Konggres Ketiga Komisi Daerah Sumber Daya Genetik se-Indonesia

Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk di dalamnya sumber daya genetik (SDG). SDG terdapat di seluruh wilayah Indonesia, yang terdiri atas berbagai spesies flora dan fauna, yang pengelolaannya perlu penguatan kemampuan pada tingkat daerah. Komisi Nasional (Komnas) SDG telah mendorong pembentukan Komisi Daerah (Komda) SDG di berbagai daerah di Indonesia. Hingga tahun 2010 telah berdiri 19 Komda SDG yang terdiri atas 17 Komda SDG tingkat provinsi (Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Riau, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali, dan Sumatera Barat) dan dua Komda tingkat kota dan kabupaten (Tasikmalaya).

Indonesia dengan kebhinekaan masyarakat dan keberagaman budaya memerlukan pengelolaan SDG di masing-masing daerah, sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi dan budaya setempat. SDG yang ada perlu diupayakan pemanfaatannya secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Komda SDG yang telah terbentuk sampai saat ini tampaknya belum semua merealisasikan program pelestarian SDG sesuai dengan yang diharapkan karena adanya berbagai kendala di daerah masing-masing. Hal ini ditunjuk kan oleh tidak adanya kegiatan yang dipublikasikan atau diinformasikan oleh Komda SDG kepada instansi lain, padahal Komda SDG telah melaksanakan dua kali kongres, yaitu di Balikpapan pada tahun 2006 dan di Pekanbaru pada tahun 2008.

Dengan tema “Pelestarian dan Pemanfaatan SDG secara Berkelanjutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim untuk Mencapai Ketahanan Pangan”, Kongres Ketiga Komda SDG dilaksanakan pada 3-5 Agustus 2010 di Surabaya. Peserta Kongres sebanyak 187 orang terdiri atas pengurus Komda SDG, perwakilan daerah yang belum memiliki Komda SDG, pemangku kepentingan swasta maupun pemerintah (pemulia, petani, hobbiest, produsen benih), akademisi dari beberapa perguruan tinggi, LSM yang bergerak dibidang SDG, dan anggota Komnas SDG. Kongres ini diharapkan menjadi media komunikasi, tukar menukar informasi tentang perkembangan pelaksanaan pengelolaan SDG di masing-masing daerah. Selain itu berbagai kebijakan pengelolaan SDG di tingkat nasional maupun internasional dikomunikasikan dalam acara ini.

Pada hari pertama diselenggarakan kunjungan ke Puspa Agro di Taman Sidoarjo. Kongres dibuka oleh Sekretaris Wilayah Daerah Provinsi Jawa Timur mewakili Gubernur dan pada hari kedua dan ketiga dipresentasikan sejumlah makalah yang dilanjutkan dengan diskusi. Materi yang dipresentasikan selama kongres adalah:

A. Kebijakan Pengelolaan SDG Nasional:

  1. Strategi menghadapi perubahan iklim untuk mencapai ketahanan pangan melalui pengelolaan SDG (Dr. Karden Mulya, Badan Litbang Pertanian);
  2. Strategi dan rancang tindak pengelolaan keanekaragaman hayati (Ir. Utami Andayani, MSi, Kementerian Lingkungan Hidup);
  3. Eksplorasi sumber daya genetik di Indonesia (Prof. Dr. Endang Sukara, LIPI);
  4. Kebijakan pengelolaan SDG hutan, khususnya tanaman dan satwa liar (Dr. Harry Santoso, Kementerian Kehutanan);
  5. Strategi optimalisasi SDG ikan dalam menghadapi perubahan iklim global (Dr. Rudhy Gustiano, Kementerian Kelautan dan Perikanan);
  6. Rancang tindak nasional SDG tanaman pangan dan pertanian (Dr. Karden Mulya, Komnas SDG).

B. Aplikasi dan Peran Bioteknologi dalam Pengelolaan SDG serta Konservasi SDG dan Pemanfaatannya:

  1. Plant biotechnology: helping farmers increase yields (Dr. Harvey Glick, PT Monsanto Indonesia);
  2. Bringing plant potential to life for food security: Syngenta meningkatkan produksi pertanian dan mendukung konservasi sumber daya genetik (Dr. Tantono Subagyo, PT Syngenta Indonesia);
  3. Resistensi ayam lokal Indonesia terhadap avian influenza (Dr. Sri Sulandari, LIPI/Komnas SDG);

C. Peraturan Perundang-undangan dalam Pengelolaan SDG:

  1. Perlindungan produk pertanian spesifik lokasi (Dr. Sugiono Moeljopawiro, Tim Ahli Indikasi Geografis, Komnas SDG);
  2. Pelestarian dan Pemanfaatan SDG tanaman serta Pedoman penyusunan perjanjian pengalihan materi SDG tanaman (Dr. M. Herman, Komnas SDG);
  3. Percepatan pendaftaran varietas tanaman lokal (Ir. Hindarwati, MSc, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Kementerian Pertanian);

D. Pengelolaan SDG di beberapa Provinsi di Indonesia:

  1. Pengelolaan SDG di Provinsi DI Yogyakarta;
  2. Pengelolaan SDG di Provinsi Kalimantan Timur;
  3. Pengelolaan SDG di Provinsi Jawa Tengah;
  4. Pengelolaan SDG di Provinsi Riau;
  5. Pengelolaan SDG di Provinsi Provinsi Jawa Timur;
  6. National Information Mechanism System (Dr. Sutoro, BB-Biogen).

Selama pelaksanaan Kongres, juga diselenggarakan pameran pengelolaan SDG di berbagai daerah. Pameran ini diikuti oleh Komda SDG, instansi daerah, dan kelompok masyarakat (kelompok tani dan nelayan). Materi yang di- pamerkan adalah: (1) produk yang berasal dari SDG tanaman dan hewan, berupa produk pangan, kerajinan, sandang, dan obat-obatan termasuk jamu-jamuan; (2) miniatur teknologi pelestarian dan pemanfaatan SDG; (3) poster tentang pelestarian dan pemanfaatan SDG, termasuk kearifan lokal pengelolaan SDG.

Peserta pameran antara lain Kantor Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, BPTP Jawa Timur, BKSDA Jawa Timur, Balai Konservasi Kebun Raya Purwodadi, Universitas Muhammadiyah Malang, Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari Malang, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, UPT Materia Medica Provinsi Jawa Timur, Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, PT Monsanto Indonesia, dan ECO Shrimp Group Sidoarjo.

Rekomendasi Kongres:

  1. Dalam menghadapi perubahan iklim perlu dirakit varietas yang mampu beradaptasi pada kondisi iklim yang telah berubah;
  2. Kekayaan hayati masih melimpah dan banyak dimanfaat- kan negara lain tanpa access benefit sharing, untuk itu perlu UU PPSDG;
  3. Untuk dapat memanfaatkan SDG secara berkelanjutan diperlukan fasilitas pelestarian ex situ dan in situ;
  4. Perlu segera dibangun koordinasi pelestarian dan pemanfaatan SDG antar kementerian terkait dan para pemangku kepentingan lainnya;
  5. Pusat PVT perlu mendorong daerah agar secepatnya mendaftarkan SDG melalui sosialisasi PVT ke daerah;
  6. Perlu dibentuk Satker yang menangani pendaftaran SDG ternak dan ikan.
  7. Perlu segera didaftarkan produk pertanian spesifik lokasi untuk memberikan nilai tambah kepada produk tersebut;
  8. Pengalihan materi SDG yang ada di Indonesia kepada pihak lain telah diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk melindungi dan memberikan keuntungan kepada pemilik SDG;
  9. Dalam kongres keempat yang akan datang perlu lebih banyak dibahas topik SDG hewan;
  10. Secara aklamasi telah disetujui penyelenggaraan Seminar Nasional dan Kongres Keempat Komda SDG oleh Komda Provinsi Sumatera Utara.