Peningkatan Kepedulian dan Kemampuan Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan SDG Pertanian

Kegiatan peningkatan kepedulian dan kemampuan pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya genetik dalam pelaksanaannya dibagi menjadi tiga subkegiatan, yaitu:

  • Apresiasi tentang Revitalisasi Pertanian melalui Peningkatan Pemberdayaan Plasma Nutfah.
    Subkegiatan pertama, merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan para peneliti dalam hal penelitian dan pengelolaan (in situ dan ex situ) plasma nutfah, yang dilaksanakan dalam bentuk apresiasi.
  • Sosialisasi tentang pentingnya pengelolaan plasma nutfah di daerah untuk mendorong pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah.
    Subkegiatan kedua, merupakan upaya untuk meningkatkan kepedulian para pemangku kepentingan plasma nutfah di daerah terhadap pengelolaan plasma nutfah (baik secara in situ dan ex situ), juga dimaksudkan untuk mendorong pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah, melalui pertemuan-pertemuan dan komunikasi.
  • Diskusi Panel tentang pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah untuk tata kehidupan yang harmonis.
    Subkegiatan ketiga, merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi panel bagi para pemangku kepentingan, khususnya civitas academica (staf pengajar & mahasiswa), para pejabat pemerintah daerah serta pemerhati plasma nutfah untuk menggugah kesadaran dan meningkatkan kepedulian tentang pentingnya pengelolaan plasma nutfah.

Subkegiatan apresiasi diselenggarakan pada tanggal 30-31 Juli 2007 di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Riau, diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang berasal dari Balai Penelitian Komoditas, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Balitbangda, Bapedalda, dan wakil dari beberapa Komisi Daerah Plasma Nutfah. Dalam apresiasi ini diberikan pencerahan tentang perplasmanutfahan oleh 9 orang nara sumber, yang dilanjutkan dengan diskusi antara nara sumber dengan para peserta tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan plasma nutfah.
Hasil Apresiasi antara lain:

  1. Untuk lebih meningkatkan pengelolaan plasma nutfah di Indonesia, diharapkan di setiap propinsi dibentuk sebuah Komisi Daerah Plasma Nutfah.
  2. Untuk meningkatkan usaha konservasi, diharapkan setiap propinsi juga membentuk Kebun Raya.
  3. Pemerintah juga dihimbau untuk segera merampungkan Undang-Undang Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang sampai saat ini masih belum dibahas DPR-RI.
  4. Pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik perlu memanfaatkan teknologi yang ada, baik teknologi konvensional maupun non-konvesional seperti bioteknologi agar sumber daya genetik dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.
  5. Kegiatan-kegiatan pengelolaan plasma nutfah termasuk sosialisasinya sangat memerlukan dukungan dana secara berkelanjutan, untuk itu Pemerintah dihimbau untuk memberikan komitmen dengan menjamin penyediaan dana untuk kegiatan tersebut.
  6. Komisi Daerah Plasma Nutfah Propinsi Riau, sesuai dengan kesepakatan akan menjadi tuan rumah penyelenggara Kongres Komisi Daerah Plasma Nutfah II pada tahun 2008.

Peningkatan Kepedulian Pemangku Kepentingan di daerah untuk mendorong pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah, dilaksanakan dalam bentuk pertemuan langsung dan penyampaian materi tentang perplasmanutfahan kepada para pemangku kepentingan dan penentu kebijakan di daerah. Pada tahun 2007 ini telah dilaksanakan pertemuan tersebut di Padang (Sumatera Barat) dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Sampai saat ini di Indonesia sudah terbentuk 15 Komisi Daerah Plasma Nutfah yaitu Propinsi Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jambi, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Propinsi Kalimantan Timur, Propinsi Kalimantan Barat, dan Propinsi Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara. Dalam waktu dekat Propinsi-propinsi Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Propinsi Nusa Tenggara Barat diharapkan akan membentuk KOMDA.
Subkegiatan ketiga yaitu Diskusi Panel tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Plasma Nutfah untuk Tata Kehidupan yang Harmonis telah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2007, di Aula Universitas Swadaya Gunungjati (UNSWAGATI), Cirebon. Acara ini diikuti oleh sekitar 100 orang peserta yang terdiri dari civitas academica Unswagati dan beberapa perguruan tinggi lainnya, para pejabat pemerintah daerah terkait, dan para pemangku kepentingan perplasmanutfahan. Dalam diskusi, para peserta menyampaikan saran dan keinginan mereka agar Komisi Nasional Sumber Daya Genetik membantu mendorong pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah Cirebon, mengingat banyak sumber daya genetik di wilayah ini yang sudah mulai langka, sehingga perlu dilakukan pelestarian. Diharapkan dengan terbentuknya Komisi Daerah Plasma Nutfah di Cirebon akan membantu dalam melakukan pelestarian sumber daya genetik yang langka tersebut.