Peran Plasma Nutfah dalam Mendukung Program Pemuliaan Tanaman

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sangat kaya dengan sumber plasma nutfah, bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Karena terdiri lebih dari 17.000 pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera membentuk keanekaragaman ekosistem sekurang-kurangnya 42 ekosistem daratan alami dan 5 ekosistem lautan. Hal itu memungkinkan Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat tinggi keanekaragamannya. Banyak di antara spesies yang ada mempunyai penyebaran yang meliputi wilayah yang luas dan berbeda biogeofisiknya. Hal ini menyebabkan masing-masing spesies tersebut memiliki berbagai macam plasma nutfah yang sangat beranekaragam. Kekayaan keanekaragaman genetic spesies yang merupakan kekayaan sumber daya hayati Nasional perlu dikelola sebaik-baiknya, guna memberikan dukungan keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia.

Walaupun demikian, keunggulan ini masih berupa slogan dan retorika saja bagi sebagian masyarakat. Kekayaan hayati tersebut belum digunakan secara nyata untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat, bahkan sebagian kekayaan tersebut telah terancam punah akibat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang kurang tepat.

Saat ini, kita dihadapkan pada masalah utama, yaitu hilangnya jenis-jenis tanaman yang sering disebut erosi genetik. Sebagai contoh, FAO telah memperkirakan bahwa dunia sampai saat ini telah kehilangan sekitar 75% keanekaragaman genetik pertanian. Sedangkan untuk jenis ikan air tawar sedikitnya 20% sudah langka dan sudah mengalami penurunan populasi secara serius karena degradasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya ikan yang tidak tepat. Dari sekitar 300 jenis tanaman yang menjadi sumber pangan masyarakat tradisional, saat ini tinggal 100 jenis yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Dari 100 jenis tanaman tersebut, hanya sekitar 15 jenis yang menjadi sumber pangan utama penduduk dunia antara lain padi, gandum, jagung, barley, sorgum, kentang, kedelai, dan ketela pohon (Kusumo dkk., 2002).

Dengan telah diratifikasinya Convention Biological Diversity (CBD) dimana diakui hak National Sovereignity Right of Plant Genetic Resources, maka Indonesia wajib melindungi, melestarikan, mengatur dan mendukung pemanfaatan plasma nutfah secara optimal (Sutoro, 2006).

Dalam kaitan itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah kebijakan dan program untuk menunjang pengelolaan plasma nutfah yang berkelanjutan. Beberapa kebijakan penting yang telah dikeluarkan oleh pemerintah antara lain:

  1. Undang-undang No. 4 tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  2. Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.
  3. Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman
  4. Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Rencana Umum Tata Ruang.
  5. Undang-Undang No. 5 tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati.
  6. Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  7. Undang-Undang No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.
  8. Undang-undang No. 9 tahun 1985 tentang Perikanan.

Pelestarian plasma nutfah sebagai sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan pangan. Kecukupan pangan yang diidamkan akan tergantung kepada keragaman plasma nutfah yang dimiliki karena pada kenyataannya varietas unggul yang sudah, sedang dan akan dirakit merupakan kumpulan dari keragaman genetik spesifik yang terekspresikan pada sifat-sifat unggul yang diinginkan.

Unsur utama dari pengelolaan plasma nutfah sendiri adalah pelestarian secara in situ dan ex situ dari plasma nutfah yang kita miliki. Sedangkan fokus dari pengelolaan plasma nutfah adalah melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara berkelanjutan, baik pada ekosistem darat maupun laut, kawasan agroekosistem dan kawasan produksi, serta program konservasi ex situ. Upaya pengelolaan ini harus disertai dengan pemeliharaan sistem pengetahuan tradisional dan pengembangan sistem pemanfaatan plasma nutfah yang dilandasi oleh pembagian keuntungan yang adil. Untuk itu, telah ditetapkan berbagai kawasan konservasi dalam bentuk suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) dan kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam). Sebagai contoh telah ditetapkan beberapa kawasan konservasi plasma nutfah seperti Kebun Raya Bogor, Kebun Raja, Kebun koleksi tanaman industri Cimanggu Bogor, (Kusumo dkk., 2002), Kebun Koleksi Nasional–Sumber Daya Genetik kelapa sawit (KKN-SDG) di K.P. Sitiung, Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat.

Kekayaan plasma nutfah yang terdapat di alam memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam industri pertanian. Oleh sebab itu, saat ini plasma nutfah banyak dikaji dan dikoleksi dalam rangka meningkatkan produksi pertanian dan penyediaan pangan. Hal ini dilakukan karena plasma nutfah merupakan sumber gen yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk ketahanan penyakit, serangga, gulma dan juga gen untuk ketahanan terhadap cekaman lingkungan abiotik yang kurang menguntungkan seperti kekeringan. Selain itu plasma nutfah juga merupakan sumber gen yang dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hasil tanaman seperti kandungfan nutrisi yang lebih baik.

Plasma nutfah merupakan bahan dasar bagi pemilihan tetua untuk menciptakan bahan tanaman unggul. Materi genetik plasma nutfah merupakan kunci utama dalam pengembangan program pemuliaan di Indonesia. Saat ini plasma nutfah yang sudah ada untuk beberapa komoditi tersebar di wilayah Indonesia. Mengingat hal tersebut, maka perlu dikelola dengan baik materi genetik tanaman  yang ada agar tidak punah dan dapat memberikan manfaat bagi kemakmuran masyarakat.

Keberhasilan program pengelolaan plasma nutfah sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatan plasma nutfah. Pemanfaatan plasma nutfah dalam program pemuliaan yang sangat intensif telah dilakukan pada tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini terlihat dari jumlah varietas unggul yang telah dihasilkan. Sementara pada tanaman perkebunan masih terbatas pada tanaman tertentu.

Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta mikroorganisme. Plasma nutfah merupakan kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.

Di masa depan, plasma nutfah akan lebih penting peranannya dalam pembangunan mengingat kebutuhan dunia akan bahan-bahan hayati untuk obat, varietas baru tanaman pertanian dan ternak, proses industri, dan pengolahan pangan semakin meningkat. Tetapi prospek ini tidak akan dapat diraih apabila erosi plasma nutfah yang diawali dengan kerusakan sebagian ekosistem dan kepunahan beberapa spesies masih berlanjut seperti yang terjadi sekarang ini apabila tidak dilakukan usaha pencegahan secara lebih serius.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil pertanian adalah melalui perbaikan genetik bahan tanaman dengan memanfaatkan sumber daya genetik (SDG) yang berbeda dengan material yang telah ada. Keanekaragaman genetik dalam plasma nutfah merupakan bahan dasar yang diperlukan dalam program untuk menghasilkan varietas dan hibrida unggul serta berbagai penemuan dan inovasi. Untuk itu diperlukan ketersediaan SDG dengan tingkat keragaman yang tinggi sebagai sumber keragaman genetik. Tersedianya SDG yang didukung oleh sistem pengelolaan yang kuat akan memacu percepatan perakitan tanaman unggul.

Karakteristik dan evaluasi plasma nutfah merupakan salah satu kegiatan rutin plasma nutfah yang dilakukan dalam rangka mengetahui potensi sifat-sifat yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, salah satu strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan produktivitas, kualitas serta daya saing komoditas tanaman adalah melalui pendekatan pemuliaan tanaman. Melalui kegiatan pemuliaan, diharapkan dapat dihasilkan beragam kultivar unggul baru, selain memiliki produktivitas yang tinggi, juga memiliki beberapa karakter lain yang mendukung upaya peningkatan kualitas dan daya saing.

Lebih lanjut, pemuliaan merupakan ilmu terapan yang multidisiplin, dengan menggunakan beragam ilmu lainnya, seperti genetika, sitogenetik, agronomi, botani, fisiologi, patologi, entomologi, genetika molekuler, biokimia, statistika (Gepts and Hancock, 2006), dan bioinformatika.

Sedangkan pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan. Kegiatan pemuliaan tanaman merupakan seni dan ilmu dalam hal memperbaiki mutu genetik keturunan tanaman sehingga diperoleh tanaman yang lebih bermanfaat untuk kesejahteraan manusia.

Menurut Nono Carsono (2008), pemuliaan tanaman sendiri didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan penelitian dan pengembangan genetik tanaman (modifikasi gen ataupun kromosom) untuk merakit kultivar/varietas unggul yang berguna bagi kehidupan manusia. Disinilah Peran dari plasma nutfah sebagai sumber daya genetik yang tersedia beragam akan membantu proses pemuliaan tanaman.

Pemuliaan tanaman, baik classical ataupun modern breeding diperlukan dalam pengumpulan informasi diversitas genetik tanaman. Informasi yang diperoleh ini nantinya dapat dipergunakan untuk pemetaan gen dan marker assisted selection dalam perakitan kultivar baru.

Pada umumnya benih ataupun bibit, sebagai produk akhir dari suatu program pemuliaan tanaman memiliki karakteristik keunggulan tertentu, mempunyai peranan yang vital sebagai penentu batas-batas produktivitas dan dalam menjamin keberhasilan budidaya tanaman.

Proses kegiatan pemuliaan diawali dengan beberapa tahap, yaitu:

  1. Usaha koleksi plasma nutfah sebagai sumber keragaman
  2. Identifikasi dan karakterisasi
  3. Induksi keragaman, misalnya melalui persilangan ataupun dengan transfer gen, yang diikuti dengan
  4. Proses seleksi
  5. Pengujian dan evaluasi
  6. Pelepasan, distribusi dan komersialisasi varietas

Teknik persilangan yang diikuti dengan proses seleksi merupakan teknik yang paling banyak dipakai dalam inovasi perakitan kultivar unggul baru, selanjutnya, diikuti oleh kultivar introduksi, teknik induksi mutasi dan mutasi spontan yang juga menghasilkan beberapa kultivar baru.

Keragaman genetik merupakan sumber informasi penting dalam pemuliaan tanaman. Informasi keragaman genetik diperlukan para pemulia untuk mengembangkan tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Selain itu keragaman genetik juga diperlukan untuk mempertahankan produksi tanaman dan perakitan tanaman yang tahan cekaman biotik maupun abiotik.

Selain itu banyaknya penggunaan varietas baru oleh pertanian komersial menggantikan varietas tradisional mengakibatkan berkurangnya keragaman genetik varietas lokal, sehingga informasi penting seperti produksi hasil berbagai varietas juga menghilang. Peningkatan diversitas genetik merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena dapat meningkatkan kesempatan untuk pengembangan spesies lebih lanjut. Karena itu, untuk mengatasi hilangnya keragaman genetik perlu adanya suatu metode yang tepat agar tidak terjadi kehilangan maupun penurunan keragaman genetik pada tanaman. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan pengumpulan plasma nutfah dan data koleksi.

Mengingat bahwa plasma nutfah adalah salah satu sumber daya alam yang sangat penting, karena tanpa plasma nutfah kita tidak dapat memuliakan tanaman, membentuk kultivar baru/ras baru. Oleh sebab itu, Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya dengan keragaman genetik/sumber daya hayati perlu memikirkan penanganan keragaman genetik tersebut agar tidak punah. Dengan adanya penanganan plasma nutfah diharapkan dapat memberikan dorongan kepada berbagai pihak di daerah untuk mengelola plasma nutfah sebaik-baiknya, serta melakukan koordinasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dalam upaya pelestarian dan pemanfaatannya, baik itu instansi pemerintah, swasta, maupun lembaga masyarakat. Dengan terpeliharanya keragaman genetik maka pada akhirnya akan menunjang program pemuliaan tanaman kearah yang lebih maju.

DAFTAR PUSTAKA
Gepts, P and Hancock, J. 2006. The future of plant breeding. Crop Sci. 46:1630-1634.
Kusumo S., dkk. 2002. Pedoman Pembentukan Komisi Daerah dan Pengelolaan Plasma Nutfah. Komisi Nasional Plasma Nutfah. Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Nono Carsono, 2008. Peran Pemuliaan Tanaman dalam Meningkatkan Produksi Pertanian di Indonesia. Disampaikan dalam Seminar on Agricultural Sciences Mencermati Perjalanan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dalam Kajian terbatas bidang Produksi Tanaman, Pangan, di Tokyo.
Sutoro, 2006. Ringkasan Makalah Disajikan pada Forum Kongres I Komisi Daerah (Komda) Plasma Nutfah Tanggal 31 Juli – 2 Agustus 2006, di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sumber artikel: http://ditjenbun.pertanian.go.id