjanjian SDGTPP, ada sejumlah hal penting yang harus dilakukan:

  • Penguatan pemuliaan tanaman meliputi peningkatan kemampuan pemulia dan pengembangan ilmu pemuliaan, termasuk pemanfaatan bioteknologi.
  • Peningkatan kemampuan dan jumlah pemulia serta infrastrukturnya diperlukan untuk menangani kegiatan-kegiatan mulai dari eksplorasi, koleksi, karakterisasi, dokumentasi, dan pemanfaatan SDGTPP secara berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian yang berorientasi peningkatan kesejahteraan petani.
  • Pengembangan sistem perbenihan dan industri perbenihan yang mampu memenuhi kebutuhan benih nasional, mengurangi ketergantungan pada benih impor dengan tetap mendorong peran serta masyarakat dan mengakomodasikan kondisi-kondisi yang memelihara keanekaragaman genetik.
  • Untuk menghindari pengakuan kepemilikan SDGTPP asal Indonesia oleh pihak lain, maka perlu identifikasi karakteristik pada tingkat molekuler pada SDGTPP yang memiliki keunikan.
  • Pemanfaatan sumber daya genetik underutilized crops atau yang terabaikan;
  • Memanfaatkan aksesi sumber daya genetik dari pihak luar melalui sistem multilateral;
  • Memperluas dan meningkatkan usaha diversifikasi pangan.
  • Dalam memanfaatkan sumber daya genetik, baik yang berasal dari kerjasama bilateral maupun dengan FAO harus menjamin adanya dominasi lokal dalam penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia dan keuntungan secara finansial.

Pendanaan
Sebagaimana telah disepakati bersama Pemerintah dan DPR-RI, dimana DPR-RI sepakat untuk memberikan dukungan politik baik dalam bentuk kebijakan maupun dalam bentuk anggaran, dan sekaligus akan menggunakan fungsi pengawasan yang dimilikinya untuk memantau dan mengevaluasi berbagai program yang telah disetujui serta mengusahakan jaminan kesinambungannya serta penyelenggaraan pertemuan-pertemuan internasional yang berhubungan dengan Perjanjian SDGTPP.

PENUTUP

  • Rancang Tindak Nasional SDGTPP ini disusun sebagai pedoman dan memberikan arahan dalam melakukan pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP secara berkelanjutan sebagai implementasi Rancang Tindak Global SDGTPP di tingkat Nasional.
  • Ruang lingkup dari RTN-SDGTPP adalah pelestarian in situ; pelestarian ex situ, pemanfaatan SDGTPP, serta pembangunan kapasitas dan kelembagaan pengelola SDGTPP.
  • Naskah RTN-SDGTPP ini merupakan hasil rangkuman pembahasan dan diskusi para pemangku kepentingan dalam lokakarya yang dilaksanakanoleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dalam bulan November 2011 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor.