Apresiasi Pengelolaan SDG di Palangkaraya

Luas lahan gambut di Kalimantan diperkirakan berkisar antara 7,3–9,7 juta hektar atau kira-kira seperempat luas lahan gambut di seluruh daerah tropika. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dibangun di atas lahan gambut. Hutan gambut merupakan ekosistem yang sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan sekitarnya. Gambut memiliki fungsi hidrologi yang sangat penting. Gambut mempunyai sifat mengikat air yang tinggi, mencapai 300-800 kali bobotnya mampu menyerap air hujan yang turun sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah banjir. Sebaliknya karena sifatnya yang irreversible drying (kering tidak dapat balik kembali), maka gambut yang asalnya basah jika dikeringkan kemudian dibasahi lagi tidak akan kembali seperti semula karena tidak dapat menahan air dan hara seperti halnya pada tanah mineral. Pada kondisi ini gambut sangat peka erosi karena mudah terbawa dan hilang oleh aliran air permukaan. Gambut juga berfungsi sebagai cadangan karbon yang dapat mengurangi efek rumah kaca yang dapat menimbulkan pemanasan global, karena dibawah permukaan gambut tersimpan jutaan ton c-organik dalam bentuk bahan organik.

Pemanfaatan gambut dan lahan gambut untuk pertanian dan usaha-usaha yang berkaitan dengan pertanian berkembang cukup pesat. Ratusan ribu hektar lahan gambut dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Lahan rawa menjadi kawasan andalan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Namun belakangan ini belakangan ini banyak menuai protes dari para pemerhati dan penggiat lingkungan baik dari dalam negeri maupuan dari luar negeri. Hal ini tentu didasari oleh kekhawatiran rusaknya lahan gambut sebagai fungsi ekosistem yang kompleks.

Meski memiliki fungsi strategis, alih fungsi lahan gambut masih terus berlangsung, baik untuk lahan pertanian maupun pemukiman serta peruntukkan lainnya. Berbagai macam bentuk alih fungsi menyebabkan terjadinya penurunan (gradasi) fungsi strategis lahan gambut, sehingga meningkatkan luas kawasan lahan kritis. Seperti fungsi hidrologis, yang berperan penting pada sistim biosfir, yaitu sebagai sumber karbon, pengendali sirkulasi CO2 dan berpengrauh besar pada kondisi keseimbangan karbon di atmosfir.

Selama ini sistem pengelolaan hutan rawa gambut umumnya tidak memperhatikan sifat inheren gambut dan melupakan prinsip-prinsip kelestariannya sehingga berpotensi lahan rawa gambut akan mengalami kerusakan dan sulit untuk diperbaharui. Kerusakan gambut seperti yang terjadi di Kalimantan dengan program Gambut sejuta hektar, dimana lahan gambut rusak dan dibiarkan/ditinggalkan oleh pengelolanya.

Terjadinya degradasi fungsi lahan gambut, salah satunya disebabkan kurangnya pemahaman terhadap karakteristik gambut dalam kondisi alami. Pengetahuan tentang keaneka-ragaman karakteristik gambut dalam kondisi masih alami menjadi sangat diperlukan, agar dapat mengelola dengan bijak (benar dan tepat) yaitu bermanfaat secara ekonomi dengan tidak mengesampingkan fungsi lingkungan.

Untuk menjamin kelangsungan pembangunan ekonomi,maka perencanaan penggunaan, pengelolaan, dan penyelamatan sumberdaya alam itu perlu dilakukan dengan lebih cermat, dengan memperhatikan hubungan-hubungan ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat yang merugikan kelangsungan pembangunan secara menyeluruh.

Kegiatan Apresiasi ini diselenggarakan dengan tujuan:

  1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pemangku kepentingan akan pentingnya pelestarian dan pemanfaatan SDG berkelanjutan di lahan gambut dan sekitarnya;
  2. Mengingatkan para pemangku kepentingan tentang pentingnya pengelolaan lahan gambut yang memperhatikan kelestarian SDG tanaman dan hewan; dan
  3. Meningkatkan kesadaran masyarakat pekebun tentang pentingnya menjaga kelestarian keanekaragaman genetik tanaman dan hewan di lingkungannya.

Secara ringkas dapat disampaikan bahwa acara dilaksanakan pada tanggal 15 September 2011 di auditorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah di Jl. George Obos KM 5.5, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Acara sosialisasi ini dihadiri oleh 96 orang peserta dari berbagai instansi di Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagai narasumber acara ini adalah Dr. Machmud Thohari (IPB), Dr. Sugiono Moeljopawiro (Komnas SDG), Dr. Gleni Hasan Huwoyon (Kementerian Kelautan dan Perikanan), Dr. M. Herman (Komnas SDG), Ir. Bambang Setiadi, MS, APU (BALITNAK Bogor), dan Dr. Yusurum Jagau (Komda SDG Kalimantan Tengah. Acara dipandu oleh Prof. Dr. Sulmin (Universitas Palangka Raya), Dr. Machmud Thohari (IPB) dan Dr. Sugiono Moeljopawiro.

Materi apresiasi yang disampaikan sebagai berikut:

  1. Dr. Machmud Thohari (mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian): ”Pembangunan Pertanian untuk Memperkuat Ketahanan Pangan”;
  2. Dr. Machmud Thohari (Pakar Konservasi KEHATI - IPB): ”Lahan gambut dan keanekaragaman hayatinya”;
  3. Dr. Sugiono Moeljopawiro (BB BIOGEN): ”Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian”;
  4. Dr. M. Herman (BB BIOGEN): ”Pemanfaatan bioteknologi untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati di lahan gambut”;
  5. Dr. Gleni Hasan Huwoyon mewakili Dr. Rudhy Gustiano (Kementerian Kelautan dan Perikanan): ”Peningkatan produktivitas Ikan di lahan gambut”;
  6. Ir. Bambang Setiadi, MS, APU (BALITNAK Bogor): ”Pemberdayaan SDG ternak di lahan gambut”.
  7. Komda SDG Kalteng/ BPTP Kalimantan Tengah: ”Pemanfaatan Teknologi Pertanian dalam mengembangkan SDG di lahan gambut” .
  8. Ir. Warsidi (mewakili Kapus PVT-PP): “Pendaftaran Varietas Tanaman dan Kerabat Liarnya untuk Optimalisasi Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Tanaman”.

Narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup yang seyogyanya akan menyampaikan makalah dengan judul: ”Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati di Lahan Gambut”, karena satu dan lain hal berhalangan hadir. Berikut adalah Rumusan Apresiasi Pengelolaan Sumber Daya Genetik di Palangka Raya.Rumusan Apresiasi Pengelolaan Sumber Daya Genetik Potensi lahan Gambut dengan tema “Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Mendukung Ketahanan Pangan” adalah sebagai berikut:

  1. Kementerian Pertanian telah menetapkan program Ketahanan Pangan Nasional dengan target produksi tanaman pangan khususnya padi, pada tahun 2012 sebesar 74,1 juta ton GKG dan surplus sebanyak 10 juta ton pada tahun 2015, jagung dan kedelai dengan target PDB pada tahun 2010 – 2014 dimana sektor pertanian tumbuh menjadi 3,62 - 3,75 persen per tahun;
  2. Untuk mencapai target produksi tersebut diperlukan ketersediaan lahan pertanian baru termasuk pemanfaatan lahan – lahan marjinal seperti lahan gambut, sebagai konpensasi terbatasnya lahan subur di Jawa dan Bali
  3. Meskipun lahan gambut merupakan lahan marginal yang tidak subur, kita tetap harus optimis untuk memanfaatkan keanekaragaman genetik lahan gambut untuk mengembangkan teknologi sekaligus memanfaatkannya bagi ketahanan pangan nasional;
  4. Sebagai langkah awal untuk memanfaatkan SDG di Lahan gambut diperlukan kegiatan inventarisasi tentang :
    a. Buah-buahan, palawija, sayuran, tanaman hias, tanaman obat, ternak, ikan, satwa, tumbuhan hutan, mikroorganisme dan SDG lain yang terdapat di ekosistem lahan gambut perlu dimanfaatkan, baik secara insitu maupun ex situ;
    b. Makanan khas masyarakat berbasis sumber daya lokal ekosistem gambut;
    c. Jenis kerajinan masyarakat lokal yang berbahan baku sumber daya lokal ekosistem lahan gambut;
  5. Inventarisasi sumber daya genetik lahan gambut yang telah dilakukan oleh para peneliti bersama KOMDA SDG Kalimantan Tengah perlu terus dilengkapi dan dikembangkan untuk kemudian didesiminasikan kepada stake holder untuk digunakan sebagai bahan pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya genetik lahan gambut uuntuk mendukung ketahanan pangan nasional;
  6. Sumber daya genetik lahan gambut setelah diidentifikasikan dan telah dikembangkan pemanfaatannya melalui sentuhan teknologi wajib segera didaftarkan ke Kementerian Pertanian (PPVTPP);
  7. Lahan gambut memiliki flora dan fauna yang spesifik dan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat;
  8. Pemanfaatan lahan gambut untuk produksi tanaman pangan merupakan pertanian biaya tinggi sehingga tidak disarankan; dan
  9. Sebaiknya di areal lahan gambut tetap ditanam tanaman hutan gambut yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti kayu ramin, demikian juga dibudidayakan flora dan fauna yang memang sudah beradaptasi dengan lahan gambut ketimbang membudidayakan SDG yang belum beradaptasi dengan lingkungan lahan gambut.

apresiasiSDG Palangkaraya1
Pembukaan Acara Apresiasi Pengelolaan SDG di Kalimantan Tengah yang diselenggarakan di BPTP Palangka Raya pada tanggal 15 September 2011. Acara dihadiri oleh Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.

apresiasiSDG Palangkaraya2
Ketua Komisi Daerah Sumber Daya Genetik Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Yusurum Jagau, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya tengah memberikan sambutan.

apresiasiSDG Palangkaraya3
Presentasi makalah oleh Dr. Sugiono Moeljopawiro (Komnas SDG), dan Ir. Warsidi (Kantor Pusat PVT-PP) dipandu oleh Dr. Yusurum Jagau.

apresiasiSDG Palangkaraya4
Saat presentasi Ir. Bambang Setiadi, M.S. (Komnas SDG), Dr. M. Herman, dan Dr. Gleni Hasan Huwoyon (Balai Riset Perikanan Budidaya) dipandu oleh Dr. Machmud Thohari.