Benih dan Pertanian Berkelanjutan

Sejalan dengan misi Departemen Pertanian Republik Indonesia dalam pengembangan pertanian sekarang dan masa datang yaitu membangun sistem dan usaha agribisnis yang kompetitif, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi; kini kita harus tidak terlambat lagi dalam memperhatikan peran “benih” sebagai input produksi yang sangat penting dan strategis. Kita harus bertanya kemana, mengapa produk pertanian diluar negeri terutama di Negara-Negara maju telah lebih dulu memiliki produktivitas, performansi, dan kualitas yang relatif lebih baik? Memang banyak faktor penyebab yang menjadikannya demikian, tetapi apakah kemudian kita harus “ menganalisis” nya berlama-lama melalui seminar, melalui symposium, melalui workshop atau sejenisnya? Dua pertanyaan yang sering terngiang bagi para pemerhati “benih” kita yang pada kenyataannya itu memang sulit untuk dicarikan solusinya secara parsial.

 

Sekilas ilustrasi produk pertanian luar negeri Jenis mangga Mexico yang dipajang disebuah supermarket di Jepang, bentuknya oval seragam warnya kulitnya yang hijau dengan sebagian dekat tangkai buah ada selingkar warna merah cerah dan daging buahnya kuning kepodang serta rasanya manis segar. Warna merah yang dimilikinya menjadikan “identitas” mangga itu berasal dari Mexico (orang Jepang menyebutnya mangga mekisko). Di perkebunan peach ( bahasa Jepangnya Momo) di Gunma Jepang, disebagian lantai kebun terhampar semacam tikar berwarna perak yang sekilas adalah aluminium foil yang sengaja digelar/dihamparkan.

Ternyata itu adalah sebuah cara yang ditempuh untuk memantulkan balik cahaya sinar matahari kearah buah peach supaya sebagian kulit buahnya berwarna merah cerah. Peach yang berwarna kuning langsat semburat merah melingkar di beberapa bagiannya menjadikan warna buah itu sangat menarik. Dua ilustrasi diatas berkenaan dengan performansi buah yang telah diperhatikan dengan baik agar tidak hanya enak dimakan, produksinya banyak tetapi sudah diperhatikannya estetika penampilan buah agar lebih menarik dan “tampil beda”. Sasaran pemuliaan yang telah sampai ke performansi dan estetika itulah mengikat konsumen minimal sebagai daya tarik tersendiri dan merupakan tantangan bagi seorang peneliti untuk terus menemukan identitas hasil temuannya yang kompetitif. Kemudian kalau kita berkunjung ke “Talaad Thai” di Thailand, disalahsatu blok pasar itu terhampar durian monthong yang kalau kita hendak membelinya tidak harus berlama-lama menebak, membolak-balik buah durian, mengangkatnya untuk dicium baunya dan tidak perlu lagi bertanya apakah durian itu enak atau tidak; pasti semuanya enak. Daging buahnya tebal, rasanya enak, dan harganya murah. Ada lagi, pengalaman dari desa Yamagata di Nagano Jepang yaitu di pekarangan yang tidak terlalu luas berjejer pohon apel yang kalau musim panen apel, buah apel yang bergelantungan sangat menarik karena buahnya banyak, warnanya atraktif kuning kemerahan pohonnya pendek-pendek dan bisa langsung makan di kebun hanya cukup diseka dengan tissue sebelum dimakan.

Dua ilustrasi yang belakang ini sebuah pertanda bahwa jaminan kualitas dari segi rasa dan aman konsumsi sudah pula menjadi perhatian para produsen buah diluar negeri. Jadi sasaran pemuliaan tanaman tidak lagi terbatas pada produktivitas tetapi sudah pula kepada kualitas dan estetika penampilan. Ini keadaan yang harus kita terima bahwa Negara lain telah melaju dengan kecepatannya bersaing secara kompetitif untuk pasar global. Siapkah kita menghadapi kompetisi kualitas produk pertanian kita? Mulailah dari yang kecil tapi realistis Kalau kita mengenali produk pertanian luar negeri sudah pada level demikian rasanya telalu idealis bagi kita apabila kita ingin pula merengkuhnya langsung seperti itu. Akan lebih bijak apabila kita berfikir dari yang paling hakiki yaitu mulai dari konservasi plasma nutfah asli Indonesia harus kita selamatkan terlebih dahulu sebagai aset genetika yang sangat mahal dan tidak terganti dengan nilai nominal uang. Kehilangan plasma nutfah asli negeri sendiri merupakan kehilangan terhadap “sustainability” pertanian kita. Melestarikan plasma nutfah asli Indonesia berarti kita mengerti akan kekayaan hayati kita sendiri, daya adaptasinya sudah terjamin, modal dasar untuk efsiensi biaya, dan keberlanjutan pengembangannya atas potensi hayati yang telah dimiliki sendiri. Kekayaan hayati yang kini kita miliki menuntut kita semua untuk mengoptimalkannya agar lebih bermanfaat secara nyata terutama sebagai bahan untuk menciptakan inovasi-inovasi sesuai dengan kemajuan iptek yang kitapun pasti bisa. Gerakan menanam satu pohon bagi setiap bayi yang lahir di China, merupakan langkah konkrit pemerintah China untuk reboisasi yang dimulai dari pekarangan disekitar rumahnya sendiri. Di sebuah taman belajar balita (Hoikuen) di Jepang, dibiasakan anak-anak diajak memanen padi disawah, dirontok sambil bermain, dihitung jumlah bulir yang dia petik sendiri, dibantu ditimbang kemudian dikumpulkan, oleh guru-gurunya diproses menjadi beras dan dimasak sebagai nasi untuk disajikan lagi kepada mereka. Hasilnya apa yang dialami oleh para balita disana, setelah diterangkan inilah hasil kalian panen padi dan mulailah mereka mencintai tanaman padi. Dampak lanjut lain, karena mulai panen kemudian diprosesnya menjadi beras sampai nasi ada beberapa tahapan langkah kemudian mulai dari pendidikan balita pada setiap kesempatan makan tidak ada lagi nasi yang tersisa karena tidak dimakan.

Bagaimana halnya kalau kita coba di sekolah pertanian, dibiasakan setiap siswa belajar menanam satu pohon cabe di pekarangan sekolah dan dipelihara masing-masing maka akan ada berapa ratus pohon cabe di sekolah tersebut. Apabila dicobakan untuk jenis tanaman langka, maka secara botani bisa dipelajari dan terus dipelihara kelestariannya sehingga dapat dipergunakan sebagai media belajar biologi di sekolah dari milik siswa sendiri. Sebuah efisiensi bisa diciptakan secara sederhana dan menumbuhkan jiwa mencintai tanaman hasil sendiri merupakan awal dari upaya besar melestarikan plasma nutfah asli Indonesia. Kalau kita kembangkan lebih besar lagi, setiap mahasiswa di fakultas kehutanan kemudian diharapkan disamping penelitian secara ilmiah disampiri pekerjaan tambahan untuk menanam pohon langka pilihannya. Penanaman bisa dilakukan di sebuah pekarangan atau lahan yang sengaja disediakan lalu bisa dibayangkan berapa banyak pohon yang menjadi milik bersama dan terlebih bila setelah beberapa angkatan mengerjakan hal serupa. Rintisan kesederhanaan cinta plasma nutfah asli Indonesia harus dimulai dari kita-kita pemerhati hayati kemudian kita sosialisasikan konsekuensi-konsekuensinya melalui program atau proyek. Jangan terbalik, setelah sekian lama kita tertinggal, tidak baru memperhatikan plasma nutfah asli Indonesia kemudian disusunlah konsep, pemikiran dan mancari solusi kenapa kita tidak yakin untuk kompetitif dalam pasar global dibidang agribisnis karena kehilangan plasma nutfah. Plasma nutfah sebagai aset genetik untuk pembuatan benih.

Terinspirasi dari pengalaman petani di Gunungkidul, petani itu sangat antusias menjadi seorang penangkar benih sayuran karena telah memahami makna adanya nilai tambah apabila dia berusaha sebagai penangkar benih. Tetapi usahanya terkonsentrasi pada permasalahan “plasma nutfah” yang harus dia miliki karena begitu yakinnya bahwa dari hasil pelatihan yang pernah diikutinya apabila sebagai produsen benih maka dia harus tahu secara persis varietas tanaman yang diusahakan, asal usul tanaman dan karakteristiknya. Benih sayuran yang ingin diusahakan adalah cabe merah. Dia berusaha mencari varietas cabe asli Indonesia atau asli Yogyakarta, dia bertanya kalau mencari sumber benih untuk ditanam kembali sebagai benih dimana? Dengan gigihnya terus mencari sumber benih tersebut, ternyata apa komentarnya “ sulit sekali mencari sumber benih asli yang murni dan varietasnya jelas”. Keterbatasan wawasan petani dalam mencari sumber benih cabe itu harus dibantu oleh para petugas terkait agar motivasinya untuk menjadi penangkar benih tidak surut. Dilain pihak, ketersediaan sumber benih hasil penelitian yang dimiliki lembaga-lembaga penelitian atau peneliti secara perorangan masih terbatas pada peruntukannya untuk penelitian lanjutan dan aturan “flow of seed” secara khusus belum terbentuk dalam jaringan yang kuat sebagai sebuah sistem yang saling menguntungkan. Hak cipta sebuah varietas antara sumber benih komposit (khusus bagi jenis tanaman yang sudah merupakan “public domain”) dan sumber benih hibrida (hasil rekayasa teknologi untuk sebuah target pemuliaan tanaman), perbedaannya saja masih belum dipahami dengan benar oleh banyak pihak. Kepedulian ilmiah terhadap makna sumber genetika untuk penggandaan benih secara komersial masih memerlukan tahapan tersendiri yang panjang terkait dengan pelestarian plasma nutfah, penggandaan sumber benihnya, perbaikan kualitas tetuanya dan aspek operasional di lapangan yang lainnya. Hal-hal inilah yang masih harus terus disosialisasikan kepada petani peminat penangkar benih dan bagi para penentu kebijakan dalam pengembangan pertanian yang hakiki termasuk didalamnya para pemerhati benih. Secara teknis apabila pemahaman secara benar terhadap plasma nutfah sebagai aset genetika untuk membuat “benih” telah tersosialisasikan maka tindak lanjut yang konkrit selanjutnya adalah melestarikannya sebagai sumber benih untuk perbaikan kualitas pertanian melalui produksi benih yang berkualitas. Produsen benih di luar negeri sudah siap dengan berbagai plasma nutfah untuk induknya dan mereka sudah sangat kompetitif. Terbukti dari adanya jaminan perusahaan terhadap keaslian produk benihnya yaitu berupa pengembalian sejumlah biaya yang telah dikeluarkan apabila sampai pada tahapan pembibitan (misal pada bibit tomat telah berdaun sempurna 3 helai) apabila tidak berhasil maka petani bisa mengajukan “claim” termasuk penggantian benih. Jaminan ketenangan petani terhadap benih yang dibelinya semacam itu meyakinkan petani akan pentingnya memilih benih, petani juga semakin yakin bahwa mutu benih yang baik adalah penting untuk usahataninya, dan dengan benih yang mudah diperoleh maka usahanya bisa berkelanjutan secara pasti. Perbaikan kualitas pertanian melalui perbaikan benih.

Dari sejumlah input pertanian yang sering kita rasakan penting tetapi sulit adalah benih. Permasalahannya sangat kompleks. Dari pihak yang menganjurkan gunakanlah benih yang baik agar hasil pertaniannya baik, belum diimbangi oleh ketersediaan benih yang baik dan terjamin mutunya maka kemudian pengguna benih semakin tidak menentu dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, membenihkan sendiri dari hasil tanamannnya sendiri hasilnya akan terus menurun dan ini telah dipahami, tetapi mencari benih yang berkualitas sama seperti aslinya harganya sangat mahal. Lalu contoh lain, ada benih yang mungkin terjang kau harganya tetapi tidak dicantumkan masa kadaluarsanya maka pada akhirnya setelah ditanam hasilnya tidak memuaskan. Telah tersedia hasil penelitian benih yang teruji, belum mampu dikembangkan secara komersial karena keterbatasan regulasi yang berjenjang dan panjang masih harus ditempuhnya dengan seksama. Regulasi yang terkait dengan hak cipta varietas masih dirasakan mahal bagi penemunya atau bahkan bagi perusahaan yang bergerak dibidang tersebut. Ada kecenderungan pemberlakuan regulasi belum diimbangi sepenuhnya dengan jaminan terhadap pemasarannya artinya benih berlabel atau tidak di pasaran sama saja. Jadi lebih disukai oleh para produsen benih bahwa jaminan kualitas benih lebih baik diserahkan secara bebas oleh seleksi pasar. Apabila kita “refine” dari sekarang tentang perbaikan kualitas pertanian harus dimulai dari perbaikan kualitas benihnya, maka mulailah dari sekarang juga perbaikan terhadap kemudahan regulasi perbenihan yang harus direspon dengan lebih objektif oleh berbagai pihak. Dengan demikian akan tercipta akselerasi ketersediaannya secara tepat termasuk didalamnya penyediaan piranti yang memadai dan proporsional. Keberpihakan pemerintah terhadap para pemulia tanaman dan hasil-hasilnya juga menjadi aspek yang sangat strategis sehingga implementasinya bagi petani dan stakeholders lain untuk pertanian yang kompetitif akan segera terwujud.

Sumber: http://www.pemdadiy.go.id/berita/mod.php?mod=userpage&menu=10309&page_id=265