Kongres Kedua Komda Plasma Nutfah di Riau

Kongres Komisi Daerah Plasma Nutfah (Komda PN) se-Indonesia diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Kongres pertama diselenggarakan di Kalimantan Timur pada tahun 2006 sedangkan Kongres Kedua dilaksanakan di Pekanbaru, Riau, pada tanggal 8-10 Juni 2008. Kongres dibuka oleh Asisten III Sekretaris Daerah mewakili Gubernur Provinsi Riau, yang dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komda PN Provinsi Riau, dan Komnas SDG.
Pada Kongres Kedua Komda PN disajikan lima makalah utama, yaitu:

  1. Strategi Ketahanan Pangan dengan Pemberdayaan Plasma Nutfah (Kepala Badan Litbang Pertanian)
  2. Strategi dan Rencana Tindak Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (Asisten Deputi Bidang Keanekaragaman Hayati)
  3. Pemanfaatan Varietas Lokal untuk Perbaikan Tanaman (Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman)
  4. Sumber Daya Hayati Tumbuhan Indonesia (Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI)
  5. Perkembangan Komda Plasma Nutfah dan Jejaring Kerjanya (Komnas SDG)

Setelah penyampaian makalah utama dan materi pendukung yang disampaikan oleh wakil dari Komda PN Provinsi Kalimantan Timur, Komda PN Provinsi Sumatera Selatan, Komda PN Provinsi Sumatera Barat, Komda PN Provinsi Jawa Timur, Komda PN Provinsi Jawa Tengah, Komda PN Provinsi Banten, Komda PN Kabupaten Palalawan, dan Komda PN Kabupaten Kampar. Peserta dibagi dalam lima kelompok sidang, yaitu (1) kelompok SDG tanaman, (2) kelompok SDG perkebunan, (3) kelompok SDG ternak, (4) kelompok SDG ikan, dan (5) kelompok SDG hutan dan hidupan liar.
Pada hari ketiga, acara diisi dengan penanaman tanaman langka dan spesifik daerah di Kebun Koleksi Balai Benih Induk-Dinas Tanaman Pangan Padang Marpoyan. Dalam acara ini telah ditanam secara simbolis 48 bibit tanaman oleh wakil-wakil daerah dan Komda. Setelah penanaman pohon, kongres ditutup di Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka.
Hasil rumusan Kongres Kedua
Komda PN sebagai berikut:

  1. Ketahanan pangan penting dalam pemenuhan hak asasi manusia, pembentukan SDM berkualitas, dan ketahanan ekonomi/ nasional. Untuk itu pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan pengaturan, pembinaan pengendalian dan pengawasan, sedangkan masyarakat menyelenggarakan proses produksi dan berhak untuk memperoleh pangan.
  2. Masalah utama dalam pencapaian ketahanan pangan adalah pertumbuhan permintaan pangan
    (cukup, tepat waktu, terjangkau, dan beraneka ragam) jauh lebih tinggi daripada penyediaan pangan. Di sisi lain, Indonesia kaya akan biodiversity yang berpengaruh terhadap kesuksesan pelestarian tanaman pangan, karena itu perlu:
    mengembangkan sistem produksi berbasis sumber daya, kelembagaan, melakukan kerja sama dan penelitian, serta melakukan inventarisasi, database dan konservasi.
  3. Prinsip konservasi keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkat (ekosistem, jenis, dan genetik) dengan tiga pilar (perlindungan, pengawasan, dan pemanfaatan secara lestari) yang diimplementasikan dalam dua program (ex situ dan in situ).
  4. Pentingnya keanekaragaman hayati maka perlu disusun profil keanekaragaman di masingmasing
    kabupaten/kota sehingga klaim daerah lain dapat dihindari.
  5. Salah satu strategi pemerintah untuk pelestarian SDG adalah melalui program IBSAP (mengembangkan konservasi keragaman hayati, membangun dan mengembangkan pranata kelembagaan dan kebijakan nasional maupun daerah serta upaya penegakan hukum, meningkatkan dekonsentrasi dan desentralisasi kewenangan pemerintah dalam pengelolaan keragaman hayati.
  6. Varietas lokal yang telah ada dan dibudidayakan secara turun menurun oleh petani, menjadi milik masyarakat dan dikuasai oleh negara. Pendaftaran varietas lokal dilakukan oleh pemda kabupaten/provinsi/ pusat pada perlindungan varietas tanaman (PVT).
  7. Potensi genetik varietas lokal: mampu mengatasi berbagai cekaman lingkungan, dan memenuhi
    kebutuhan masyarakat dan mendukung keragaman genetik tanaman.
  8. Faktor penyebab erosi genetik meliputi pemuliaan sentralistik, fokus pada beberapa komoditi prioritas dan mengabaikan keragaman genetik spesies non prioritas, pola konsumsi masyarakat yang seragam dan kerusakan lingkungan.
  9. Komda di Indonesia telah berkembang dari 14 menjadi 19 pada tahun 2008, ke depan diharapkan Komda terbentuk di setiap provinsi/kabupaten/kota.
    Untuk itu diharapkan Pemda dan stakeholder lainnya dapat menginisiasi pendirian Komda bagi daerah yang belum ada, sedangkan bagi daerah yang sudah ada diharapkan Pemda mampu memfasilitasi kegiatan pelestarian plasma nuftah antara lain pendirian kebun koleksi dan kegiatan melakukan introduksi, eksplorasi, inventarisasi, konservasi, evaluasi, dan pemanfaatan plasma nutfah serta membangun jejaring kerja antar Komda dan Komnas. Diharapkan semua stakeholder berperan aktif terlaksananya kegiatan tersebut.
    Selain itu perlu mengkampanyekan/ memperkenalkan plasma nuftah pada acara-acara di masing-masing daerah.
  10. Disepakati penggunaan nama Komda Plasma Nuftah menjadi Komda Sumber Daya Genetik. Lebih lanjut Kongres Nasional Komda Sumber Daya Genetik ke III akan dilaksanakan di Jawa Timur (tahun 2010).
  11. Kegiatan seminar mengenai hasil kegiatan dan penelitian oleh Komda SDG diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Masing-masing Komda diharapkan dapat menganggarkan biaya untuk peserta dan pelaksanaan kegiatan tersebut.