Sejarah pembentukan
Visi dan misi
Program kerja dan kepengurusan
Agenda kegiatan
Gallery kegiatan
Berita dan artikel
Glossary istilah
Daftar deskriptor standar
Publikasi
Database plasma nutfah
Forum diskusi
Link
Buku tamu
Polling pendapat
Kontak kami
Webmaster
Klik untuk memulai pencarian
 

Diperkirakan sekitar 30 000 tumbuhan ditemukan di dalam hutan hujan tropika, dan sekitar 1 260 spesies di antaranya berkhasiat sebagai obat. Baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies saja yang telah di budidayakan secara intensif (Supriadi, 2001).
Menurut Ong (2000) sudah sejak lama bangsa Indonesia mengenal khasiat berbagai ragam jenis tanaman sebagai sarana perawatan kesehatan, pengobatan serta untuk mempercantik diri yang selama ini dikenal sebagai jamu. Dikalangan internasional, jamu dikenal dengan istilah Herbs yang berasal dari bahasa latin Herba yang berarti rumput, tangkai, tangkai hijau yang lunak dan kecil dan agak berdaun.
Di Amerika Serikat menurut Pramono (2001), dari 45 macam obat penting berasal dari tumbuhan obat tropika, 14 spesies barasal dari Indonesia diantaranya obat anti kanker vinblastin dan vincristine yang berasal dari tapak dara (Catharanthus roseus) dan obat hipertensi reserpine yang berasal dari puleai pandak (Rauvolfia serpentina).
Contoh dari tanaman obat yang berkhasiat untuk perawatan (promotif) yang sejak dulu sudah dipergunakan adalah:

  1. Daun katuk (Sauropus androgynus) yang mengandung protein, dan mineral serta berguna untuk memperlancar ASI.
  2. Daun Urang-aring (Ecliptae folium) yang mengandung alkaloid antara lain yang berguna untuk perawatan rambut.
  3. Daun beluntas (Pluceae indicae folium) yang mengandung minyak atsiri dan berguna untuk menghilangkan bau badan atau keringat tidak sedap.
    Sedangkan contoh tanaman obat yang berkhasiat untuk pengobatan (kuratif) adalah:
    1. Kulit batang kina (Cinchonae cortex) yang mengandung alkaloid kinina, kidinina, sinkonina dan lain-lain berguna untuk obat malaria.
    2. Akar pulai pandak (Rauvolfia radix) yang mengandung alkaloid reserpin dan berguna untuk penurun tekanan darah tinggi.
    3. Umbi bawang putih (Allii sativi bulbus) yang mengandung minyak atsiri yang berguna untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan penurun tekanan darah tinggi.

Keanekaragaman didalam jenis tanaman obat diketahui sangat sempit Sebagai contoh Alstonia scholaris (L.) R. Br. yang dikenal dengan nama pulai, variasinya di alam sangat kecil tetapi kerabat dekatnya banyak dan sering dikacaukan dan sengaja dijadikan surogat (pemalsu) (Rifai, Rugayah dan Widjaja, 1992). Pulai tersebut dijumpai di dalam hutan tropika Indonesia dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri jamu. Penyebaran tanaman tersebut adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian jaya, Maluku, Nusa Tenggara dan Jawa. Belum dilakukan karakterisasi pada jenis pulai yang berada di beberapa daerah penyebarannya, sehingga tidak diketahui apakah dari beberapa daerah tersebut ada yang menunjukkan perbedaan dalam morfologi atau kandungan kimianya.
Dari penelitian yang telah dilakukan Sirait (2001) menunjukan bahwa 80% tanaman-tanaman obat untuk jamu didominasi oleh famili Zingiberaceae menyusul Piperaceae dan Umbeliferae. Ketiga famili tersebut mempunyai aroma, warna bunga, umbi yang jelas dan mudah ditanam.
Dalam UU No 12 tahun 1992, pasal 1 butir 2, plasma nutfah diartikan sebagai substansi yang terdapat dalam kelompok mahluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru. Sedangkan menurut Sumarno (2002) plasma nutfah termasuk di dalam pengertian yang paling sempit, yaitu keanekaragam di dalam jenis. Sebagai contoh plasma nutfah pisang adalah pisang tanduk, pisang lampung, pisang ambon, sapi bali, sapi madura, Itik alabio, itik mojokerto, domba garut, domba ekor tipis, ikan mas si Nyonya dan ikan mas Majalaya. Plasma nutfah tanaman obat misalnya tanaman jahe adalah jahe gajah (Cimanggu 1, Cimanggu 2) , jahe emprit/kapur, jahe merah, sedangkan contoh untuk tanaman katuk adalah Bastar, Paris, Kebo dan Zanzibar.

Tabel 1. Beberapa klon/nomor harapan serta varietas tanaman Obat yang telah dilepas

KLASIFIKASI KONDISI TANAMAN OBAT

Klasifikasi kondisi tanaman obat akibat pengambilan bahan baku tanpa dilakukan pelestarian plasma nutfahnya diklasifikasikan menjadi 5 kelompok (Muharso, 2000):

  1. Punah (extinct), jenis tanaman yang dianggap telah musnah/hilang sama sekali dari permukaan bumi.
  2. Genting (endangered), jenis tanaman yang terancam punah
  3. Rawan (vulnerable), jenis tanaman yang terdapat dalam jumlah sedikit dan eksploitasinya terus berjalan sehingga perlu dilindungi.
  4. Jarang (rare) jenis tanaman yang populasinya besar tetapi tersebar secara lokal, atau daerah penyebarannya luas tetapi tidak sering dijumpai serta mengalami erosi berat.
  5. Terkikis (indeterminate), jenis tanaman yang jelas mengalami proses kelangkaan tetapi informasi keadaan sebenarnya belum mencukupi untuk masuk dalam katagori tersebut diatas.
    Menurut Rifai et al. (1992) yang termasuk katagori genting adalah purwoceng (Pimpinella pruatjan), katagori rawan diwakili oleh Ki koneng (Arcangelisia flava) dan pulai (Alstonia scholaris) termasuk katagori jarang.

PERMASALAHAN

Dalam pemanfaatannya bahan baku tumbuhan obat masih tergantung pada tumbuhan yang ada di hutan alam atau berasal dari pertanaman rakyat yang diusahakan secara tradisional. Kegiatan eksploitasi tanaman liar secara berlebihan melebihi kemampuan regenerasi dari tanaman dan tanpa disertai usaha budidaya, akan mengganggu kelestarian tanaman tersebut (Muharso, 2000). Akibatnya banyak tanaman yang terancam punah atau paling tidak sudah sulit dijumpai di alam Indonesia, seperti purwoceng (Pimpinella pruacan), kayu angin (Usnea misaminensis), pulasari (Alyxia reiwardii), bidara laut (Strychnos ligustrina) dan lain-lain (Muharso, 2000). Dari informasi langsung dari pemilik pabrik jamu cap bintang timbangan di Sukabumi diketahui bahwa tumbuhan obat yang berada di kaki Gunung Salak yang dipakai sebagai ramuan jamunya seperti pulasari, ki rapet, ki rame, sambiloto (dari Jawa Tengah), ki urat, tempuyung, kumis kucing, ki sereh (diambil akarnya), kulit sintok, kembang puspa sebagian kondisinya sudah sangat kritis terutama dari jenis yang merambat sehingga mulai tahun 2002 bahan baku kebutuhan pabrik jamu cap bintang timbangan diambil dari Lampung. Berdasarkan hasil penelitian Mujenah, 1993 (dalam Nurhadi et al, 2000) di kabupaten Jember dan Banyuwangi Propinsi Jawa Timur dimana Taman Nasional Meru Betiri berada yang luasannya sekitar 58 000 ha ditemukan tidak kurang dari 350 jenis tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Sebagian diantaranya telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat secara turun menurun. Ada 4 jenis tumbuhan obat yang dipungut masyarakat dalam jumlah besar yaitu kemukus (Piper cubeba) sebantak 556 kg/musim, kedawung (Parkia roxburghii) sebanyak 2074 kg/musim, joho lawe (Terminalia balerica) sebanyak 1930 kg/musim dan Pakem (Pangium edule) sebanyak 3021 kg/musim. Jenis-jenis lain seperti padmosari (Rafflesia zolligeriane), doro putih (Strychnos lingustriana), krangean (Litsea cubeba), keningar (Cinnamomum cassia) dipanen sesuai permintaan pasar.
Permasalahan pelestarian Tumbuhan Obat Indonesia menurut Zuhud et al. (2001) disebabkan karena a) Kerusakan habitat, b) Punahnya budaya dan pengetahuan tradisional penduduk asli/lokal di dalam atau sekitar hutan, c) Pemanenan tumbuhan obat yang berlebihan. Adanya eksploitasi terhadap kayu yang sekaligus pohon tersebut yang juga merupakan spesies tumbuhan obat juga merupakan ancaman terhadap kelestarian tumbuhan obatnya. Sebagian besar areal konsesi HPH (areal eksploitasi kayu) yang sudah diusahakan saat ini terdapat di tipe hutan hujan dataran rendah dimana 44% spesies tumbuhan obat penyebarannya terdapat di formasi hutan ini dan di areal hutan konversi (areal hutan yang bisa dirubah menjadi areal non-hutan seperti untuk perluasan lahan pertanian/ perkebunan, areal transmigrasi dan areal industri dll). Ancaman kelestarian plasma nutfah tumbuhan obat hutan tropika saat ini menurut Zuhud et al. (2001) sangat serius karena formasi hutan tropika dataran rendah selama 2 dekade belakangan ini mengalami kerusakan yang sangat parah, akibat eksploitasi kayu, perambahan hutan, kebakaran hutan, konversi hutan, perladangan berpindah dan lain-lain. d) Ketidak seimbangan penawaran dan permintaan tumbuhan obat, e) Lambatnya pengembangan budidaya tumbuhan obat Indonesia, f) Rendahnya harga tumbuhan obat, g) Kurangnya kebijakan dan peraturan perundangan pelestarian, h) Kelembagaan pelestarian tumbuhan obat.

Tabel 2. Perusakan habitat di beberapa propinsi di Indonesia

PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH

Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi yang merupakan pelacakan atau penjelajahan, mencari, mengumpulkan dan meneliti jenis plasma nutfah tertentu dilakukan untuk mengamankan dari kepunahan ( Kusumo et al, 2002).
Pendekatan awal dalam kegiatan eksplorasi pada umumnya dimulai dengan penelitian etnobotani dan etnofarmakologi sebagai upaya untuk menginventarisasi jenis tumbuhan obat dan manfaat penggunaannya (Anggadiredja dan Rifai, 2000). Kegiatan eksplorasi sudah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian dan industri maupaun perorangan namun hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sehingga kita tidak pernah memiliki literatur yang utuh tentang tumbuhan obat dan ramuannya serta cara pengobatannya. Terlebih lagi kegiatan penelitian ini sering tidak dilengkapi oleh pendukung herbarium untuk setiap jenis tumbuhan.
Eksplorasi plasma nutfah tanaman obat telah dilakukan Balittro di Taman Nasional Meru Betiri, G. Ceremai dan G. Cakrabuana Jawa Barat dan hasil eksplorasi ditanam di kebun koleksi sebagai konservasi ex situ (Hasnam et al, 2000).

Konservasi

Kegiatan penelitian konservasi tumbuhan obat adalah kegiatan penelitian di hulu yang amat sangat terbatas dan kurang mendapat perhatian. Tiga lembaga yaitu Hostus Medicus Tawangmangu, Balai apenelitian Tanaman Rempah dan Obat serta Kebun Raya dapat menjadi garda terdepan dalam kegiatan penyediaan plasma nutfah secara ex-situ untuk menunjang pelestarian secara in-situ yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan.
Konservasi in situ pada sejumlah Taman Nasional, daerah yang dilindungi telah dilakukan seperti di Meru Betiri (Jawa Timur), Gn. Leuser di Aceh, Gn. Halimun dan Gn. Gede Pangrango di Jawa Barat, Kerinci- Seblat in Jambi, Gn Palung (Kalimantan), Gn. Rinjani (Nusa Tenggara), Rawa Aopa, Dumoga Bone (Sulawesi), Manusela (Maluku) dan Gn. Lorentz di Irian Jaya (Bermawie dan Sutisna, 1999). Menurut Rahardjo et al. (2002) tanaman obat dengan status langka seperti kedawung (Parkia roxburghii G. Donn.), Padmosari (Raffesia zollingeriana Kds), Kayu garu (Aquillari malaccanensis Lamk.). Kayu angin (Usnea barbata Fries) dan Pulai pandak (Raufolvia serpentina) dikonservasi di kawasan penyangga Taman Nasional Meru Betiri.
Idealnya semua tumbuhan obat harus dilestarikan, meliputi semua populasi di alam (in situ) dan dilakukan penangkaran diluar habitatnya (ex situ). Menurut Zuhud et al. (2001) tujuan pelestarian ex situ adalah a) untuk diintroduksi kembali ke habitat aslinya, b) untuk kegiatan pemuliaan dan c) untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Prioritas pelestarian ex situ diberikan untuk spesies yang habitatnya telah rusak atau tidak dapat diamankan lagi, pelestarian ex situ juga harus digunakan untuk meningkatkan spesies lokal yang hampir punah menjadi tersedia kembali di alam. Di beberapa negara hal ini menjadi perhatian untuk melestarikan semua spesies tumbuhan obat secara ex situ.
Koleksi tanaman obat secara ex situ menurut Sudiarto et al., (2001) yang dimiliki oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat adalah:
Di dataran tinggi :
1. IP Manoko : 395 (varietas dan jenis)
2. IP Gunung Putri : 136 (varietas dan jenis)
2 jenis tanaman introduksi
Di dataran rendah : 1. IP Cikampek : 60 (varietas dan jenis)
2. IP Sukamulya : 226 (varietas dan jenis)
3. IP Cimanggu : 291 (varietas dan jenis), 6 jenis asal Sagedepaha

Konservasi in vitro tanaman obat telah dilakukan pada tanaman pegagan, inggu, kumis kucing, meniran, kencur, temu putih, bangle, pulai pandak, purwoceng, temu giring, tapak dara, daun encok, echinaceae, lidah buaya, temu kunci, temu lawak, kunyit, jahe, canola dan murbei. Penyimpanan pule pandak secara in vitro telah dilakukan oleh Gati dan Mariska (2001) dengan pertumbuhan minimal, enkapsulasi atau dengan cara pembekuan dengan nitrogen cair.
Menurut Sastrapradja (2000) bahwa kecenderungan baru untuk melestarikan keanekaragaman hayati pertanian secara lekat lahan memang belum dimulai di Indonesia. Untuk pelestarian tumbuhan obat, agaknya kecenderungan ini perlu dikaji manfaatnya. Berbicara mengenai pelestarian keanekaragaman hayati, usaha ini di negara – negara yang sedang berkembang seperti Indonesia memang menjumpai banyak tantangan. Tanpa mengkaitkannya dengan pembangunan nasional secara menyeluruh, pemerintah akan menganggap usaha pelestarian itu sebagai beban, bukan sebagi peluang.
Namun menurut Nurhadi et al. (2000) konservasi tumbuhan obat harus dilakukan bersama- sama dengan masyarakat, dalam arti kegiatan budidaya tumbuhan obat yang berasal dari dalam hutan tersebut dilakukan oleh masyarakat yang selama ini memanfaatkannya.
Menurut Sastrapradja (2000) yang sebenarnya harus kita kembangkan segera adalah teknologi – teknologi yang dapat meningkatkan nilai tambah sumber bahan baku obat tersebut. Dari pengalaman negara – negara lain kita belajar bahwa untuk menemukan sebuah senyawa kimia yang nantinya dapat dikembangkan menjadi obat, memerlukan waktu yang lama dan dana yang tidak sedikit jumlahnya.

PEMANFAATAN TANAMAN OBAT

Potensi sumbangan plasma nutfah untuk dunia pengobatan mungkin seperti handeuleum atau daun ungu (Graptophyllum pictum) yang digunakan untuk mengatasi masalah ambeien. Namun penelitian untuk mendukung kebenaran ilmiahnya belum secara mendasar dilakukan (Anggadiredja dan Rifai, 2000).
Dalam usaha pemanfaatan tumbuhan obat perlu diperhatikan kelestarian dari jenis tumbuhan tersebut agar tidak punah. Upaya peningkatan budidaya selain melestarikan sumber bahan OT/OAI diharapkan dapat mengembangkan produksi tumbuhan obat dalam negeri, dan selanjutnya dapat diekspor sehingga memberikan nilai tambah dalam pertumbuhan ekonomi (Muharso, 2000).
Komoditas Tanaman Obat unggulan versi Badan POM (2001) telah ditetapkan seperti sambilito, pegagan, jati belanda, tempuyung, temulawak, daun ungu, cabe jawa, sanrego, pasak bumi, pace, daun jinten, kencur, dan teknologi budidayanya untuk sebagian komoditas sudah tersedia.
Beberapa contoh obat tradisional dikemukakan oleh Ma’at (2001) yang berasal dari tanaman obat asli Indonesia yang dikemukakan dengan menggunakan bahasa ilmu kedokteran moderen agar dapat dipahami oleh kalangan dokter yang nantinya diharapkan menjadikan cikal bakal suatu Obat tradisional – Untuk Pelayanan Kesehatan Formal:
1. Obat Tradisional sebagai imunomodulator: Phyllanthus niruri L.
2. Obat Tradisional untuk pengobatan Hiperkolesterolemia dan hipertrigli seridemia : Sechium edule
3. Obat Tradisional untuk pengobatan kanker: Fam cruciferae, Solanum nigrum, Catharanthus roseus/Vinca rosea, Aloe vera L, Allium sativum L., Curcuma longa L., Nigella sativa L., Morinda citrifolia L., Andrographis paniculata Ness., Gynura procumbens Merr.
4. Obat alami sebagai terapi imun dan terapi adjuvan pada infeksi HIV/AIDS.
5. Obat Tradisional untuk pengobatan hiperurisemia dan artritis Gout.
6. Obat bahan alam untuk pengobatan hemoroid
Menurut Sinambela (2002) keanekaragaman plasma nutfah tumbuhan obat Indonesia sebagai sumber bahan obat selayaknya diteliti secara lebih komprehensif dengan pemilihan strategi pendekatan bioprospecting yang tepat. Bioprospecting mencakup aktivitas berbagai disiplin ilmu terutama kimia bahan alam, farmakognosi, agrokimia, botani dan ekonomi. Penelitian bioprospecting laboratoris bertitik tolak dari etnofarmakologi dan etnobotani.
Disamping pemanfaatan plasma nutfah tanaman obat untuk industri jamu juga dapat dimanfaatkan untuk kosmetika seperti lidah buaya (menghilangkan noda hitam, menanggulangi kerut, menstimulasi dan mengganti sel kulit mati dengan sel baru), ketumbar, lavender dan lain-lain (Wardana, 2002).
Di Taman Nasional Gunung Halimun terdapat sekitar 48 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Diantara jenis tiumbuhan obat tersebut, ada yang berkhasiat sebagai obat tonik, aprodisiak, batuk, asma, jamu sehabis melahirkan, masuk angin, ramuan jamu godok, penyedap, obat penyakit sipilis. Pemanfaatan tumbuhan obat tersebut masih terbatas untuk keperluan keluarga, belum dikomersiilkan (Sukarman et al., 2002).

PERLINDUNGAN TERHADAP TANAMAN OBAT

Sudah sejak lama kurang lebih 50 tahun yang lalu Indonesia menggunakan tanaman obat sebagai obat, apalagi setelah terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia, tanaman obat dipakai sebagai pengobatan alternatif/pilihan bagi ekonomi lemah. Tanaman obat ini sedang menjadi isu di negara -negara berkembang dan bagaimana memberikan perlindungan hukum terhadap tanaman obat, negara-negara berkembang perlu untuk mempelajarinya (Yunus, 2000).
Pengaturan pemanenan tumbuhan obat dari alam, larangan pemungutan spesies tumbuhan obat yang terancam punah perlu dilakukan, demikian juga perlu dilakukan pengontrolan terhadap perdagangan tumbuhan obat dan produk-produknya (Zuhud et al., 2001).
Kita harus berupaya agar paten handeuleum misalnya tidak dilakukan di USA atau Jepang seperti yang dialami tanaman mimba/neem (Azadirachta indica) yang sebenarnya sudah digunakan lebih dari 400 tahun oleh orang India (Anggadiredja dan Rifai, 2000).

KEBIJAKAN OPERASIONAL

Untuk pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia perlu ditempuh kebijakan operasional dan langkah-langkah sebagai berikut (Muharso, 2000):

  1. Eksploitasi dan pelestarian Sumber Daya Alam
    Kebijakan operasional:
    - Eksploitasi tumbuhan liar di hutan alam untuk bahan baku OT/OAI dibatasi sebelum budidaya jenis tumbuhan tersebut terlaksana dengan baik
    - Segera dilakukan langkah budidaya terhadap jenis tumbuhan yang banyak diperlukan untuk bahan baku OT/OAI.
    Langkah –langkah:
    - Melaksanakan inventarisasi jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan atau tumbuhan liar.
    - Melakukan penanaman kembali jenis tumbuhan obat dalam kondisi genting atau terancam punah.
  2. Penelitian, budidaya tumbuhan obat, penanganan pasca panen, standarisasi serta pengembangan pasar.

PUSTAKA

Anggadiredja, J. dan M.A. Rifai. 2000. Research on Medicinal Plant (An overview). Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Arifin, S., M. Ghulamahdi dan L.K. Darusman, 2001. Standardisasi teknologi penyediaan bahan aneka tanaman/tanaman obat. Seminar sehari synchronisasi pengadaan benih sumber Tanaman hias dan Aneka tanaman. Jakarta , 26 Juli 2001. 13 hal.
Bermawie, N and U. Sutisna. 1999. Conservation and Productivity Improvement of Medicinal Plants in Indonesia. The second Meeting of The Asean Experts Group on Herbal and Medicinal Plants. Cisarua, Bogor, 13-15 July 1999.
Ditjen POM., 2001. Kebijakan nasional pengembangan obat tradisional. Departemen Kesehatan RI. Jakarta . 20 hal.
Hasanah, M. 2001. Perbanyakan benih sumber tanaman obat. Seminar sehari synchronisasi pengadaan benih sumber Tanaman hias dan Aneka tanaman. Jakarta , 26 Juli 2001. 13 hal.
Hasnam, E.A. Hadad., N. Bermawi., Sudjindro, H. Novarianto (2000). Konservasi Plasma Nutfah Tanaman Industri. Puslitbangtri. Makalah disampaikan pada pertemuan Komisi Nasional Plasma Nutfah di Bogor tanggal 22-23 Nopember 2000.
Lestari, E. G. dan I. Mariska., 2001. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Rauvolfia serpentina secara in vitro. Buletin Plasma Nutfah 7(1): 40 – 45.
Ma’at S., 2001. Manfaat Tanaman Obat Asli Indonesia Bagi Kesehatan. Lokakarya Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Kerjasama Dept. Pertanian dan IPB
Sinambela, J.M. 2002. Pemanfaatan Plasma Nutfah dalam Industri Obat-obatan. Buletin Plasma Nutfah 8(2): 78-83. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Junus, E. 2000. HaKI dalam Tanaman Obat. Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Kusumo, S., M. Hasanah., S. Moeljopawiro, M. Thohari., Subandriyo., A. Hardjamulia, A. Nurhadi dan H. Kasim., 2002. Pedoman Pembentukan Komisi Daerah dan Pengelolaan Plasma Nutfah. Komisi Nasional Plasma Nutfah. Badan Litbang Pertanian. Dept. Pertanian.
Muharso, 2000. Kebijakan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Indonesia. Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Nurhadi, Rusdi, Warno. 2000. Pemanfaatan dan Pengembangan Tumbuhan Obat Hutan. Kasus Masyarakat Meru Betiri. Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Sumarno, 2002. Penggunaan bioteknologi dalam pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah tumbuhan untuk perakitan varietas unggul. Seminar Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah. Kerjasama Pusat Penelitian Bioteknologi IPB dan KNPN. Deptan.
Ong, C. 2000. Prospek Industri Obat Asli Indonesia. Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knwledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Pramono, E. 2001. Pengembangan Agromedisin Indonesia: Pemanfaatan Sumberdaya Alam Indonesia menjadi Komoditas Farmasi Unggulan.
Rahardjo, M., Sudiarto, S. M. D., Sukarman dan O. Rostiana. 2002. Konservasi dan Pemanfaatan Tanaman Obat Langka dan Potensial di Kawasan Penyangga Taman Nasional Meru Betiri. Bull. Plasma Nutfah. Badan Litbang Pert. Dept. Pert. 8(1): 22- 28.
Rahayu, S. dan N. Sunarlim. 2002. Konservasi Tumbuhan Obat Langka Purwoceng melalui Pertumbuhan Minimal. Bull. Plasama Nutfah. Badan Litbang Pert. Dept. Pert. 8(1): 29 – 33.
Rifai, M. A., Rugayah, E.A. Widjaja. 1992. Floribunda. Tiga Puluh Tumbuhan Obat Langka Indonesia. Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia. Sisipan Floribunda 2: 1-28.
Sastrapradja, S. D. 2000. Pengelolaan Sumber Hayati Indonesia. Kasus Khusus Tumbuhan Obat. . Makalah seminar “Tumbuhan Obat di Indonesia”, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Sirait, M., 2001. Pengembangan Obat Bahan Alam. Seminar Perhimpunan Peneliti Obat Bahan Alam bekerja sama dengan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
Sudiarto, Hobir, M. Rahardjo, Rosita SMD dan H. Nurhayati. 2001. Dukungan Teknologi Budidaya untuk Pengembangan Industri Obat Tradisional. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Agribisnis Berbasis Biofarmaka tanggal 13 –15 November 2001 di Jakarta. 21 hal.
Supriadi dkk., 2001. Tumbuhan obat Indonesia. Penggunaan dan Khasiatnya. Edisi pertama Agustus 2001. PPO: 10.2.4. Pustaka Populer Obor. 145 hal.
Sukarman, M. Rahardjo, O. Rostiana, S.M.D. Rosita dan Sudiarto.2002. Inventarisasi Tumbuhan Obat di Taman Nasional Gunung Halimun. Bull. Plasma Nutfah. Badan Litbang Pert. Dept Pert. 8(1): 16-21.
Wardana, H. D. 2002. Pemanfaatan Plasma Nutfah dalam Industri Jamu dan Kosmetika Alami. Buletin Plasma Nutfah. Badan Litbang Pertanian. Dept Pert. 8(2): 84-89.
Zuhud, E. A.M, Azis, S., M. Ghulamahdi, N. Andarwulan, L.K. Darusman. 2001. Dukungan teknologi pengembangan obat asli Indonesia dari segi budidaya, pelestarian dan pasca panen. Lokakarya Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Hayati mendukung Agribisnis Tanaman Obat.

>> Kembali ke halaman arsip artikel

 
Ke halaman utamaProfil KNPNGallery kegiatan KNPNBerita & artikelGlossary istilahPublikasiJejaring kerjaForum diskusiLink ke website terkaitKontak kamiTim webmaster


( Terakhir diperbaharui pada 04.06.2012 10:49 )