Apresiasi Revitalisasi Pertanian melalui Peningkatan Pemberdayaan SDG

 

Apresiasi tentang Revitalisasi Pertanian melalui Peningkatan Pemberdayaan Sumber Daya Genetik – sebagai subkegiatan dari Kegiatan Peningkatan Kepedulian dalam Pengelolaan Plasma Nutfah Pertanian (C), telah diselenggarakan di Bertuah Room III, Hotel Pangeran, Jl. Jenderal Sudirman 373, Pekanbaru, Riau pada tanggal 30-31 Juli 2007. Anggota Pelaksana Harian KOMNAS SDG yang hadir dalam acara ini antara lain adalah Dr. Sutrisno; Dr. Machmud Thohari; Prof. Dr. Maharani Hasanah; Dr. Sugiono Moeljopawiro; Dr. M. Herman; Ir. Bambang Setiadi, MS; Drh. Agus Nurhadi, MS; dan Ir. Ida N. Orbani.

 

Pada kesempatan ini, Ketua Komisi Nasional Sumber Daya Genetik Dr. Ahmad Suryana berkenan hadir . Sedangkan pembicara dalam Apresiasi ini antara lain adalah Deputi IV Menteri Liingkungan Hidup, Ir. Utami Andayani, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Dr. Irawati, Dr. A. Razak Purba, Pemulia pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, para pembicara dari Komisi Nasional Sumber Daya Genetik yaitu Prof. Dr. Maharani Hasanah, Dr. Sugiono Moeljopawiro, Dr. M. Herman, Ir. Bambang Setiadi, MS dan Drh. Agus Nurhadi, MS, apresiasi ini dihadiri juga oleh wakil berbagai Instansi dari seluruh Indonesia.

Apresiasi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari instansi seperti:

  1. Kementerian Lingkungan Hidup
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
  3. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor
  4. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan
  5. Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Timur
  6. Dinas Perikanan Provinsi Kalimantan Timur
  7. Dinas Perkebunan Kalimantan Timur
  8. Komisi Daerah Plasma Nutfah Provinsi Kalimantan Timur
  9. Komisi Daerah Plasma Nutfah Provinsi Jawa Timur
  10. Komisi Daerah Plasma Nutfah Sumatera Selatan
  11. Komisi Daerah Plasma Nutfah Provinsi Riau
  12. Komisi Daerah Plasma Nutfah Provinsi Banten
  13. Balai DIKLAT Kehutanan Provinsi Riau
  14. Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Riau
  15. Badan Perencana Pembangunan (BAPEDA) Daerah Istimewa Yogyakarta;
  16. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Riau
  17. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Kepulauan Riau;
  18. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  19. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Lampung
  20. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Sumatera Barat
  21. Badan Pengelola Dampak Lingkungan (BAPEDALDA) Provinsi Sulawesi Selatan
  22. Dinas Perkebunan Provinsi Riau
  23. Dinas Peternakan Provinsi Riau
  24. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau
  25. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Riau
  26. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Sumatera Utara
  27. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara
  28. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta
  29. Fakultas Pertanian Universitas Riau
  30. Fakultas Pertanian dan Peternakan UINSUSKA
  31. Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau
  32. Surat Kabar Umum Cakrawala
  33. Harian Jembatan Informasi
  34. Harian Pijar Riau
  35. Harian Natuna Pos

Selama dua hari apresiasi telah disampaikan 9 buah makalah yaitu:

  1. Implementasi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di era otonomi daerah oleh Ir. Utami Andayani
  2. Strategi pembangunan kebun raya dan pengelolaannya (Dr. Irawati)
  3. Strategi pembangunan koleksi plasma nutfah (tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan) dan pengelolaannya oleh Dr. Sugiono Moeljopawiro
  4. Strategi pembangunan koleksi plasma nutfah kelapa sawit dan pengelolaannya oleh Dr. A. R. Purba
  5. Strategi pembangunan koleksi plasma nutfah (tanaman obat) dan pengelolaannya oleh Prof. (Riset) Dr. Maharani Hasanah
  6. Strategi pembangunan koleksi plasma nutfah ternak dan pengelolaannya oleh Ir. Bambang Setiadi, MS
  7. Strategi pembangunan koleksi plasma nutfah mikroba dan pengelolaannya oleh Drh. Agus Nurhadi, MS.
  8. Aplikasi bioteknologi dalam pemanfaatan plasma nutfah oleh Dr. M. Herman
  9. Jejaring kerja antara KOMDA dan KOMNAS dalam Implementasi pengelolaan plasma nutfah oleh Dr. Machmud Thohari, DEA.

Beberapa butir kesimpulan dari hasil kegiatan ini adalah:

  1. Dengan adanya Undang Undang Nomor 22 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah keberadaan Komisi Daerah Plasma Nutfah perlu ditingkatkan, sehingga tidak hanya 15 tetapi ada di setiap propinsi, sehingga pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah dapat lebih ditingkatkan.
  2. Kebun Raya selain sebagai tempat rekreasi, pendidikan dan penelitian, juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat konservasi walaupun sifatnya terbatas untuk konservasi pada tumbuhan yang ada disitu saja, sehingga tidak dapat melakukan konservasi plasma nutfah secara penuh.
  3. Pemerintah perlu segera menetapkan bagaimana dan siapa yang bertanggung jawab terhadap pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik dengan segera menyelesaikan Undang Undang Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang sampai saat ini masih terkatung-katung tidak ketahuan wujudnya. Karena kalau kita tidak memiliki Undang Undang maka kalau ada yang membawa keluar sumber daya genetik yang ada di Indonesia, kita tidak bisa mengatakan bahwa sumber daya genetik kita dicuri sehingga kita tidak bisa bertindak apa-apa.
  4. Pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik perlu memanfaatkan teknologi yang ada, baik teknologi konvensional maupun non-konvesional seperti bioteknologi agar sumber daya genetik dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.
  5. Kegiatan-kegiatan tersebut diatas termasuk sosialisasinya sangat memerlukan dukungan dana yang tidak sedikit dan berkelanjutan, untuk itu komitmen Pemerintah dalam menyediakan dana merupakan keharusan kalau sumber daya genetik yang merupakan titipan anak cucu akan dijadikan tulang punggung pembangunan pertanian khususnya dan pada gilirannya tulang punggung nasional.
  6. Kongres Komisi Daerah Plasma Nutfah II rencananya akan dilaksanakan pada akhir Juli 2008, Komisi Daerah Plasma Nutfah Propinsi Riau, sesuai dengan kesepakatan hasil Kongres Pertama di Balikpapan pada tahun 2006, akan menjadi tuan rumah penyelenggara. Disarankan agar para utusan daerah mempersiapkan diri, sehingga dalam Kongres Kedua dapat menyampaikan hal-hal yang telah dicapai dan kendala-kendala yang dihadapi sehingga sebagai tindak lanjutnya dapat dilakukan pemecahan kendala tersebut.