Apresiasi Pengelolaan SDG di Palembang

Indonesia telah menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia sejak 2006 dengan menggeser Malaysia. Total produksi sawit telah menyumbang sekitar 45 persen total produksi sawit dunia. Sedangkan penambahan luas areal kebun sawit baru sejak tahun 2001 hingga 2009 rata-rata sekitar 372.000 ha per tahun atau meningkat rata-rata tujuh persen. Sehingga total luas kebun sawit di Indonesia mencapai 7,508 juta ha (2009). Komposisinya sekitar 3.9 juta ha (52%) diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), sedangkan 3 juta ha (40%) diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan selebihnya 609 ribu ha (8%) adalah milik PBN.

Industri minyak kelapa sawit dan produk turunannya termasuk kategori unggulan dan memiliki daya saing di pasar internasional. Selama ini, pembangunan dan pengembangan industri sawit sudah memberikan kontribusi sangat besar, khususnya untuk membuka kesempatan kerja. Secara langsung, industri sawit melibatkan 2 juta tenaga kerja.

Pengembangan industri kelapa sawit berkelanjutan menghadapi tantangan yang cukup kompleks menyangkut masalah energi, ketersediaan lahan, dan masalah lingkungan. Menyangkut isu tentang perkebunan kelapa sawit yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, khususnya terhadap keanekaragaman hayati, harus dijawab oleh para pengelola industri kelapa sawit dengan tindakan nyata untuk menerapkan pelestarian keanekaragaman hayati secara optimal dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, yaitu sejak tahap hulu sampai hilir.

Selain manfaat dari industri kelapa sawit seperti disebutkan di atas, terdapat sisi lain yaitu tudingan perkebunan kelapa sawit sebagai biang keladi kerusakan lingkungan, diantaranya adalah konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit dan ancaman terhadap kelestarian keanekaragaman hayati. Isu ini telah menambah tekanan yang dilontarkan oleh sekelompok masyarakat dunia terhadap pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang dicurigai telah mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan.

Dalam hal mengatasi kekawatiran menurunnya keanekaragaman hayati, maka tiap unit pengelola perkebunan kelapa sawit hendaknya mengidentifikasi areal-areal di dalam konsesinya yang memiliki nilai konservasi tinggi (NKT/HCV). Areal-areal yang teridentifikasi tersebut selanjutnya dilakukan pengelolaan dan pemantauan sebaik-baiknya.

Keberadaan sumber daya genetik yang ada di dalam kebun kelapa sawit, baik flora maupun fauna perlu mendapatkan perhatian agar kelestariannya dapat terjaga. Demikian pula kawasan bernilai konservasi tinggi (KBKT) yang terdapat dalam perkebunan atau terpengaruh oleh manajemen perkebunan atau pabrik, harus diidentifikasi dan dikelola sehingga dapat terjaga kelestariannya.
Keberadaan kebun kelapa sawit diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, baik secara langsung kepada masyarakat pelaku usaha maupun kepada masyarakat umum yang berada di sekitar areal kebun kelapa sawit. Khususnya dalam hal sumber daya genetik tanaman maupun hewan yang ada di areal kebun kelapa sawit. Di beberapa lokasi dijumpai tingginya minat masyarakat dalam menanam kelapa sawit, sehingga mereka menggunakan seluruh lahan pekarangannya untuk ditanami kelapa sawit. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan kesadaran mereka, walaupun kelapa sawit memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi perlu memperhatikan juga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada.

Pada tahun 2011, Komnas SDG menyelenggarakan apresiasi pengelolaan SDG untuk pemangku kepentingan SDG di Palembang pada hari Jum’at, tanggal 24 Juni 2011 dengan tema “Pelestarian keanekaragaman genetik dalam pengelolaan kebun Kelapa Sawit yang dipadukan dengan usaha tani masyarakat sekitar”. Apresiasi ini diselenggarakan di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sumatera Selatan, Jalan Kolonel H. Barlian KM.6, Palembang. Adapun tujuan Apresiasi ini adalah untuk 1) meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pemangku kepentingan akan pentingnya pelestarian dan pemanfaatan SDG berkelanjutan di areal kebun kelapa sawit dan sekitarnya; 2) meningkatkan kesadaran masyarakat pekebun tentang pentingnya menjaga kelestarian keanekaragaman genetik tanaman dan hewan di lingkungannya; dan 3) untuk mengingatkan para pemangku kepentingan tentang pentingnya pengelolaan kebun kelapa sawit yang memperhatikan kelestarian SDG tanaman dan hewan.

Dalam Apresiasi ini para narasumber dari berbagai lembaga yang menyampaikan presentasi dengan topik sebagai berikut:

  1. Dr. Sugiono Moeljopawiro (Mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian): ”Pemanfaatan Sumber Daya Genetik untuk mendukung Ketahanan Pangan”.
  2. Kementerian Lingkungan Hidup bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim: ”Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati di Perkebunan Kelapa Sawit”.
  3. Dr. Machmud Thohari (Pakar Konservasi KEHATI IPB): ”Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi di areal kebun kelapa sawit”;
  4. Prof. Dr. Subandriyo (Pakar Ternak Ruminansia KEMTAN): ”Integrasi antara ternak dan sawit”;
  5. Dr. Sugiono Moeljopawiro (Pakar Pemuliaan KEMTAN): ”Pemanfaatan Bibit Unggul Sawit untuk Tumpangsari sawit dengan Palawija”;
  6. Dr. M. Herman (Pakar Bioteknologi Pertanian KEMTAN): ”Pemanfaatan bioteknologi untuk kelestarian SDG di areal kebun kelapa sawit;
  7. Dr. Kuswan Hadi – Wakil Ketua Komda SDG Provinsi Sumatera Selatan: ”Pemberdayaan masyarakat di areal sekitar kebun kelapa sawit dalam memanfaatkan SDG”
  8. Dr. Dwi Putro Priadi – Universitas Sriwijaya: ”Pemanfaatan Teknologi Pertanian dalam mengembangkan SDG di areal kebun kelapa sawit”.

Apresiasi ini dihadiri oleh 60 orang peserta yang terdiri dari:

  1. Pengurus Komisi Daerah Sumber Daya Genetik Provinsi Sumatera Selatan;
  2. Instansi terkait dengan pengelolaan SDG di lingkungan Pemda Sumatera Selatan: BAPPEDA, BPLHD, Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan, Perindustrian, Perum Perhutani, Karantina Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, DEKOPIN;
  3. Staf pengajar Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan Perguruan Tinggi di Provinsi Sumatera Selatan (UNITAS, UNSRI, UNIBA, Universitas Tridimarti);
  4. Lembaga Penelitian di Wilayah Sumatera Selatan (BALITBANGDA, BPTP Sumatera Selatan, Balai Penelitian Perkebunan Karet Sembawa);
  5. Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit wilayah Provinsi Sumatera Selatan (PT London Sumatera Regional Sumatera bagian Selatan, PTP Mitra Ogan, PT Russelindo Putra Prima Palembang, PT Sawit Menang Sejahtera, PT Roempun Enam Bersaudara dan PT Tania Selatan).

Akhirnya dari diskusi umum, dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa a) pemanfaatan lahan sawit yang ada perlu dilakukan dengan bijak untuk meningkatkan produksi tanaman pangan; b) perlu dilakukan seleksi genotip sawit dengan produktivitas tinggi yang cocok untuk tumpangsari; c) perlu dilakukan pelestarian hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati, yang merupakan titipan anak cucu kita bukan warisan nenek moyang; d) pada umumnya pembukaan hutan menjadi kebun sawit akan merubah ekologi lingkungan, karena kebun sawit memiliki temperatur yang lebih tinggi dan kelembaban udara yang lebih rendah dibandingkan hutan tropis. Konsentrasi CO2 malam hari di kebun sawit lebih rendah. Permeabilitas lahan sawit lebih rendah dari lahan hutan. Perbedaan ekologi ini akan menimbulkan seleksi alam sehingga akan merubah spesies-spesies indigenous untuk beradaptasi dengan lingkungan ekologi yang baru. Perubahan ekologi lahan sawit ini kemungkinan besar akan mengurangi keragaman genetik spesies indigenous.

apresiasiSDG Palembang1
Dr. Machmud Thohari tengah menyampaikan sambutan dan penjelasan tentang Acara Apresiasi Pengelolaan SDG dihadapan peserta dari Provinsi Sumatera Selatan.

apresiasiSDG Palembang2
Acara Apresiasi Pengelolaan SDG dengan tema Pelestarian Keanekaragaman Genetik dalam Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit yang Dipadukan dengan Usaha Tani Masyarakat Sekitar ini diliput oleh TVRI Palembang dan disiarkan pada Berita Daerah sore harinya.

apresiasiSDG Palembang3
Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup, Ir. Antung Dedy, tengah mempersiapkan diri.

apresiasiSDG Palembang4

Dr. Dwi Putro Priadi, Pengurus Komisi Daerah SDG Provinsi Sumatera Selatan tengah memandu acara dengan narasumber Dr. Sodikin, mantan Atase Pertanian di Roma.